Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Memahami Konklaf, Proses Rahasia Pemilihan Paus yang Sakral dan Penuh Mitos

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
25 April 2025
A A
Memahami Konklaf, Proses Rahasia Pemilihan Paus yang Sakral dan Penuh Mitos

Memahami Konklaf, Proses Rahasia Pemilihan Paus yang Sakral dan Penuh Mitos

Share on FacebookShare on Twitter

Konklaf adalah perlawanan para kardinal dari pengaruh penguasa sekuler. Memastikan proses pemilihan dilakukan secara mandiri berdasar kapasitas dan kepentingan Gereja

Kapel Sistina tidak seperti biasanya. Hari ini, barisan meja panjang dan kursi merah memenuhi sisi kiri dan kanan. Kapel yang biasanya penuh wisatawan kini dipenuhi pria berjubah putih merah. Suasana begitu sakral dengan nyanyian gregorian.

Terdengar teriakan, “extra omnes!” Pintu besar itu terkunci, mengurung ratusan pria tua tadi dalam ruangan. Konklaf telah dimulai!

Ribuan umat Katolik dari seluruh dunia berkumpul di pelataran Basilika Santo Petrus. Hening dan menengadah. Mata mereka terpaku pada sebuah cerobong asap. Kamera 4K mahal ikut menyorot cerobong asap tua itu. Gereja Katolik menanti. Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan.

Asap hitam, takhta suci masih kosong. Asap putih, Paus telah terpilih. Hanya itu yang bisa diketahui dari proses serba rahasia. Umat tidak bisa merangsek mengintip apa yang terjadi di bawah fresco “Allah menciptakan Adam,” karya Michelangelo.

Inilah proses Konklaf yang sama selama 750 tahun. Sebuah proses elektoral yang menentukan Vikaris Kristus di dunia. Namun proses Konklaf sering disalahpahami. Terutama akibat banyaknya film yang menyorot proses ini. Hari ini, Anda akan belajar apa itu Konklaf yang sejati.

Sejarah pemilihan dengan kunci

Conclave atau Konklaf hadir bukan hanya karena tradisi. Namun juga karena pentingnya posisi Paus. Bagaimanapun, Paus adalah wakil Tuhan. Posisinya tidak hanya mengatur jalannya umat, tapi juga politik sekuler. Tidak heran jika banyak penguasa kebelet ikut menentukan siapa Paus selanjutnya.

Sejarah Konklaf dimulai dari kemarahan umat. Proses pemilihan pasca meninggalnya Paus Klemens IV pada 1268 menghasilkan jalan buntu berkepanjangan. Patut diingat, pada masa ini tidak ada dewan khusus yang memilih Paus. Suara masyarakat dan pemimpin sekuler masih diperhitungkan.

Baca Juga:

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan ‘Parkir Gratis’!

Pada akhir 1269, para umat sudah habis kesabaran. Bersama pihak berwenang, mereka mengunci para kardinal di Istana Kepausan Viterbo. Ketika desakan mereka tidak membuahkan hasil, umat mengurangi jatah makan para kardinal. Masih belum cukup, mereka membongkar atap istana agar para kardinal tidak betah. Akhirnya para kardinal berkompromi dan membuat dewan kardinal.

Tapi Paus baru tidak terpilih sampai 1271, ketika Paus Gregorius X terpilih. Proses selama 3 tahun ini meninggalkan trauma dan jadi katalisator reformasi pemilihan Paus. Ahirnya, Paus Gregorius X menerbitkan bulla kepausan (surat keputusan resmi) berjudul Ubi periculum (Di mana bahaya lebih  besar mengancam).

Isi bulla kepausan ini adalah kodifikasi dan pelembagaan prosedur pemilihan Paus. Taktik umat di Viterbo menjadi inspirasi utama. Termasuk penyebutan Konklaf yang artinya “dengan kunci.”

Tapi proses Konklaf belum benar-benar ditetapkan sampai 1298. Paus Bonifasius VIII akhirnya memasukkan Ubi periculum ke dalam hukum Kanon Gereja Katolik. Menetapkan proses pemilihan dalam isolasi ini sebagai aturan baku. Meskipun sepanjang sejarah terus mengalami penyesuaian.

Salah satunya perkara penguncian para kardinal. Mitos yang selama ini dipercaya adalah para kardinal dikunci total selama Konklaf. Padahal, penguncian ini hanya saat mereka melakukan proses pemilihan. Ketika proses berakhir, mereka akan kembali ke Domus Sancta Marthae untuk istirahat.

Konklaf di antara bisikan Tuhan dan politik

Kunci utama dari pemilihan “dengan kunci” ini adalah kerahasiaan. Konklaf lahir tidak hanya sebagai dampak insiden Viterbo. Ia adalah respon historis pada sejarah irisan Gereja dengan politik sekuler. Hadirnya faksi politik yang memengaruhi pemilihan Paus menuntut proses yang lebih eksklusif dan rahasia.

Konklaf adalah perlawanan para kardinal dari pengaruh penguasa sekuler. Memastikan proses pemilihan dilakukan secara mandiri berdasar kapasitas dan kepentingan Gereja. Paus terpilih bukan lagi berdasar kemauan penguasa, tapi keputusan para kardinal. Dewan Kardinal yang nantinya akan berdiskusi dan berdialektis tentang situasi dan kebutuhan Gereja.

Dalam dimensi teologis, Konklaf juga memastikan “suara Tuhan” terdengar. Karena proses ini bukan urusan administratif, tapi peristiwa spiritual yang dibimbing oleh Roh Kudus. Meminimalisir gangguan dan informasi duniawi memastikan Paus terpilih terbebas dari pengaruh sekuler.

Universi Dominici Gregis (UDG) menjadi panduan utama Konklaf hari ini. Di dalamnya menekankan sumpah kerahasiaan mutlak, isolasi fisik, dan larangan komunikasi total ketika berada di area Konklaf. Dengan kemajuan teknologi, langkah keamanan modern juga ditetapkan. Termasuk pemblokiran sinyal dan pelacak perangkat sinyal nirkabel.

Mungkin terlihat berlebihan untuk mereka di luar Gereja Katolik. Namun posisi Paus, bagaimanapun ia telah direduksi pengaruhnya, tetap berperan besar di berbagai lini. Jabatan selaku Vikaris Kristus adalah tanggung jawab besar. Maka pemilihan Paus tidak bisa dilakukan serampangan.

Asap putih dan “habemus papam”, final dari konklaf

Segala proses tadi terjadi di dalam Kapel Sistine. Di luar sana, para umat Katolik menanti. Banyak yang berharap Paus terpilih berasal dari negaranya. Namun satu yang pasti, mereka menanti orang terbaik untuk memimpin Gereja Katolik.

Siapapun bisa dipilih dalam Konklaf. Syarat dalam UDG tidak terlalu spesifik. Yang penting laki-laki dan dibaptis Katolik. Namun dalam praktiknya, orang tersebut harus sudah ditahbiskan sebelum menjabat.

Tapi Paus yang terpilih dari luar Dewan Kardinal sangat jarang terjadi. Alasannya sederhana: Dewan Kardinal lebih mudah memilih orang yang mereka kenal dan terekam jejak hidupnya. Proses pengangkatan di luar Dewan Kardinal juga lebih rumit.

Syarat terpilihnya seseorang menjadi Paus adalah mengantongi 2/3 suara. Jumlah yang signifikan ketika dibandingkan dengan pemilihan pemimpin sekuler. Ketetapan ini tidak bisa ditawar, apalagi setelah ditetapkan Paus Benediktus XVI dalam dekrit Motu Proprio.

Proses pemilihan masih sangat tradisional. Secara umum, film Conclave sudah cukup menggambarkan proses dengan akurat. Termasuk momen pembakaran surat suara sebagai pesan terhadap dunia luar. Asap hitam berarti belum ada yang terpilih. Asap putih berarti sudah ada orang yang terpilih sebagai Paus.

Orang yang terpilih akan ditanyai, “Acceptasne electionem de te canonice factam in Summum Pontificem?” (“Apakah Anda menerima pemilihan kanonik Anda sebagai Paus Tertinggi?”) Ketika orang itu menjawab “Accepto” (saya menerima), maka Paus terpilih akan menentukan nama kepausan. Pemilihan nama ini sangat simbolis, dari penghormatan dan menandakan program kepausan.

Orang yang terpilih akan diminta mengganti pakaiannya menjadi jubah kepausan. Tempat ganti baju ini juga istimewa, dikenal sebagai Camera Lacrimatoria. Ruang air mata ini menjadi saksi Paus terpilih meneteskan air mata. Baik karena terharu atau membayangkan beban berat yang kini dipikul.

Asap putih tadi akan disambut sorak sorai umat. Mereka menanti sebuah teriakan penting: Habemus Papam!

Menanti gembala baru

Pandangan umat kini tertuju pada balkon Basilika Santo Petrus. Kardinal Lektor, pemimpin proses Konklaf, akan tampil lebih dahulu. Beliau akan mengumumkan siapa Paus terpilih dalam kalimat Latin yang sama selama 750 tahun.

“Annuntio vobis gaudium magnum; Habemus Papam!” (Saya umumkan kepada Anda sukacita besar; Kita memiliki seorang Paus!) Kemudian dilanjutkan dengan mengumumkan nama lahir, keluarga, serta nama kepausan yang dipilih.

Akhirnya Paus terpilih tampil. Disambut gegap gempita yang juga sama selama 750 tahun. Paus terpilih akan menyampaikan salam singkat. Lalu akan memberikan Berkat Apostolik perdana, Urbi et Orbi. Sebuah berkat istimewa yang eksklusif pada hari Natal, Paskah, dan saat terpilih.

Momen inilah yang saat ini dinanti. Paus Fransiskus sudah berpulang. Namun takhta suci tidak ikut wafat. Umat Katolik menanti siapa sosok yang dipilih Tuhan melalui tangan para kardinal. Sosok yang akan menjadi gembala umat untuk tetap tegak lurus pada ajaran Yesus. Sosok yang nantinya diumumkan dengan asap putih dan teriakan, “Habemus Papam!”

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Review Film Conclave, “Menelanjangi” Vatikan di Momen Sakral

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2025 oleh

Tags: conclavekatolikkonklafpauspemilihan pauspilihan redaksi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kita Butuh Jogja Rasa Ubud karena Nggak Semua Orang Jogja Bisa ke Ubud! terminal mojok.co

Kita Butuh Jogja Rasa Ubud karena Nggak Semua Orang Jogja Bisa ke Ubud!

28 September 2021
Pembangunan Terowongan Jalan Joyoboyo Adalah Bukti kalau Pemkot Surabaya Suka Menghamburkan Uang

Pembangunan Terowongan Jalan Joyoboyo Adalah Bukti kalau Pemkot Surabaya Suka Menghamburkan Uang

27 Juni 2024
Sumber gambar: Instagram official Pendhoza

Pendhoza, Teman Sejati dan Representasi Kelas Pekerja yang Paripurna

6 November 2021
Di Jogja Sulit Mencari Bakso Enak yang Bisa Memuaskan Lidah Orang Malang Mojok.co

Bakso Jogja Sulit Memenuhi Standar Enak Lidah Orang Malang

8 Juni 2024
Pengusaha UMKM Kini Makin Mudah Go National dengan Layanan Ini! Terminal Mojok.co

Pengusaha UMKM Kini Makin Mudah Go National dengan Layanan Ini!

10 Juni 2022
Tips Jelajah Jogja Solo dan Sebaliknya, Nggak Perlu Ribet Bawa Kendaraan dengan Fitur Ini Terminal Mojok.co (Unsplash.com)

Tips Jelajah Jogja-Solo dan Sebaliknya, Nggak Perlu Ribet Bawa Kendaraan dengan Fitur Ini

24 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.