Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membedah Konsep Sawang Sinawang dalam Kehidupan Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir

Sri Pramiraswari Hayuning Ishtara oleh Sri Pramiraswari Hayuning Ishtara
6 Mei 2020
A A
Mahasiswa UTM, sawang sinawang
Share on FacebookShare on Twitter

Bagi masyarakat Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan konsep sawang sinawang. Kata-kata ini merupakan penggalan dari filosofi Jawa yang berbunyi “sejatine urip kui mung sawang sinawang” atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan bahwa hidup ini hanya tentang bagaimana kita melihat kehidupan.

Secara konsep memang terlihat sederhana, bagaimana cara kita melihat kehidupan orang lain dan bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain. Namun nyatanya tidak sesederhana itu, terdapat kedalaman makna yang terus saya gali.

Kerap kali rasa iri timbul saat melihat pencapaian-pencapaian yang dilalui orang lain membuat kita merasa bahwa hidup kita ini tidak berarti. Apalagi bagi mahasiswa semester akhir seperti saya dan kalian. Melihat keberhasilan orang lain bukannya turut bahagia malah dengki dan berakhir dengan membanding-bandingkan hidup kita dan mereka.

Di saat banyak teman-teman yang telah berfoto mengenakan toga, saya di sini masih berkelut dengan revisi. Pun di saat teman-teman mengupload instastory hari pertama kerja di kantor barunya, saya di sini masih antri untuk menunggu bimbingan dengan dosen.

Memang lebih mudah membicarakan keberhasilan orang dari sudut pandang kita sendiri. Toh kita nggak tahu seberapa banyak peluh yang mereka keluarkan untuk itu. Yang kita tahu hanya ekspresi bahagia mereka telah berhasil ke tahap tersebut.

Bahkan saya kerap merasa insecure atas pencapaian-pencapaian yang saya lakukan sejak mahasiswa baru hingga mahasiswa basi. Merasa bahwa prestasi ini hanya sekadar prestasi ecek-ecek belaka, tidak sebanding dengan hal-hal yang dicapai teman-teman saya.

Dari sini saya sebagai orang Jawa mencoba mempelajari bagaimana makna yang lebih dalam dari sawang sinawang ini. Saya yang awalnya melihat sesuatu hanya dari tampak depannya saja dan tidak pernah terpikir bagaimana sebenarnya yang terjadi. Setelah mencoba memahami, hal ini cukup membuat saya membuka mata.

Saat melihat teman satu jurusan saya yang telah melakukan seminar proposal duluan, saya mencoba melihat ke sisi yang lebih dalam. Ternyata memang selama ini dia mau berjuang menunggu dosen untuk bimbingan selama berjam-jam, mau ke sana ke mari untuk mengambil data pendahuluan, bahkan rela dimarahi berkali-kali karena berbeda pendapat dengan dosen pembimbing. Hal ini yang kemudian berbuah hasil ia seminar proposal duluan.

Baca Juga:

Mahasiswa Tingkat Akhir yang Masih Bikin PPT Full Teks Mending ke Laut Aja, Ngambang Bareng Sampah!

Mahasiswa Akhir kok Alergi Ditanya tentang Skripsi, Pola Pikirnya Itu Lho, Remuk!

Di balik senyum gembira dan sedikit congkak akibat telah berhasil seminar proposal untuk skripsinya, tersimpan perasaan sedih dan gelisah mempertanyakan apakah kelak penelitiannya lancar.

Selama ini kita hanya menilai sesuatu berdasarkan orang lain. Mengukur tinggi standar kebahagiaan berdasarkan pencapaian orang lain. Namun tidak pernah berpikir tentang yang kita capai. Bahkan kamar kos yang semula terasa lapang, tiba-tiba menjadi sempit saat kita melihat kamar kos orang lain yang lebih luas.

Padahal di sana masih ada kawan-kawan yang tidur di kamar kos yang sempit demi menghemat pengeluaran bulanan mereka. Saat kita merasa iba melihatnya, sebaliknya justru mereka merasa nyaman dengan kamar kos tersebut.

Setiap orang memiliki cara bagaimana menunjukan kebahagiaan kepada orang lain dan menutupi perjuangan mereka. Pernah suatu ketika ada teman saya yang terheran-heran melihat gaya belajar saya yang cenderung santai namun tetap mendapat nilai sempurna.

Padahal mereka tidak pernah tahu, saat mereka sibuk nongkrong, saya justru sibuk mati-matian belajar dan review materi dari dosen. Hanya saja saya memilih untuk tidak menampakan hal itu, dan mencoba terlihat tetap santai saat ujian.

Hal yang serupa juga mungkin dilakukan oleh teman-teman saya yang telah “sukses”, mencoba memperlihatkan kebahagiaan tanpa mengeskpos bagian-bagian yang sedih. Toh kita semua mempunyai hak untuk memilih mana yang bisa dilihat publik dan mana yang tidak.

Memang benar adanya sawang sinawang itu, kita hanya melihat apa yang dilihat saja, tanpa tahu kebenaran di balik hal tersebut. Pun kita juga memilih menyembunyikan suatu kebenaran dan hanya memperlihatkan kebahagiaan.

Macam iklan saja, rumput tetangga lebih hijau, saat didekati ternyata hanya rumput sintetis, pantas saja lebih hijau. Apa yang kita lihat selama ini bisa jadi bukan yang sebenarnya, jadi daripada iri terus menerus alangkah lebih baik jika mulai bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan.

Toh sawang sinawang tidak mengajarkan tentang melihat dan dilihat saja, namun mencoba melihat jauh tentang apa yang ada di balik itu. Jadi jangan langsung menyimpulkan dari yang terlihat saja…

BACA JUGA Sebaik-baik Perawatan Wajah Adalah Cukup Cuci Muka atau tulisan Sri Pramiraswari Hayuning Ishtara lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2020 oleh

Tags: filosofi jawaMahasiswa Tingkat Akhirsawang sinawang
Sri Pramiraswari Hayuning Ishtara

Sri Pramiraswari Hayuning Ishtara

Calon sarjana yang suka skincare.

ArtikelTerkait

memilih dosen pembimbing

Panduan Memilih Dosen Pembimbing biar Skripsi Lancar Jaya Dunia Akhirat

11 Mei 2020
mahasiswa tingkat akhir Kiat Sukses untuk Bikin Hidup Susah Ketika Menjadi Mahasiswa Akhir terminal mojok.co

6 Tips dari Mahasiswa Tingkat Akhir untuk para Maba

28 Maret 2021
Skripsi, skripsian di rumah

Tips Menyelesaikan Skripsi Meskipun Nggak Bimbingan karena Kampus Dinonaktifkan

16 Maret 2020
Mahasiswa Tingkat Akhir yang Masih Bikin PPT Full Teks Mending ke Laut Aja, Ngambang Bareng Sampah!

Mahasiswa Tingkat Akhir yang Masih Bikin PPT Full Teks Mending ke Laut Aja, Ngambang Bareng Sampah!

3 Februari 2024
Emang Ngasih Ucapan Happy Semprotulation itu Penting?

Emang Ngasih Ucapan Happy Semprotulation itu Penting?

8 April 2020
dosen pembimbing

Balada Grup Chat Kelompok Skripsi dengan Dosen Pembimbing Sebagai Salah Satu Anggotanya

31 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.