Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Melawan Nafsu Merusak Bumi: Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis

Rezha Rizqy Novitasary oleh Rezha Rizqy Novitasary
3 Juli 2022
A A
Melawan Nafsu Merusak Bumi : Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur'an dan Hadis

Melawan Nafsu Merusak Bumi: Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur'an dan Hadis (Situs Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Membicarakan isu lingkungan, kita kerap menemui istilah rumit dan topik-topik yang amat jauh dari manusia. Kerusakan alam, hal yang harusnya jadi pembicaraan penting tiap manusia, malah jadi dihindari karena isunya dibikin jauh dengan kehidupan manusia. Buku Melawan Nafsu Merusak Bumi, adalah antitesis hal tersebut. kita akan diajak bicara isu kerusakan lingkungan lewat sudut pandang agama, yang amat dekat dengan kehidupan manusia.

AS Rosyid membuka buku Melawan Nafsu Merusak Bumi ini dengan pernyataan yang menarik. Ia mengajak kita untuk membuka pikiran dengan mempertanyakan kehalalan daging hewan. Selama ini, dalam Islam kita mengenal bahwa daging hewan yang halal adalah yang disembelih dan dibacakan asma Allah. Namun, benarkah kehalalan daging hewan hanya sebatas syariat pada saat penyembelihannya? Bagaimana jika dalam proses peternakannya hewan tersebut mengalami manipulasi dan eksploitasi? Masihkah hukum halal menyertainya?

Sampai pada bagian ini saya mengingat kisah tentang peternakan ayam petelur yang dibesarkan dalam kandang baterei. Seumur hidupnya, ayam hanya berada dalam kandang, tidak bisa menginjak tanah dan hidup bebas. Kita juga diajak mengingat eksploitasi sapi perah. Demi terus memproduksi susu buat manusia, bayi-bayi sapi perah segera dipisah dari induknya sesaat setelah dilahirkan. Mereka nyaris tidak pernah merasakan susu induknya.

Bagaimana mungkin kita tega menyakiti spesies lain hanya demi memenuhi keserakahan—bukan lagi kebutuhan—manusia? Akar dari masalah ini tak lain adalah pandangan antroposentrisme. Yaitu memandang manusia sebagai pusat kehidupan. Sementara makhluk lain hanyalah sebagai pelayan dan pemuas buat manusia.

Suatu kegelisahan bagi AS Rosyid manakala ada salah satu kawannya yang muslim menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar. Kawannya tak menganggap bahwa eksploitasi hewan bakal menyakiti hewan. Bahkan kawannya berpendapat memang seperti itulah kodrat hewan, memenuhi kebutuhan manusia.

Sungguh disayangkan, mengingat sebenarnya Islam adalah agama yang ramah terhadap alam dan hewan. Hal ini dapat kita ketahui dari berbagai peristiwa di zaman Rasulullah saw. Saat berperang, Nabi saw selalu mengimbau kepada para sahabat agar tidak mengorbankan pohon dalam strategi perang. Dari peristiwa ini saja, kita bisa melihat bagaimana cara Nabi saw menghormati pohon sebagai makhluk hidup yang mampu berfotosintesis dan menghasilkan oksigen.

Dalam memelihara hewan, Nabi saw juga mencontohkan etika yang baik. Misalnya saja memberi nama untanya dengan Qoshwa. Pemberian nama ini menunjukkan betapa sayangnya Nabi saw kepada untanya. Nabi saw juga menegur sahabat yang mengasah pisau di depan kambing yang akan disembelih. Dari sini tampak sekali bahwa Nabi saw mengajarkan kita untuk turut memperhatikan mental hewan yang akan kita sembelih. Jangan sampai membuat mereka stres.

AS Rosyid mengajak kita untuk berpikir bagaimana pengetahuan dan istilah dalam Islam memiliki makna secara ekologis. Selama ini kita memandang segala istilah yang dikenal Islam adalah semata istilah agama dan pertanggungjawabannya pun hanya sebatas aspek religi. Namun, melalui buku ini, kita diajak mengurai benang kusut di kepala kita. Menyadari pesan ekologi di balik istilah-istilah tersebut.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Misalnya saja dari istilah “Bumi adalah Masjid”. Lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana dan berbagai peristiwa yang ia sajikan, kita akan memahami bahwa “Bumi adalah Masjid” mengandung makna ekologi yang amat dalam. Selama ini saya hanya memahami bahwa artinya sekadar bisa salat di mana saja, Bisa di ruang salat, di kamar, di teras, atau bahkan di tepi trotoar ketika tak menemukan masjid. Tapi, ternyata di balik istilah tersebut terkandung makna yang luar biasa dari istilah “Bumi adalah Masjid”. Makna yang tak pernah kita kira sebelumnya.

Contohnya lagi tentang makna Khalifah. Allah menciptakan manusia di bumi sebagai khalifah. Makna tersebut rupanya sering sekali diartikan oleh golongan tertentu untuk mewujudkan cita-citanya: membentuk negara dengan sistem kekhalifahan.

Saya jadi ingat apa yang diungkapkan oleh Bu Nyai Nur Rofiah. Bahwa Al-Qur’an itu selalu adil dan benar. Tetapi, Al-Qur’an akan selalu ditafsirkan oleh manusia untuk mendukung keperluannya masing-masing. Seperti halnya ayat poligami, yang sebenarnya merujuk pada cita-cita Islam yang mewujudkan pernikahan monogami. Bagi orang-orang yang memilih poligami akan menggunakan ayat tersebut untuk mendukung keinginannya.

Makna khalifah menjadi menyempit sekadar sistem kekhilafahan dalam suatu negara. Seperti impian golongan tadi. Akan tetapi sebenarnya istilah ini membawa makna luas. Mengingatkan kita sebagai manusia yang punya tanggung jawab besar terhadap semesta raya.

AS Rosyid juga menjabarkan keterlibatan negara dalam hal perusakan lingkungan. Jika negara mendukung korporasi dan sistem kapitalisme, dapat dipastikan akan ada kelestarian lingkungan yang dikorbankan. Apalagi jika dilakukan kriminalisasi terhadap suara perlawanan.

Di bagian ketiga dari buku ini, penulis mengajak kita berpikir lebih luas. Penulis mengajak kita berdiskusi tentang beberapa tema menurut sudut pandang Islam yang jarang sekali dibahas oleh para ulama. Namun, AS Rosyid sangat berhati-hati membahas hal ini. Dengan berpatokan kepada fiqih dan syariat yang tak perlu diubah, kita akan diajak menggali makna dari setiap tema yang disajikan.

Salah satu dari tema yang disajikan adalah childfree. Sebuah pilihan hidup yang banyak sekali menerima hujatan dan kontra dari berbagai kalangan. Melalui tulisan inilah, kita akan belajar memahami bahwa hidup tak hanya persoalan benar dan salah. Namun, juga penggalian makna dan niat awal dari pilihan hidup yang kita ambil. Childfree, dikupas tuntas dari sudut pandang agama dan ekologi. Begitu pula tema-tema yang lain yang tak kalah menarik.

Membaca buku ini rasanya seperti diajak berlibur ke suatu pulau yang perairannya jernih dan banyak terumbu karangnya. Kita sudah terpesona sejak perahu berangkat berlayar. Pikiran kita yang suntuk dan ruwet akan tersibak saat melihat birunya air laut. Lalu saat kita bersnorkeling di permukaan lautnya, kita akan semakin terpesona dengan pemandangan terumbu karangnya. Lalu, perlahan kita akan menyelam dan semakin terpesona dengan harta karun yang ada di bawah laut.

Penulis mampu menarik tafsir berupa pesan ekologi dari ayat Al Quran maupun Hadist. Suatu kelebihan yang membuat buku ini istimewa. Sekaligus membuat kita ingin segera menuntaskan buku ini.

Seperti judulnya, Melawan Nafsu Merusak Bumi, penulis rasanya berhasil mengajak pembacanya untuk menjinakkan kehendaknya atau nafsu konsumerisme. Setelah membaca buku inipun, pikiran saya jadi lebih terbuka. Setidaknya di level saat ini, saya ingin ikut serta dalam usaha pelestarian bumi. Salah satunya dengan mengurangi gaya hidup konsumerisme, cikal bakal terciptanya jejak limbah yang panjang.

Sumber gambar: Situs Buku Mojok

Penulis: Rezha Rizqy Novitasary
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Menjelajahi Reportase Beragam Kisah Bersama Cak Rusdi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2022 oleh

Tags: AS RosyidBuku Mojokmelawan nafsu merusak bumireview buku
Rezha Rizqy Novitasary

Rezha Rizqy Novitasary

Seorang perempuan, pengajar SMA, dan penikmat waktu pagi.

ArtikelTerkait

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta: Kejujuran yang Megah dan Mahal

28 November 2021
Genealogi Hoaks Indonesia_ Catatan Padat Satu Dasawarsa terminal mojok

Genealogi Hoaks Indonesia: Melihat Hoaks Berlipat Ganda dalam Satu Dasawarsa

22 September 2021
Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan untuk Berbagi Beban Kehidupan Terminal Mojok

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan dan Berbagi Beban Kehidupan

30 Juni 2022
Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

15 September 2023
Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

30 Januari 2023
Perjalanan Penuh Makna dan Misteri Bersama Oskar Belajar Pergi Terminal Mojok

Perjalanan Penuh Makna dan Misteri Bersama Oskar Belajar Pergi

13 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang Mojok.co

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang

7 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Bundaran Jombor, Salah Satu Titik Meresahkan di Jalan Magelang Mojok.co

Jalan Magelang: Surganya Depo Pasir dan Nerakanya Pengendara Cupu

8 Mei 2026
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026
PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit Terminal

PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit

8 Mei 2026
5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota Mojok.co

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota

10 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.