Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mematahkan Mitos Putih Telur yang Menyebalkan di Istana Air Tamansari

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
2 September 2020
A A
tamansari mitos putih telur mojok

tamansari mitos putih telur mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Untuk merekatkan batu bata, zaman dulu digunakan putih telur.” Itu adalah salah satu info andalan yang jadi ciri khas tour guide di Tamansari. Dari penuturan tersebut, Tamansari terkesan lebih fantastis dan angker. Betapa hebatnya nenek moyang kita yang mampu membangun dinding batu bata bermodal putih telur.

Saya berani jamin Anda akan mendengar mitos ini saat berkunjung ke Tamansari. Mitos ini begitu dekat dengan kehidupan warga Tamansari. Saking dekatnya, mitos ini dituturkan berulang kali dengan penuh rasa bangga.

Sayang sekali, tulisan saya kali ini bukan untuk memuja teori tak logis tersebut. Saya ingin mematahkan mitos yang sering dituturkan berulang-ulang perihal Tamansari. Baik tour guide maupun warga lokal gemar mengisahkan mitos ini kepada turis lokal maupun mancanegara. Dan seringkali, tuturan mitos ini diterima sebagai fakta ilmiah bagi para turis.

Sebagai salah satu penduduk asli Tamansari, saya juga sering mendengar dongeng ini. Baik dari orang dekat, maupun menguping penuturan tour guide yang berapi-api. Sebenarnya, tidak sulit untuk mematahkan mitos tersebut. Hanya butuh sedikit rasa penasaran serta mencari literasi yang tepat. Mari kita patahkan mitos ini dan luruskan fakta dari salah satu landmark Keraton Yogyakarta ini.

Sedikit perihal sejarah, Tamansari mulai dibangun pada tahun 1758. Menurut kratonjogja.id, desain komplek pemandian ini didasari oleh gagasan Sri Sultan HB I. Sedangkan gambar teknisnya dikerjakan oleh seseorang berkebangsaan Portugis bergelar Demang Tegis. Mega proyek ini diselesaikan oleh Sri Sultan HB II pada tahun 1765.

Dari tahun pembuatannya saja, Tamansari bukanlah bangunan kuno apalagi purba. Pada era tersebut, semen sederhana telah lazim digunakan dalam pembangunan. Bukti paling mudah adalah melihat bangunan yang jauh lebih tua. Salah satunya adalah petilasan Kotagede yang dibangun era Mataram. Pada sisa dinding benteng serta bangunan makam bisa kita temui batu bata dengan plester seperti semen.

Bangunan lain yang bisa menjadi perbandingan adalah Fort Rustenburg. Benteng Belanda yang kini dikenal sebagai Benteng Vrederburg dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Tamansari. Dan bisa dipastikan, Benteng Vrederburg juga menggunakan plester sebagai perekat batu penyusun dinding benteng.

Jika bangunan yang lebih kuno saja telah mengenal plester, bagaimana mungkin bangunan yang lebih muda dibangun dengan keajaiban putih telur. Apalagi dinding Tamansari rata-rata memiliki ketebalan 1,25 meter. Sangat mustahil untuk memasrahkan ketahanan dinding ini kepada lendir bening yang jadi bakal makanan embrio ayam.

Baca Juga:

5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

Pengalaman Mengunjungi Tamansari Jogja, Istana Air di Mana Sejarah Kerajaan Berpadu dengan Kehidupan Sosial Masyarakat

Selain membandingkan dengan bangunan lain, kita juga perlu menilik sejarah Tamansari. Perlu kita ingat, arsitek Tamansari adalah seseorang berkebangsaan Portugis. Meskipun bukan pemimpin proyek, namun Demang Tegis tetap memberi arahan pembangunan. Sudah pasti SOP yang dipakai Demang Tegis adalah SOP pembangunan Eropa.

Pada era 1700-an, plester berbahan dasar mineral telah umum dipakai di Eropa. Hanya saja, hak paten atas semen baru diberikan kepada Joseph Aspidin pada tahun 1824. Apakah sebelum semen dipatenkan, bangunan-bangunan Eropa menggunakan putih telur? Dan putih telur menjadi SOP pembangunan yang digunakan Demang Tegis? Tentu saja tidak.

Pembuktian saya yang terakhir adalah dengan mengambil langsung sampel plester dari reruntuhan dinding Tamansari. Beruntung, beberapa sudut bangunan belum dapat direnovasi dan menyisakan dinding asli yang menganga. Tanpa perlu membawa sampel ini ke laboratorium, saya sudah dapat membuktikan bahwa lapisan putih di antara batu bata adalah plester bercampur pasir. Gampang banget kan?

Tapi, apakah ada kemungkinan bahwa putih telur dapat dipakai untuk merekatkan batu bata? Tentu saja tidak. Telur adalah material organik berbahan dasar protein. Umumnya bahan organik akan mudah terdegradasi oleh bakteri. Selain itu, putih telur juga mudah larut dalam air? Apakah mungkin kita memasrahkan ketahanan dinding pada material yang mudah busuk, mudah larut, dan amis ini?

Sekarang mari kita bandingkan dengan plester kuno yang sederhana. Plester sederhana menggunakan kombinasi batu kapur dan tanah liat. Tanah liat yang digunakan umumnya adalah tanah liat hitam yang kaya silika, aluminium oksida, dan oksida besi. Ketika ramuan ini mengeras, dia akan serupa gerabah yang tahan air dan tidak mudah larut. Dengan logika sederhana, Anda akan memilih putih telur atau plester?

Lalu, mengapa mitos menyebalkan ini bisa subur? Saya bisa memaklumi mitos-mitos spiritual jika subur di Tamansari. Apalagi Tamansari memang memiliki pesona yang angker ala bangunan tua. Tapi untuk mitos putih telur sebagai perekat batu bata sudah di luar akal sehat dan akal spiritual. Lalu dari mana mitos ini muncul?

Jika kita perhatikan, mitos penggunaan putih telur sebagai perekat batu juga muncul pada bangunan candi. Plester putih tipis yang merekatkan batu candi dituding sebagai putih telur. Seolah-olah, batu candi bisa direkatkan seperti Anda merekatkan lumpia. Karena terdengar tidak logis, maka mitos ini diselimuti kabut kesaktian para leluhur. Entah mengapa, mitos candi ini bisa ditransfer ke Tamansari.

Meski pun membuat pengunjung kagum, namun sudah selayaknya informasi yang diberikan perihal Tamansari diluruskan. Menyampaikan fakta ini tidak akan mengurangi romantisme bekas pemandian para Sultan ini. Justru, menyampaikan mitos putih telur dapat menggiring opini publik pada satu pemahaman keliru: istana air ini tidak lebih megah dari lumpia.

BACA Mengapa Ganja Dilarang di Sini dan Dilegalkan di Sana? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 September 2020 oleh

Tags: Mitostamansaritelur
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Bantal Duduk dan Mitos Pemantik Keberuntungan Ujian di Korea Selatan Terminal Mojok

Bantal Duduk dan Mitos Pemantik Keberuntungan Ujian di Korea Selatan

17 Maret 2022
Sisi Lain Tamansari Jogja yang Membuatnya Misterius (Unsplash)

Pengalaman Mengunjungi Tamansari Jogja, Istana Air di Mana Sejarah Kerajaan Berpadu dengan Kehidupan Sosial Masyarakat

8 Desember 2025
menghilangkan jerawat air putih mitos mojok

Jerawat Hilang dengan Minum Air Putih yang Banyak? Ah, Mitos!

11 September 2020
bear brand susu naga mitos susu mojok

Bear Brand Nggak Seistimewa Itu, Ngapain Ditimbun?

4 Juli 2021
hal mistis

Sebagian Orang Indonesia yang Seringkali Mengaitkan Segala Sesuatunya dengan Hal Mistis

7 Agustus 2019
Kediri Bakal Jadi Sungai, Sumpah Lembu Suro yang Jadi Kenyataan

Kediri Bakal Jadi Sungai, Sumpah Lembu Suro yang Jadi Kenyataan

15 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang Mojok.co

Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang

26 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.