Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa

Sofyan Aziz oleh Sofyan Aziz
23 Juli 2020
A A
Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa MOJOK.CO

Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Tren dunia menulis bergerak lincah, terutama 5 tahun terakhir ini. Seiring munculnya media online, yang menerima kiriman dari penulis luar. Penulis pemula tak perlu bersusah payah lagi merintis jalan kepenulisan, setidaknya tidak seperti perjuangan penulis era lama.

Kita tahu, di zaman koran cetak, menembus kolom opini susahnya minta ampun. Apalagi kalau kamu belum punya nama dan baru mulai belajar menulis. Bisa dipastikan, ruangan yang tersisa untukmu sangat kecil. Paling banter kans yang memungkinkan adalah surat pembaca atau iklan kecik.

Maka dari itu, artikel di koran cetak, kebanyakan, diisi oleh para profesor doktor, artis, atau tokoh politik. Calon penulis, apalagi yang tidak punya modal kapabilitas yang mumpuni, lebih baik minggir dulu, mencari jalan lain.

Hingga kemudian booming media sosial seperti Facebook dan Twitter, membuat penulis pemula mendapatkan ruang supaya tulisannya menemukan pembaca. Pangsa pasar baru ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Maka kemudian lahir kanal online yang menerima tulisan dari pihak luar, sebut saja Mojok, Kumparan, Kompasiana, Qureta, dan masih banyak lainnya.

Tentu kemunculan media-media itu diiringi tumbuhnya penulis muda yang bersinar pada masanya. Sebut saja Puthut EA, Iqbal Aji Daryono, Agus Mulyadi, Hasanudin Abdurrakhman, Jonru Ginting, dan sebagainya.

Bisa jadi, riuhnya dunia tulis-menulis waktu itu karena dipengaruhi suasana politik yang menghangat. Muncul kubu-kubuan. Saling balas membalas tulisan. Jonru dkk., di satu sisi, berhadap-hadapan dengan Iqbal dkk., di sisi yang lain.

Kondisi keterbukaan berwacana mendapatkan tempat yang memadai dengan luasnya media. Hal ini bagi beberapa kalangan ditangkap sebagai sebuah peluang. Sebagai sebuah pasar yang terbuka.

Seiring luasnya ceruk pasar, membuat penulis bergenre palugada menjamur. “Apa lu minta gue ada”. Apa pun tema tulisan, bisa ditulis siapa saja. Bergesernya mereka yang tersegmentasi, di era koran cetak, beralih menjadi penulis yang serba ada, dan bisa.

Baca Juga:

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?

Pandangan personal para penulis terhadap berbagai isu sangat menarik untuk dinikmati pada masa kini. Pembaca nampaknya tidak begitu peduli terhadap kapabilitas latar belakang penulis. Asal tulisannya enak dan renyah untuk dinikmati, jadilah ia seorang penulis idaman.

Fenomena ini lantas membuat penulis pemula, setelah era Iqbal Aji dkk., berlomba-lomba untuk mengikuti jejak langkah mereka. Tulisan-tulisan nakal khas warung kopi bisa muncul ke permukaan.

Pertarungan antarpemula makin sengit, dengan ruang penerimaan naskah yang tidak beranjak. Saya mendengar isu, untuk di Mojok sehari bisa 100 naskah masuk, belum lagi media lain. Mereka sungguh-sungguh penulis muda yang tangguh. Tapi lebih tangguh redakturnya, sih, yang harus menyeleksi puluhan bahkan ratusan naskah setiap hari.

Ketika para pemula mulai merintis jalan karier kepenulisannya, lalu apa kabar penulis kawakan tadi? Ya mereka tetap saja menulis, tentu tanpa bersaing seperti yang lain. Dan satu lagi, mereka memperluas akses kepenulisannya.

Mereka, penulis kawakan yang usia sebenarnya masih muda, tetap menulis dengan tekun. Seperti biasanya. Lalu mengumpulkannya dan menjadikan buku.

Penulis serba bisa, begitu saya menyebutnya. Mereka yang tidak hanya menulis. Bisa sebagai guru, bisa pedagang, bisa marketing, bisa pengusaha.

Bisa sebagai guru, manakala sedang berlaku sebagai mentor atau narasumber pada pelatihan, seminar, atau workshop. Kadang datang sebagai undangan, kadang bersama manajemennya berlaku sebagai pihak penyelenggara.

Bisa sebagai pedagang, manakala ia sedang menjual buku-bukunya. Penulis andal era kini tidak hanya piawai merangkai kata. Mereka dituntut lebih. Bisa menjadi editor, kadang me-layout sendiri naskahnya. Beberapa punya kelebihan desain grafis, malah sekalian membuat cover bukunya. Mencetaknya, lalu menjualnya sendiri.

Bisa juga marketing, ketika sedang mempromosikan buku-bukunya. Berbekal nama besarnya, tak sulit bagi penulis kesohor untuk mempromosikan buku-bukunya.

Berbekal followers seabreg, murid yang tersebar, akses terhadap ruang publik sudah ia genggam. Rasanya, meluncurkan satu atau dua gambar promo lengkap dengan caption menarik di media sosialnya, niscaya mampu membuat oplah penjualan bukunya naik berkali lipat.

Maka jika untuk aktivitasnya itu diperlukan kantor, nampaknya penulis ini perlu membuat banyak kantor. Ruang kerja di rumah, untuk kegiatan menulis. Ruang guru, untuk aktivitasnya menjalani mentor kelas-kelas penulisan. Toko buku, untuk aktivitasnya dalam penjualan. Dan satu lagi, ruko untuk tempat marketingnya.

Tapi sekat-sekat ruang kantor itu juga sudah bergeser. Sekarang semua bisa di-handle lewat genggaman tangan, melalui gawai. Semua aktivitas bisa dilakukan tanpa menggeser pantat.

Lalu bagaimana nasib penulis pemula seperti saya dan kawan-kawan ini? Saya kira pilihan realistisnya adalah terus berlatih menulis, dengan tekun. Kalau sudah pintar, nanti bisa memperluas akses, seperti jejak para pendahulu. Itu juga kalau tren mereka belum berubah.

BACA JUGA Sulitnya Menemukan Studio Musik di Masa Sekarang atau tulisan Sofyan Aziz lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2020 oleh

Tags: agus mulyadimedia onlineMojokPenulispenulis baruputhut ea
Sofyan Aziz

Sofyan Aziz

Esais dan pendidik

ArtikelTerkait

caping mojok MOJOK

Caping vs Esai Mojok: Dua Kutub Berbeda yang Menyemarakkan Dunia Literasi Kita

2 Juli 2020
borobudur magelang yogyakarta mojok

Menjelaskan Soal Magelang dan Segala Kesalahpahaman yang Menyertai

17 Oktober 2021
Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Krisis Eksistensialis dan Nestapa Kehidupan Sarjana Sastra Inggris, Dikatain Mending Kursus Aja Udah Cukup ketimbang Kuliah

12 Januari 2024
Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus Mojok.co

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

10 Desember 2025
suka duka menjadi editor di media keluhan mojok.co

5 Macam Duka Menjadi Editor di Media

3 Juli 2020
pahlawan tanpa tanda jasa mojok

Selain Guru, Inilah 4 Orang yang Mesti Diberi Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

4 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.