Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Melecehkan Pelaku Pelecehan Seksual Itu Goblok!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
18 Desember 2022
A A
Melecehkan Pelaku Pelecehan Seksual Itu Goblok!

Melecehkan Pelaku Pelecehan Seksual Itu Goblok! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apakah Anda puas melihat pelaku kejahatan dihukum? Apakah Anda lega saat tau begal dikeroyok massa? Aoakah Anda senang saat tahu geng motor dipukuli polisi? Atau Anda mendukung pelaku pelecehan seksual ditelanjangi dan disuruh minum kencing?

Jika iya, maka Anda sedang melanggengkan kejahatan dan masalah sosial. Dan maaf, itu goblok!

Mungkin Anda akan mengira saya sedang membela pelaku pelecehan seksual. Atau malah mengira saya teman dari pelaku. Bukan, saya tidak kenal dan tidak mau kenal dengan mereka. Saya juga tidak sepakat dengan pelecehan seksual dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Saya hanya ingin membuka mata Anda tentang penanganan kejahatan yang pekok.

Kenapa saya bilang pekok? Karena penanganan berlandaskan balas dendam tidak pernah menyelesaikan masalah. Jika mau menyelesaikan kejahatan, seksual atau yang lain, yang perlu diselesaikan adalah akarnya. Memperbaiki situasi yang menyebabkan kejahatan terjadi. Dan memberi kesempatan bagi korban untuk pulih. Bukan sekadar puas dengan balas dendam!

Pelecehan seksual terjadi karena pelaku merasa berhak menguasai tubuh korban. Entah dengan ancaman, kekerasan langsung, atau manipulasi. Nah, solusi yang tepat adalah mengatasi pemikiran itu. Pelaku pelecehan seksual harus direhabilitasi agar tidak kembali ke masyarakat sebagai bajingan.

Alih-alih menyelesaikan masalah, melecehkan pelaku pelecehan seksual sama dengan pelanggengan masalah. Para “hakim” menjadi pelaku pelecehan dalam bentuk lain. Pusaran setan ini akan menyuburkan perampasan hak asasi sebagai jawaban dari masalah sosial.

“Tapi korban akan trauma seumur hidup! Ini keadilan bagi korban!”

Kalau korban mengalami trauma, ya berikan pendampingan psikologis! Apakah memberi balas dendam akan menyembuhkan korban? Jelas tidak. Mereka butuh terapi profesional agar sembuh dari trauma. Saya sepakat jika biaya pendampingan dan terapi ini dibebankan pada pelaku. Tapi bukan balas dendam yang melecehkan. Justru balas dendam bisa membawa ketakutan baru pada korban. Entah balas dendam dari pelaku, atau rasa bersalah.

Baca Juga:

Balada Perempuan Penghuni Jogja Selatan, Gerak Dikit Kena Catcalling Orang Aneh, Ketenangan Itu Hanya Hoaks!

Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

“Tapi nanti tidak ada efek jera. Nanti akan ada pelaku lain karena tidak takut hukumannya!”

Nah ini juga pemikiran pekok. Kalau mau bebas dari kasus pelecehan seksual, ya perbaiki mental manusianya. Cegah lahirnya bibit pelaku dari akar. Jika hukuman balas dendam yang dipakai, itu tidak memberi efek jera apapun. Yang ada malah lahirnya cara kreatif untuk mencegah ketahuan. Mencari celah agar tidak kena hukuman. Entah sembunyi-sembunyi, atau memanfaatkan relasi kuasa.

Perbaiki otak manusianya. Perbaiki mental dan cara pandangnya. Semua bisa jadi korban, dan semua bisa jadi pelaku. Kalau semua pake cara an eye for an eye, ya nggak bakal kelar.

Ini juga berlaku untuk kejahatan lain. Misal klitih atau aksi kekerasan jalanan lain. Apakah menggebuki pelaku bisa memberi efek jera jangka panjang? Kalau iya, pasti Jogja sudah bebas dari klitih. Pasti geng di Surabaya sudah bubar. Kenyataannya? Tidak kan? Meskipun pelaku dihajar dan dipermalukan, tetap saja ada pelaku lain. Klitih tidak hilang, dan geng Surabaya makin menggila. Kenapa?

Karena sumber masalahnya tidak pernah diatasi! Semudah ini lho logikanya, mosok nggak nyampai. Kalau mau tidak ada klitih, ya selesaikan sumber klitih. Gali lebih dalam alasan seseorang melakukan klitih. Dari masalah sosial di lingkungan, sampai doktrinasi maskulinitas toksik. Kalau itu yang diselesaikan, saya yakin tidak akan ada klitih dan sejenisnya. Karena “bibit” kejahatan tidak tumbuh karena kehilangan alasan.

Pencurian dan perampokan? Ya gali lagi dari sisi ekonomi. Misal pelaku berekonomi cukup, gali lagi masalahnya. Mungkin karena situasi sosial yang membuat ia butuh uang cepat. Atau kultur maling yang dipelihara di komunalnya. Hal-hal seperti ini lebih efektif daripada seribu penjara.

Kembali ke pelecehan seksual. Saya paham jika Anda, para peleceh pelaku pelecehan, pasti muak dan marah. Nah pertanyaan saya adalah: Anda hanya mau pelampiasan, atau mengatasi kasus pelecehan seksual? Apakah Anda benci pelecehan seksual, atau butuh cara melampiaskan amarah saja? Apakah Anda ingin korban sembuh dari lukanya, atau sekadar menjadikan pelaku pemuas nafsu keji semata?

Saya berani taruhan potong leher, setelah kasus pelecehan pelaku di Gunadarma, akan ada pelecehan seksual di tempat lain. Kekejaman tanpa solusi ini tidak akan jadi efek jera ataupun alat pencegah. Karena pelaku pelecehan seksual adalah manusia yang rusak nalarnya. Keliru cara pandangnya atas tubuh orang lain. Dan tidak akan melihat kejadian Gunadarma sebagai teror yang menakutkan.

Masak gini aja kalian nggak paham? Atau memang Anda semua hanya butuh pelampiasan? Tanpa peduli dengan korban ataupun pencegahan kasus pelecehan seksual di masa mendatang?

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Krisis Ruang Aman bagi Perempuan dari Pelecehan Seksual: Ketika Pesantren dan Kampus Jadi Ruang Penjahat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2022 oleh

Tags: Kekerasankeroyokanmain hakim sendiriPelecehan Seksual
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Sumber gambar Pixabay

Pelaku Pelecehan Seksual dan para Petinju Andal

9 September 2021
Lelaki yang Alami Pelecehan Seksual Itu Masalah Super Besar dan Bukan Guyonan! terminal mojok.co

Lelaki yang Alami Pelecehan Seksual Itu Masalah Super Besar dan Bukan Guyonan!

18 Januari 2021
Mystic Pop-up Bar pelecehan seksual drakor MOJOK

Pesan dari Serial Drakor “Mystic Pop-up Bar” untuk Pelaku dan Korban Pelecehan Seksual

2 Juli 2020
feminisme

4 Hal yang Diberikan Feminisme untuk Laki-laki

14 Mei 2019
Dosen Pelaku Pelecehan Seksual Disanksi Skorsing Sekaligus Izin Belajar Lanjut Doktoral, Ini Sanksi Apa Hadiah MOJOK.CO

Mengapa Korban Pelecehan Seksual Memilih Speak Up di Internet ketimbang Melapor?

21 Juni 2021
Dosen Pelaku Pelecehan Seksual Disanksi Skorsing Sekaligus Izin Belajar Lanjut Doktoral, Ini Sanksi Apa Hadiah MOJOK.CO

Gofar Hilman dan Monyet di Kebun Binatang

15 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

10 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.