Memaafkan Ustaz yang Tidak Punya Kapasitas Keilmuan

Artikel

Avatar

“Kok masih ada aja ya, yang percaya ustaz itu, padahalkan dia udah terbukti banyak salah dalam penyampaiannya,” ungkap seorang teman.

Teman saya merasa heran, mengapa ustaz viral itu masih dipercaya oleh jemaahnya. Padahal menurut pandangan dia, ustaz itu bukan lulusan pesantren, bukan tahfidz Quran, juga bukan ahli ilmu. Tapi masih saja banyak pengikut dan penuh setiap pengajiannya.

Belum lagi, beberapa bulan ke belakang misalnya, ustaz itu menafsirkan ayat Quran secara serampangan, yang pada akhirnya minta maaf atas kesalahannya. Seminggu lalu, dalam tausiahnya, dia memberikan pernyataan bahwa hukum mengerjakan A bid’ah, dan otomatis dengan pernyataan tersebut, membuat ustaz yang lain yang berbeda dengannya tersinggung. Ungkap teman saya ketika ngobrol sambil ngopi.

Kemudian saya cari di Facebook, ternyata benar saja pemimpin agama itu lagi viral, banyak yang mengecamnya akibat dari dakwahnya juga baca Qurannya.

“Jangan dulu dakwah, ngaji dulu yang bener.” Komentar netizen X

“Ternyata ngajinya jelek banget, tak tahu hukum tajwid, Astagfirullah,” kata netizen solehah.

“Jangan sok ngajarin, benerin dulu tuh baca Qurannya,” ungkap Y.

Begitulah kira-kira kecaman netizen, hampir tidak ada yang membela. Bahkan di situs yang lain, ada rekaman berisi tantangan untuk berdebat dengannya dan ada juga yang ingin melaporkan kejadian tersebut karena penistaan Agama. Duh, serem banget, ya.

Kemudian teman saya mulai mempertanyakan tentang banyaknya orang yang masih percaya hanya dengan balutan ucapan dan pakaian. Bagaimana ini? Ustaz ini sudah salah dalam menyampaikannya? Bagaimana dengan jalan menuju surga apabila salah menunjukan? Mungkinkah jamaahnya akan masuk neraka? Kata teman saya sambil sedikit marah-marah.

Dulu, di kampung saya, ada yang sama seperti ustaz tadi. Sudah sepuh. Bacaan Qurannya pun kurang jelas, terbata-bata, pokoknya kalau menurut ilmu yang saya pelajari di pondok, salah menurut hukum.

Banyak kesalahan dalam bacaannya, tapi dia selalu menjadi Imam. Mungkin tidak ada yang berani menggantikannya. Sempat ada yang ingin mengganti, tapi tidak bertahan lama. Sebab, ustaz tadi marah dan jemaah pun cendrung percaya kepada dia. Maka tidak ada yang berani lagi untuk menggantikannya menjadi imam.

Baca Juga:  Pak Ustaz, Sebaiknya Kita Memilih Dicintai Apa Mencintai?

Karena penasaran, saya bertanya kepada kiai saya di pesantren.

“Yai, di kampung saya ada ustaz yang bacaan fatihahnya banyak salah, juga dia bukan lulusan pesantren, dia menjadi imam salat berjemaah, terus suka ngisi mingguan masyarakat, bagaimana yai?”

“Yah tidak apa-apa, bagus.”

“Tapi maaf yai, bacaan tajwid dan mahroj hurufnya. bukankah tidak sah salat apabila bacaannya salah?”

“Iya memang betul, tapi kalau kamu kaji lebih dalam lagi, ternyata ibadah kita semua itu tertolak oleh Allah, rusak ibadah kita itu, bahkan tidak sampai pada Allah.”

“Mengapa bisa seperti itu, Yai?”

“Kalau kamu tahu, ibadah kita banyak tercampur dengan sifat dengki, sombong, ujub, takabur. Dan penyakit hati yang lainnya. Belum lagi ketika ibadah kita selalu digoda oleh syaitan. Allah juga memberikan surga nanti itu bukan atas ibadahmu saja, kan, tapi atas kasih sayang-Nya.”

“Memang, ketika kamu belajar di pesantren, kamu diajarkan sesuai ilmu, secara teks kitab, apalagi kalau menyangkut fiqih. Jadi kamu jangan heran nanti di masyarakat ada banyak perbedaan, apalagi kamu di pesantren ngajinya jalur Imam Syafi’i.”

“Soal bacaan ustaz tadi, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Mungkin saja ustaz tadi udah berusaha belajar Quran, tapi memang tidak mudah, ada proses yang panjang untuk bener-bener baca yang baik dan benar. Yang udah bener pun, akan menjadi salah apabila hatinya tetep dengki, karena terlalu menilai orang lain akan kesalahannya.”

“Tapi maaf Yai, bagaimana misalnya ustaz tadi pengikutnya banyak, terus mengajarkan yang salah?”

Sambil menghela nafas beliau menjawab:

“Oh itu, sebaiknya kamu jangan menjadi penentu sebuah hukum, kamu jangan jadi Allah. Kita harus sedikit berhusnudzon pada setiap orang, apalagi sama Allah. Setiap hikmah yang masuk pada setiap diri manusia itu bukan manusia yang atur, taufik dan hidayah itu datang hanya dari Allah. Apalagi ini urusan di bidang Agama. Kamu tidak akan bisa memberikan petunjuk apa pun tanpa seizin Allah dan bagitupun sebaliknya.”

Baca Juga:  Nangis di Pernikahan Mantan Itu Sudah Usang

Satu lagi katanya.

“Kamu jangan menganggap diri kamu itu paling bener, justru Allah itu seneng banget kalau ada hambanya yang selalu merasa dirinya banyak salah dan kurang. Itu menunjukan andap asor, bahwa Yang Maha Benar tetap Allah.”

Soal husnudzon, kiai saya menjelaskan: “Mungkin saja karena ceramahnya, jadi banyak orang yang berbuat baik, asalnya jahat jadi bener, asalnya tidak salat menjadi suka salat dan melakukan amalan yang lainnya.”

Selama ini kita selalu menilai orang dari setiap kesalahannya. Bahkan kita berusaha memansi umat yang lain untuk tidak mengikuti dia. Iyakan? Padahlah belum tentu juga kalau kamu yang dakwah terus eamaah banyak jadi suka terus ikuti kamu.

Selain itu, kita suka sumpah serapah terhadapnya, bahkan membencinya. Kita buat status di media sosial mengutuk ustaz tersebut. Kita menganggap amalannya tidak akan sampai pada Allah, nantinya masuk neraka.

Saya jadi malu. Harusnya kita malu. Selalu merasa diri ini paling benar. Merasa bacaan Quran paling beaer dan penguasaan ilmu paling benar pula.

Yang tidak boleh kita tolelir adalah jika ustasz tadi berbuat maksiat, berbuat asusila, dan norma lainnya. Jika pun berbuat demikian tadi, maka maafkan dan ingatkan dengan hikmah atau kebaikan jangan atas nafsumu.

BACA JUGA Terlalu Banyak Ustaz, Bukannya Maslahat, Malah Membuat Ribet Umat dan tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

---
20


Komentar

Comments are closed.