Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Nabati

Menanam Tebu Ternyata Nggak Semanis Rasanya

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
7 September 2022
A A
Menanam Tebu Ternyata Nggak Semanis Rasanya

Tebu (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menanam tebu ternyata nggak semanis rasanya

Kemarin-kemarin, Pak Luhut menyarankan warga agar beternak dan berkebun sendiri di rumah, berkaitan tentang krisis pangan. Tentu saja saran tersebut ditanggapi dengan kurang menyenangkan. Ha wong bertani itu nggak mudah je. Tanya aja sama petani beneran, kek mana mereka menyiapkan proses bercocok tanam.

Saat akan mulai untuk bertani, setiap petani memang harus mempertimbangkan beberapa hal. Salah satunya termasuk komoditas pertanian yang akan dipilih. Saat akan memilihnya, petani harus pintar-pintar mengerti apa saja yang menjadi keterbatasannya. Entah itu dari segi modal, luasan lahan, hingga dari segi bentang alam tempatnya berada. Misalnya untuk di dataran rendah, tentu komoditas yang dipilih jangan sampai tanaman yang butuh udara sejuk dan tidak kuat sinar matahari.

Kalau di daerah saya yang notabene di dataran rendah, biasanya petani memilih padi, jagung, bawang merah, cabai, dan terkadang tanaman tebu. Khusus untuk tanaman tebu, ada anggapan yang cukup menarik: kalau punya sawah sedikit jangan coba-coba untuk tanam tebu. Tentu saja, ada banyak alasan yang mendasarinya. Apa saja itu?

#1 Masa panen tebu yang sangat lama

Sudah menjadi rahasia umum kalau tanaman tebu itu memiliki masa panen yang sangat lama. Sejak ditanam sampai bisa dipanen, tebu membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun. Misalnya, jika kalian tanam tebu seusai waktu giling sekitaran bulan Juni-Agustus, kalian baru bisa menuai hasilnya lagi pada kisaran bulan tersebut di tahun depan. Ini jadi alasan utama kenapa petani dengan lahan sempit tidak memilihnya.

Perputaran uang yang lambat, bikin orang tidak melirik tanaman ini. Nunggu panen setahun, itu pun belum tentu berhasil panen. Susah.

Belum lagi kalau para petani punya tanggungan utang. Bank plecit yang berkicau tiap hari. SPP anak yang sekolah juga harus dibayar setiap bulannya. Apalagi kalau yang punya angsuran motor karena anaknya nendang pintu dan merengek minta dibelikan KLX.

Jadi, kalau memang lahan yang dimiliki nggak luas-luas amat, nggak usah kepikiran menanam tebu. Mending menanam nama baik saja.

Baca Juga:

Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati

Krisis Rumput Pakan Sapi di Madura Itu Bukan Hal Sepele, Masak Nyari Rumput Aja Harus Melintasi Suramadu?

#2 Hasilnya nggak seberapa

Ini juga jadi alasan kenapa banyak petani yang punya lahan sempit jangan sampai coba-coba tanam tebu. Hasil dari panen tebu itu nggak seberapa. Tau sendirilah, di media-media belakangan ini banyak kabar kalau petani tebu itu banyak yang merugi.

Faktor utamanya karena rendemen hasil tebu memang sangat kecil. Setahu saya, rata-rata rendemen tebu yang bisa dihasilkan hanya 10 persen saja. Jadi, dari 100 kg tebu, hanya akan menghasilkan 10 kg gula setelah melalui proses penggilingan.

Contoh kasusnya saja, orang tua saya pernah menanam tebu di sawah dengan luasan 2000 m2. Tahu nggak hasilnya berapa? Laba kotor Rp13 jutaan saja. Rugi, Cak.

Dipotong modal beberapa persen dan biaya panen tebu, anggap saja, hasil bersihnya hanya Rp10 juta per satu tahun. Hasil setahun menanam tebu cuman sepuluh juta, sa mending nangis aja sih.

#3 Kena marah petani lainnya

Biasanya (dan setahu saya), ada “prosesi” pembakaran tebu sebelum dan sesudah panen. Kalau sudah masalah bakar-bakaran, kita akan berurusan sama yang namanya polusi. Kalau yang dibakar cuman dikit gapapa lah ya. Lha kalau berhektar-hektar?

Yang jadi masalah adalah, kadang lahan tebu itu berdampingan dengan pemukiman atau malah lahan pertanian lain. Efek pembakaran tersebut jelas bikin lahan dan pemukiman terkena dampaknya. Udara buruk, jelas. Sampah, jelas. Panas, apalagi.

Petani lain jelas marah sama kondisi ini. Pemukiman mungkin rugi, tapi nggak sampai kena potensi kehilangan pendapatan. Beda cerita sama petani lain. Tanaman mereka bisa mati kena panas atau parahnya, api yang menjalar.

Maka dari itu, sebelum menanam tebu, perhatikan beberapa poin ini, agar nggak zonk. Kalau emang nggak punya lahan luas, mending urungkan saja niat menanam tebu. Mending menanam tanaman lain yang bisa mengisi dapur atau panen cepat.

Penulis: Firdaus Al Faqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tips Nyolong Tebu Sebagai Sebuah Perlawanan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2022 oleh

Tags: lahanmenanamtebu
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

4 Profesi yang Lekat dengan Orang Madura

Krisis Rumput Pakan Sapi di Madura Itu Bukan Hal Sepele, Masak Nyari Rumput Aja Harus Melintasi Suramadu?

19 Juli 2023
Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati

Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati

14 Agustus 2024
mahasiswa pertanian vietnam bus sleeper mojok

5 Alasan Banyak Mahasiswa Pertanian Ogah Jadi Petani

6 Agustus 2021
Belajar Pentingnya Menanam Tanaman dari Gim Plants vs Zombie terminal mojok.co

Belajar Pentingnya Menanam Tanaman dari Gim Plants vs Zombie

28 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.