Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Melestarikan “Orang Pintar” Setara dengan Melestarikan Budaya

Taufik oleh Taufik
13 Juni 2019
A A
orang pintar

orang pintar

Share on FacebookShare on Twitter

Pada sebuah pertemuan menentukan tanggal pernikahan, seorang—sebut saja Namanya Joko—dari pihak perempuan begitu berapi-api mempertahankan pendapat. Bahwasanya keinginannya menentukan tanggal yang berbeda dengan pilihan yang telah diberikan kedua belah pihak. Tidak sesuai dengan apa yang ada dalam perhitungan tanggal menurut hitungan horoskop versinya. Di sisi lain, ketiga tanggal yang diajukan kedua belah pihak tidak memiliki karakter secara filosofis.

Sebagian dari masyarakat negara berkembang ini sudah mulai melupakan budaya hitung-hitungan khas tempo doeloe. Sebagian menganggap budaya ini sudah kedaluwarsa. Karena penentuan tanggal terutama hari pernikahan atau hajatan cukup tidak mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar—menurut mereka.

Sebagian lain menganggap bahwa menentukan tanggal suatu acara dengan perhitungan bukan budaya Islami yang religius. Sedangkan budaya hitung-hitungan hanya ada dalam dunia judi—mulai dari domino sampai dengan hitung-hitungan lotere—dan semua bentuk perhitungan dengan tujuan perjudian adalah haram hukumnya. Ngeri, Lur!

Tidak heran—pada akhirnya semua bentuk hitung-hitungan untuk penentuan hari menggelar hajatan atau keluar kampung dan merantau tidak begitu digemari lagi. Tidak ada lagi yang sehari menjelang keberangkatannya ke suatu tempat lantas datang pada “orang pintar” untuk mencari petunjuk. Tidak ada lagi yang sejak seminggu bahkan sebulan sebelum hajatan miliknya digelar, datang bersama keluarga menanyakan hari baik atau buruk demi kelancaran acaranya.

Bahwa apapun alasan untuk tidak lagi menggunakan jasa orang pintar, dukun, tukang ramal atau apapun namanya memang dikembalikan kepada personal masing-masing. Dengan alasan apapun, toh tidak pernah ada larangan apapun. Toh tidak pernah ada rujukan bahwa apapun gerak-gerik kita harus sesuai dengan arahan dari seorang dukun atau orang pintar. Juga alasan menganggapnya musyrik juga tidak ada masalahnya.

Sayangnya, kadang kita tidak bisa melihat nilai-nilai filosofis yang masih sangat dipegang oleh para dukun ini. Begitu banyak hal yang mereka utarakan justru tujuannya tersirat. Seringkali kita hanya melihat mereka dari sisi luar yang bisa terjangkau indra penglihatan—mentok-mentok pendengaran. Bahwa mereka memberikan kita cerita tentang banyak hal dan semua berkaitan dengan kehidupan kita pada tatanan terendah sampai dengan tertinggi.

Kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan zaman dan memunggungi mereka yang masih berjuang mempertahankan adat. Atau kita begitu terlihat sangat Islami sekali sampai memberikan cap mereka ke dalam kategori kafir. Di waktu yang sama kita melupakan adat kesopanan kita berbicara kepada yang lebih tua. Menganggap mereka yang kafir tidak ada unsur manusianya sehingga menyebut mereka “babi”, “anjing” atau semacamnya sudah lebih dari cukup—bahkan layak.

Saya pernah beberapa kali datang kepada para dukun atau si orang pintar ini. Menentukan tanggal keberangkatan, minta doa—walaupun doanya kebanyakan bahasa lokal—, menentukan hari hajatan dan lain sebagainya. Sebagai seorang yang masih dalam tahap belajar mendalami agama, hati saya memang begitu bingung—bercampur antara mempercayainya (walau tidak semua omongan mereka adalah kebenaran mutlak) atau berusaha menyangkalnya.

Baca Juga:

Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah

Suka Duka Menjadi Orang Jampang Sukabumi, Daerah Paling Berbahaya di Tanah Sunda karena Jadi Pusat Praktik Ilmu Hitam

Hal-hal yang mereka ramalkan, mereka katakan, atau mereka sarankan bisa saja salah—dan itu hal biasa. Tapi sebisa yang saya usahakan, saya menjaga etika saya saat berbicara. Saya mempertahankan argumen jika saya anggap itu harus. Dan pada level seorang Kafir Dzimmi, saya mempercayai apa yang mereka omongkan tentang kebenaran atau ramalan mereka yang benar atau pada akhirnya terbukti.

Soal mereka menggunakan setan untuk membantu mereka, saya tidak peduli—biarkan saja mereka percaya pada kekuatan setan yang membantu mereka. Saya hanya mempercayai kebenaran yang terbukti—karena pada hakikatnya, benar atau salah bergantung pada persepsi penglihatan kita. Dari sudut A salah, dari sudut B mungkin justru kebenaran mutlak.

Walau pada akhirnya saya harus dianggap kafir—saya hanya mencoba mengajak kepada kita semuanya yang masih begitu buta akan adat kebiasaan manusia-manusia lama. Mari kita kembalikan kejayaan orang-orang pintar ini. Mereka yang mampu melihat dua kali lebih tajam dari yang bisa kita lihat. Mereka yang merasakan dua kali lebih peka dari kita manusia normal.

Namun jika masih tidak terima, kita bisa tetap datang kepada mereka ini dengan pemikiran bahwa jika orang-orang pintar ini hilang lantas ada satu dari sekian banyak budaya kita yang hilang. Soal kita mau percaya atau tidak—tidak jadi soal. Pokoknya datang saja dulu dan tanyakan macam-macam hal—tanyakan solusi masalah, minta ramalkan sesuatu. Masalah tidak percaya pada akhirnya tetap tidak jadi soal.

Berpikirlah bahwa kita datang kepada mereka itu bukan dalam hal yang sakral namun lebih kepada, “Saya ingin menjadi bagian dari keberlangsungan sebuah adat dan tradisi.”

Soal kafir?—serahkan semua pada Yang Maha Menentukan. Karena kafirmu bukan urusan orang lain!

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: DukunMelestarikan BudayaOrang Pintar
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

perdunu pesugihan dewandaru dukun pemilu pesugihan tulungagung mojok.co

Dalam Politik, Jangan Percaya Dukun 100% jika Tidak Mau Kecewa

21 Juni 2020
5 Rekomendasi Drama Korea tentang Dukun dan Pemusnahan Iblis

5 Rekomendasi Drama Korea tentang Dukun dan Pemusnahan Iblis

6 Januari 2024
perdunu pesugihan dewandaru dukun pemilu pesugihan tulungagung mojok.co

Pernah Bayangin Rasanya Jadi Anak Dukun? Sini, Saya Kasih Tahu

3 September 2020
Sejarah dan Proses Terbentuknya Anggapan Pemakai Kacamata Itu Pintar terminal mojok.co

Sejarah dan Proses Terbentuknya Anggapan Pemakai Kacamata Itu Pintar

12 November 2020
Berhenti Menganggap Gudang Garam Merah sebagai Rokok Dukun, Zaman Sudah Berganti

Berhenti Menganggap Gudang Garam Merah sebagai Rokok Dukun, Zaman Sudah Berganti

2 November 2023
Orang Pintar Pamer di Twitter, Netizen Sewot. Kalian Kenapa, sih Terminal Mojok

Orang Pintar Pamer di Twitter, Netizen Sewot. Kalian Kenapa, sih?

19 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Jogja Itu Aneh: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

21 Mei 2026
Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.