Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Mencuri Raden Saleh: Blockbuster Lokal yang Akhirnya Sukses Mencuri Hati

Muhammad Sabilurrosyad oleh Muhammad Sabilurrosyad
26 Agustus 2022
A A
Mencuri Raden Saleh Blockbuster Lokal yang Akhirnya Sukses Mencuri Hati Terminal Mojok

Mencuri Raden Saleh Blockbuster Lokal yang Akhirnya Sukses Mencuri Hati (Instagram Visinemaid)

Share on FacebookShare on Twitter

Blockbuster adalah suatu istilah dalam perfilman yang merujuk pada film-film dengan anggaran besar untuk pasar yang luas. Di Indonesia, film yang masuk kategori blockbuster tidaklah banyak karena berbagai alasan, entah karena memang tidak ada modal atau takut bertaruh tidak dipercaya pasar. Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir, industri film lokal mulai berani bertaruh. Sayangnya, tidak banyak yang sukses. Kebanyakan masih berlindung di balik kata “buatan karya anak bangsa”. Tidak salah, namun film blockbuster yang memang layak dan solid adalah yang hal yang penonton harapkan. Dan akhirnya, Mencuri Raden Saleh menjawabnya, menjadi satu dari sedikitnya film blockbuster terbaik kita.

Saya sendiri sebenarnya sudah lama mendengar kabar niatan Angga Dwimas Sasongko untuk membuat film berjudul Mencuri Raden Saleh. Saat itu, saya sangat tertarik dengan penamaan judulnya. Tidak salah lagi, ini pasti film heist. Hal yang paling menarik adalah penggunaan kata Raden Saleh. Secara tidak langsung, mengaitkan elemen lukisan, sejarah Indonesia, dan pencurian, membuat saya kegirangan sendiri membayangkan arah film ini.

Tentu saja saya harus mengendalikan ekspektasi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, film blockbuster lokal jarang terasa benar-benar memuaskan, seringnya selalu memunculkan kesan potensial semata. Film blockbuster, yang identik dengan film aksi bombastis, memang masih terasa baru di Indonesia. Halangannya bisa berbagai macam, mulai dari pengemasan aksi yang terkesan masih belajar, masalah teknis yang terkesan terlalu mewah untuk dicapai, hingga seringnya mengabaikan kesolidan cerita.

Melihat rekam jejak Angga ketika ia masih kewalahan menggarap sequence aksi Wiro Sableng dan Ben & Jody, wajar apabila ada keraguan yang meliputi film ini. Namun, rupanya Angga benar-benar berproses, memperbaiki kesalahan, belajar, dan tampaknya benar-benar serius pada proyek kali ini. Grafinya terus menaik, hingga akhirnya, Mencuri Raden Saleh adalah salah satu hasil karya terbaiknya.

Ceritanya berawal dari Piko, seorang pelukis yang menghasilkan uang dari memalsukan lukisan. Dalam mencari uang, ia dibantu temannya, Ucup, yang ahli soal gadget dan IT. Pada akhirnya, mereka bertemu pada suatu misi besar untuk memperoleh uang yang besar, yaitu memalsukan lukisan Raden Saleh yang legendaris, lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro.

Piko memang butuh uang itu. Misi utamanya adalah untuk membebaskan ayahnya yang dipenjara. Selain itu, Piko juga memiliki kekasih, Sarah, pesilat yang bersiap mengarungi PON, yang ternyata memiliki masalah finansial juga

Namun, apes, misi Piko dan Ucup kali ini harus berurusan dengan orang besar. Hal ini membuat situasi Piko, Ucup, dan Sarah jadi terpojok, membuat mereka terpaksa harus menjadi pencuri. Tim pun dibentuk, seiring perjalanan, mereka butuh bantuan orang lain.

Selain Piko sang protagonis, Ucup si jago teknologi, dan Sarah si tukang jotos, menyusul kemudian Gofar si mekanik, Tuktuk si supir, dan Fella sebagai otak. Dalam film heist atau pencurian, komposisi karakter seperti ini tidaklah asing. Memang, Mencuri Raden Saleh masih mengikuti formula film heist pada umumnya. Namun, bukan berarti film ini tidak menarik.

Baca Juga:

3 Rekomendasi Film Indonesia yang Relevan dengan Hiruk Pikuk Negara Saat Ini

Film Jumbo Adalah Anomali, Akankah Jadi Tren Baru Dunia Perfilman Indonesia?

Film ini memiliki ensemble cast yang luar biasa. Untungnya, film ini sangat memperhatikan kesolidan cerita. Naskahnya mau meluangkan waktu untuk membuat penonton kenal dengan para karakter. Masing-masing karakter pada akhirnya berhasil memperlihatkan motivasi dan kemampuannya. Untuk ukuran film yang memiliki waktu yang terbatas, keberhasilan film ini mendalami karakter serta mebangun chemistry di antaranya adalah sesuatu yang perlu diapresiasi. 

Selain itu, keputusan pemilihan cast menggunakan bintang-bintang muda inipun menarik. Dengan menyoroti pelaku pencurian yang memang masih muda belum pengalaman alias amatir, kesan wajah-wajah ingusan itu benar-benar terpakai dalam cerita. Karenanya, berbagai kegagalan dalam mengeksekusi rencana pencurian jadi terasa menarik. Sama seperti kebanyakan film pencurian, film ini pun dipenuhi berbagai twist, twist yang menyenangkan.

Nama-nama seperti Iqbal, Angga, Umay, ataupun Rachel, yang selama ini memang sudah dielu-elukan, kini terasa naik level untuk memerankan karakter-karakter yang berbeda ketimbang peran-peran sebelumnya.

Hal menarik ada pada elemen lukisan Raden Saleh itu sendiri, sesuatu yang memang seharusnya menjadi daya jual film ini. Secara storytelling, film ini telah melakukan tugasnya dengan baik, termasuk bagaimana film ini menjadikan objek lukisan terasa berharga. Naskahnya dengan mulus menyisipkan berbagai informasi terkait lukisan tersebut, baik itu latar sejarahnya, pemaknaannya, simbolnya, hingga analisa melalui sudut pandang pelukis ataupun seni.

Kalau mau dibilang edukasi, film ini berhasil mengedukasi penontonnya mengenai betapa berharganya lukisan Raden Saleh. Tentunya, tidak lupa berhasil dikemas dengan sangat menghibur melalui berbagai aksi pencurian. 

Secara teknis, Mencuri Raden Saleh sangat memuaskan. Selain cerita, teknis adalah momok lain film-film blockbuster di Indonesia. Secara mengejutkan, Angga berhasil mengatasi berbagai masalah aksi yang sebelumnya selalu jadi sandungan. Kali ini, Angga termasuk benar-benar berhasil mengeksekusi adegan gulat. Diakali dengan porsinya yang terbatas, tapi memang seperlunya, toh ini bukan film aksi tarung atau gulat, sesekali tapi berkesan. Karena ini film heist, sumber aksi juga datang dari kejar-kejaran mobil. 

Bukan cuma performa mengesankan pengadeganan, aksi stunt, dan camerawork, kredit khusus juga perlu diberikan pada tata musik yang berhasil menjaga atensi penonton dan mendukung berbagai adegan yang intens. Pada akhirnya, film sukses mengolah rasa thrilling, deg-degan, hingga geregetan.

Kalaupun ada yang mengganjal, saya hanya merasa agak terganggu pada detail seberapa mudahnya komplotan pencuri ini tertangkap jikalau para penegak hukumnya serius. Ada suatu aksi di jalanan yang sebenarnya semua komplotan pencuri ini bisa dengan mudah ditelusuri karena sudah terekspos di jalanan, ada yang terekam CCTV, ada yang wajahnya sudah terlihat saat pengejaran polisi, bahkan ada yang tertangkap namun diinterogasi sekenanya. Untuk ukuran heist, adegan-adegan ini termasuk lemah kalau penontonnya kritis. Hanya saja, film masih punya alibi.

Wajar kalau penonton nanti merasa para pencuri ini culun dan bodoh, namun film bisa berlindung dibalik kesan amatir para karakternya. Lalu, bagaimana dengan penegak hukum yang tidak memanfaatkan berbagai resource untuk meringkus komplotan yang ceroboh ini? Entah sengaja atau tidak, tapi saya positive thinking kalau adegan ini sengaja ada untuk menyoroti betapa negara tidak menganggap serius hal-hal yang berkaitan dengan lukisan Raden Saleh ini, entah itu seni ataupun cagar budaya.

Tapi, ketika sebuah film blockbuster menyisakan perdebatan seputar detail-detail plot yang sebenarnya tidak mengganggu pengalaman menonton keseluruhan, berarti film tersebut telah lulus dari rintangan masalah teknis. Pada akhirnya, Mencuri Raden Saleh telah secara utuh menjadi film blockbuster yang asik tanpa kesan mengganjal dalam aspek teknis. Udah naik level, Gaes.

Penulis: Muhammad Sabilurrosyad
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Buat Pengelola Bioskop: Stop Ambil Jatah Layar Film Indonesia untuk Film Blockbuster.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2022 oleh

Tags: Film BlockbusterFilm IndonesiaMencuri Raden Saleh
Muhammad Sabilurrosyad

Muhammad Sabilurrosyad

Tukang nonton.

ArtikelTerkait

7 Film Indonesia di Amazon Prime Video. Sudah Nonton Semua? (Unsplash)

7 Film Indonesia di Amazon Prime Video. Sudah Nonton Semua?

14 Mei 2023
Rekomendasi 5 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Tahun 2023

Rekomendasi 5 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Tahun 2023

27 Desember 2023
5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual terminal mojok.co

5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual

10 Desember 2021
20 Film Korea Selatan Terbaik Sepanjang Masa Terminal Mojok

20 Film Korea Selatan Terbaik Sepanjang Masa

8 September 2022
kabinet indonesia kerja versi film

Jika Karakter Film Indonesia Masuk Kabinet Indonesia Kerja II

28 Oktober 2019
Cahaya Dari Timur_ Beta Maluku, Film yang Bikin Terharu Meski Ditonton Berkali-kali terminal mojok

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Film yang Bikin Terharu Meski Ditonton Berkali-kali

19 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.