Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Meminta Sumbangan Tujuhbelasan di Tengah Jalan: Nyari Dana atau Nyari Bahaya Sih?

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
11 Agustus 2019
A A
sumbangan tujuh belasan

sumbangan tujuh belasan

Share on FacebookShare on Twitter

Semarak menyambut hari kemerdekaan memang selalu dipenuhi dengan antusias semua masyarakat. Semua orang sepertinya begitu bahagia menyambut perayaan tujuhbelasan. Jauh hari sebelum tanggal tujuh belas Agustus, kita sudah bisa melihat umbul-umbul dan bendera merah putih berterbaran di sepanjang jalan. Gardu dan gapura desa dicat ulang, serta tiap warga mengibarkan bendera di depan rumah. Momen ini seperti sebuah hajatan bagi seluruh masyarakat Indonesia sehingga seringkali dibutuhkan sumbangan pula dari masyarakat demi terwujudnya acara ini.

Biasanya masyarakat pun berlomba-lomba menghias desa atau kampungnya seunik dan senyentrik mungkin. Tak hanya itu, seperti sudah tradisi, tak lengkap kalau acara tujuhbelasan tidak dimeriahkan dengan berbagai macam perlombaan. Semua ikut serta dalam perlombaan tersebut, baik itu untuk anak-anak, remaja, atau para orang tua. Lalu di acara puncaknya mereka akan menyelenggarakan panggung pentas seni.

Sebagai alumni karang taruna dan pernah juga menjabat sebagai wakil ketua karang taruna desa, saya paham bahwa untuk mengadakan perlombaan dan menyelenggarakna pentas seni semacam itu tentu butuh dana yang tidak sedikit. Pertama kita butuh peralatan serta bahan untuk perlombaan, dan jumlah perlombaannya pun tentu tak sedikit menyangkut ini merupakan kompetisi yang mencangkup satu desa. Kita juga butuh juga dana untuk membeli hadiah untuk pemenang lomba. Lalu untuk panggungnya kita juga butuh peralatan seperti soundsytem dan bahan  untuk dekorasi panggung. Belum lagi kalau acara desa itu, kami juga membutuhkan snack dan minum untuk warga yang menonton pertunjukan. Kas desa itu kadang uslit untuk cairnya, dan kas pemuda tentu tak akan cungkup membiaya semuanya itu.

Dengan segala pertimbangan akhirnya tak ada pilihan lain, selain minta bantuan warga sendiri. Jadi motonya, dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Beruntung saya dulu tinggal di desa, jadi semua masih serba gotong royong. Snack ditanggung oleh ibu-ibu PKK tiap RT. Soundsystem dan lain-lain kami pinjam dari salah seorang warga yang memiliki perlatan tersebut, jadi bayarnya sukarela dan tidak dipatok harga. Untuk dekor kami kerjakan bersama-sama dengan bahan seminim mungkin dan hanya mengandalkan daya kreatifitas yang seadanya. Perlombaan yang kami adakan pun, diusahakan seminim mungkin untuk tidak mengelurkan bahan yang harus beli. Murah meriah yang penting bahagia.

Itu kenangan saya waktu di desa ya, namun setelah saya merantau dan tinggal di kota orang betapa terkejutnya saya tiap kali menyambut hari kemerdekaan. Sebulan sebelum tujuhbelasan itu, para pemuda dan pemudinya turun ke jalan untuk meminta sumbangan. Itu pun gak tanggung-tanggung, mereka bergerombol berdiri di tengah jalan. Mereka bahkan juga membawa kursi di tengah jalan. Lalu mengacungkan kardus kepada para pengedara yang lewat. Ya ampun, ini jalan raya, Bro. Malah pada nongkrong di tengah jalan gitu maksudya gimana sih?

Hal ini tentu sangat meresahkan dan juga membahayakan baik untuk para anak muda tersebut ataupun pengedara lain. Dan hal yang paling menyebalkan itu, akibat hal ini tak jarang membuat jalanan macet. Kebayang kan gimana rusuhnya. Sudah tahu jalanan padat dan banyak kendaraan, masih juga di halang-halangi. Dengan adanya gerombolan pemuda-pemudi ini tentu saja, ruas jalan semakin menyempit dan mobil serta truk yang melintas akan mengurangi kecepatannya. Sehingga terjadilah kemacetan yang bikin gondok.

Parahnya hal seperti ini sangat lumrah saya temui di sini. Hampir di setiap desa itu semua pemuda melakukan hal serupa. Mungkin sudah seperti tradisi kali ya bagi mereka. Saya tahu, jalan yang dilintasi itu masih masuk ke wilayah desa mereka, tapi yang namanya jalan raya itu kan milik umum. Sehingga bisa dikatakan perbuatan meminta sumbangan di tengah jalan ini sudah merugikan orang banyak demi kepentingan kelompok.

Kalau hendak meminta sumbangan yah sebaiknya dengan cara yang baik juga dong, nggak dengan berdiri dan mengahalangi jalan orang lain yang berkendara. Nanti kalau terjadi kecelakan, yang disalahkan pengendaranya juga. Habislah, dikeroyok oleh orang kampung situ.

Baca Juga:

Karang Taruna Organisasi Paling Sial Saat Agustusan, Bakal Kerja Keras dan Banyak Dihujat Warga

Tradisi Galang Dana Acara Agustusan di Tengah Jalanan Bandung Kian Meresahkan, Harus Banget Ganggu Pengendara di Jalan?

Mereka itu akan merayakan sebuah kemerdakaan. Sebuah kebebasan dari belenggu penjajah di negeri ini, tapi mengapa untuk merayakan kemerdekaan masih harus meminta-minta dengan cara seperti itu sih? Bagaimana pun itu merupakan jalan raya, milik umum.

Kita ingin merayakan tujuhbelasan sebagai bentuk syukur kita karena negara kita sudah merdeka dari penjajah, jadi alangkah baiknya jika kita bisa mandiri dan merdeka dari bantuan orang lain. Kalaupun memang harus meminta bantuan, maka lakukan dengan cara yang bijak dan jangan sampai merugikan orang lain. Kebayang nggak sih, gimana nelangsanya para pahlawan kalau melihat generasinya mudanya kayak gitu? Dulu mereka turun ke jalan untuk berperang melawan penjajah demi sebuah kemerdekaan, kini anak mudanya justru turun ke jalan minta sumbangan untuk merayakan kemerdekaan. Kan ngenes yhaaa~ (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: agustusankemerdekaan indonesiapenjajahantujuhbelasanUlang Tahun
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

nasi goreng di jogja pakem wonosari tegal jawa timur ciri khas mojok.co

Sejarah di Balik Cita Rasa Manis Makanan Jawa

18 September 2020
Timnas Israel Lolos Piala Dunia U-20: Yang Lolos Siapa, yang Pusing Siapa

Timnas Israel Lolos Piala Dunia U-20: Yang Lolos Siapa, yang Pusing Siapa

2 Juli 2022
Kesalahan Saat Berburu Diskon Belanja yang Menimbulkan Kecewa terminal mojok.co

Menjelang Hari Kemerdekaan: Banyak Diskon Bertebaran di Pusat Perbelanjaan

14 Agustus 2019
Metallica

Hanya Orang Bodoh yang Percaya Kalau Metallica Beneran Memainkan Indonesia Raya

23 Agustus 2019
sobatambyar

Ini Jadinya Kalau SobatAmbyar Ikut Lomba 17-an

15 Agustus 2019
4 Ketololan yang Biasa Dilakukan di Perayaan Ulang Tahun Teman Saat Sekolah. Kalau Diingat Rasanya Bikin Malu!

4 Ketololan yang Biasa Dilakukan di Perayaan Ulang Tahun Teman Saat Sekolah. Kalau Diingat Rasanya Malu!

29 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026
4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

27 Februari 2026
Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang Mojok.co

Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria
  • Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental
  • Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros
  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.