Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Melawan Stigma Negatif Pemuda Suburban Nongkrong doang Depan Gang

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
17 Januari 2021
A A
pemuda suburban nongkrong di gang mojok

pemuda suburban nongkrong di gang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kita hidup di dalam keanekaragaman manusia. Kita hidup dalam kemajemukan yang tak jarang menjemukan. Setiap kepala punya pikiran sendiri, baik yang disampaikan ataupun ditahan-tahan. Jadi, jika ada melihat pemuda suburban tengah nongkrong di pagi, siang, hingga malam hari, bolehlah Anda punya penafsiran dan justifikasi versi Anda sendiri. Saya pribadi sempat menjadi bagian dari budaya pinggiran kota itu. Saya tak sepenuhnya lepas dari tongkrongan, hanya frekuensinya saja yang berkurang. Bisa dibilang, mereka ini ganteng doang nongkrong depan gang.

Sejarah terciptanya budaya ini juga tak mudah diteliti, minim dokumentasi. Namun, tiap daerah, tiap gang, tiap jalan tikus, tiap pinggir jembatan, tiap pinggir kali, punya sejarah dan ceritanya sendiri-sendiri. Di tempat saya misalnya, ada satu titik sentral pemusatan budaya nongkrong ini. Sebuah pertigaan, tempat angkot dan tukang ojek mangkal, merupakan pusat pemerintahan dan personalia dari budaya nongkrong. Penataran yang cenderung bersifat kekeluargaan dilakukan di tempat ini. Nongkrong di zaman ‘70 sampai ’80-an, semua semata-mata untuk menjaga keamanan, karena memang para anggota pengaman yang mendiami (mereka ini yang pada akhirnya dikenal sebagai konteng atau preman).

Nongkrong di kala itu, dipandang sebagai kebutuhan keamanan juga eksistensi tiap daerah. Pangkalan ojek ini, melawan pangkalan ojek sana, bukan dengan adu jotos, tapi adu olahraga.

Tiap konteng akan membentuk tim voli atau sepak bola, tentu melibatkan anak daerah situ, kebanyakan anak yang ikut nongkrong. Jadi di masa itu, nongkrong di daerah suburban yang keras, adalah hal yang bisa dipandang positif, walau miras dan judi juga ikut berpartisipasi. Pokoknya anak muda punya wadah dan kegiatan yang positif. Waktu bergeser ke media ’90-an, saat preman senior mulai pensiun, muncullah generasi anak muda lain, tetap mengikuti kegiatan olahraga dan saat itu ditambah belajar musik dan kesenian jathilan, namun sayang judi dan miras terlalu mendominasi.

Sehingga pada akhirnya, nongkrong di tempat itu sudah bukan sesuatu yang membanggakan dan terkesan positif lagi. Yang membuatnya makin terpuruk adalah, para penerus ini hanya mengikuti lifestyle-nya saja. Nongkrong tapi nggak kerja, jika dulu iuran dan uang keamanan hanya sebatas seikhlasnya dan yang penting dihormati, di medio ’90-an ini semua dilakukan dengan pemaksaan, nggak asik. Sehingga di masa inilah, nongkrong mulai dipandang negatif dan orang tua melarang anaknya keluar.

Masuk ke era 2000-an, masa kecil saya. Angkot dan ojek sudah mulai ditinggalkan masyarakat suburban. Di era ini, motor dan mobil pribadi merajalela, pertigaan menjadi sepi, kering kerontang. Tempat nongkrong pun berpindah masuk ke sudut gang atau depan warung kelontong (angkringan belum masuk wilayah saya, Magelang). Abang-abang saya ini kerjanya ya main PS dan Sega, ngerokok, minum di malam Minggu, main voli atau sepak bola di sore hari, sampai touring naik motor keluar kota. Kekompakan masih ada, namun unsur miras dan judi mulai berkurang, yang hilang adalah sosok penjaga ataupun preman. Alhasil, olahraga kurang berkembang dan kesan yang timbul hanyalah main-main saja. Alat musik dan peralatan jathilan rusak tak terawat, hingga pada akhirnya hilang entah kemana. Para orang tua mulai melihat nongkrong era ini sebagai gaya-gayaan saja, main saja, membuat nilai sekolah jelek dan lama-kelamaan, hilang ditelan zaman. Kini, hanya sedikit yang mengamalkan nongkrong jenis ini, saya boleh mengaku sebagai angkatan terakhir, angkatan 2010-an ke sini dikit. Angkatan tanpa miras dan judi, namun penuh medsos.

Saat fenomena nongkrong pemuda suburban hilang, rupanya banyak hal positif yang ikut raib. Maling merajalela, hajatan dan orang meninggal sepi sinoman (penjelasan mudahnya, para pemuda tukang angkat baki minuman dan snack), kerja bakti sepi pemuda, dan yang paling menyedihkan, olahraga dan kesenian tak berkembang. Rupanya, tanpa adanya nongkrong, lini kepemudaan menjadi ambrol, kurang kompak. Di era saya, tanpa disuruh, jika ada orang meninggal atau dimintai tolong di hajatan, kami selalu siap sedia jadi sinoman. Ada kerja bakti, langsung berangkat. Semua itu terjadi, karena ada abang-abangan yang jadi panutan, walau ngajarin minum, tetap saja merekalah yang mengajari untuk menjadi bagian dari masyarakat dengan baik dan benar, mabuk boleh, rusuh dan apatis jangan.

Era ABG saya, nongkrong mulai berganti menjadi organisasi karang taruna, kami rutin berkumpul setiap seminggu sekali, membuat program kerja, dan lain-lain. Tentu setelah itu ngumpul di depan gang atau warung, namun tetap aktif di kegiatan desa. Sekarang, tak ada lagi ABG yang mau ikut rapat karang taruna, entah kenapa para orang tua juga tak memperbolehkan anaknya ikut kumpulan. Sudah berkali-kali saya dan teman-teman melakukan semacam ajakan dan permohonan izin ke orang tua, agar anaknya boleh ikut kegiatan kami. Namun sepertinya, kegiatan kami tak bermutu dan hanya akan mengganggu sekolah dan kuliah putra putrinya.

Baca Juga:

Jalan Ngluwar Magelang yang Bobrok Adalah Area Paling Cocok untuk Simulasi Ujian SIM 

Tutorial Menyelamatkan Purworejo: Jiplak Saja Wisata Kebumen dan Cara Magelang Menciptakan Lapangan Kerja

Lalu kenapa nggak (dibolehin) ikut kerja bakti dan nyinom? Bukankah itu kegiatan positif? Dan di mana buruknya karang taruna?

Nyatanya stigma negatif tetap harus kami terima, karena kami lulusan tongkrongan, sehingga tak bisa dipercaya. Pergeseran budaya nongkrong, rupanya berimbas pada menipisnya rasa kesatuan dan kerukunan. Nongkrong doang depan gang, yang selama ini dianggap sebagai kegiatan negatif, rupanya benar-benar kita butuhkan di era keAkuan dunia penuh medsos ini.

BACA JUGA 7 Spesies Operator Sound System yang Sering Muncul di Hajatan Kampung dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2021 oleh

Tags: Budayakriminalismemagelangnongkrongsuburban
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia

26 November 2020
Indomaret Harusnya Introspeksi Diri. Udah Volume Musiknya Terlalu Keras, Nggak Sedia Asbak pula, Gimana Konsumen Mau Nyaman?

Indomaret Harusnya Introspeksi Diri. Udah Volume Musiknya Terlalu Keras, Nggak Sedia Asbak pula, Gimana Konsumen Mau Nyaman?

24 November 2023
Dilema Reaktivasi Jalur Kereta Jogja-Magelang: Penting untuk Diwujudkan, tapi Susah (Pake) Banget

Dilema Reaktivasi Jalur Kereta Jogja-Magelang: Penting untuk Diwujudkan, tapi Susah (Pake) Banget

16 Februari 2024
ngaji pasaran tadarus al-qur'an ramadan salat tarawih mojok

Tadarus Al-Qur’an dan Kudapan yang Menyertainya. #Takjilan Mojok06

15 April 2021
Knalpot Brong di Magelang: Jadi Tradisi dan Peluang Usaha

Knalpot Brong di Magelang: Jadi Tradisi dan Peluang Usaha

12 Juni 2023
Di Magelang, Ada Ojek yang Bisa Dimakan. Rasanya Enak, Teksturnya Kenyal, Harganya Murah Meriah

Di Magelang, Ada Ojek yang Bisa Dimakan. Rasanya Enak, Teksturnya Kenyal, Harganya Murah Meriah

23 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
4 Aturan Tidak Tertulis Saat Menulis Kata Pengantar Skripsi agar Nggak Jadi Bom Waktu di Kemudian Hari

4 Tips untuk Bikin Mahasiswa Cepat Paham dan Tidak Kebingungan Mengerjakan Skripsi

19 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.