Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu

Butet RSM oleh Butet RSM
7 Oktober 2025
A A
Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram

Share on FacebookShare on Twitter

Selama ini, ada kesan bahwa MBG hanya ditolak oleh segelintir orang. Di media sosial, orang-orang yang menolak MBG sering dinarasikan oleh kelompok pro MBG sebagai orang yang tidak bersyukur. Seolah-olah, program ini merupakan sebuah program sempurna yang memang hanya bisa diterima dan disyukuri oleh semua pihak.

Siapa pun yang antipati dengan MBG, akan dianggap tidak pro pada akar rumput. Mereka yang menolak MBG dianggap buta dan tuli nurani pada sebagian orang yang bersyukur atas keberadaan program ini. Narasi itu disebar oleh banyak sekali akun, seolah seluruh akar rumput terwakili oleh narasi itu.

Suara kebenaran dari pasar tradisional

Pada kenyataannya, di akar rumput yang kontra dengan MBG juga sangat banyak. Dalam dua hari berturut-turut, saya mendengar sendiri keluhan dari pedagang di pasar soal penyelenggaraan program ini. Seorang bakul brambang keliling berhenti di warung saya. Kami sudah selesai bertransaksi, tapi ia memutuskan untuk duduk sejenak dan mengobrol.

“Mbak, warungmu sepi ora?”

“Awal tahun ini rame, Mas. Tapi setelah Idul Adha, omset turun separo.”

“Berarti podo karo liyane, Mbak. Njenengan ngerti ora. Iki ki gara-gara MBG. Dodolanku sepi banget. Muter-muter ya tetep ra ono sing tuku.” keluhnya.

Ia mengeluh tentang turunnya omset. Dan menurutnya, omsetnya semakin merosot sejak semakin banyaknya penerima MBG.

Hal ini bukan ia saja yang mengalami, tapi juga banyak warung dan pedagang di pasar tradisional. Lalu ia bercerita panjang tentang bagaimana warung makan kecil yang biasanya membeli bawang brambang darinya tiap hari berubah menjadi tiga hari sekali bahkan bisa sampai lima hari baru beli brambang.

Menurutnya, biasanya, warung-warung makan itu ramai karena banyak orang tua yang mengandalkan warung makan kecil untuk makan siang anaknya. Tapi sejak adanya MBG, warung-warung makanan rumahan itu menurun pendapatannya. Keluh kesah mas bakul brambang ini tidak berdiri sendiri. Ada banyak cerita dari pedagang kecil di pasar terkait keberatan mereka dengan MBG.

Di lain hari, saat saya ke pasar, seorang simbah pedagang bumbu dapur juga mengeluhkan hal yang sama. Saat itu, seorang juragan sayur dari Wonosobo bercerita bahwa ia mengalami perubahan jam kerja sejak menjadi supplier sayur sebuah SPPG.

Baca Juga:

Makan Bergizi Gratis: Ketika yang Gratis Justru Bikin Masuk Rumah Sakit

MBG di TK: Niat Baik yang Realitasnya Cuma Bikin Ribet

Biasanya jam 5.30 pagi ia sudah kembali ke Wonosobo. Tapi kini, ia harus menunggu hingga jam 7 karena ia harus mengantar sayur untuk SPPG di jam 7.30. Ia mengeluh karena kadang SPPG sering memberi permintaan-permintaan dadakan di jam istirahatnya. Kadang permintaan itu tidak mudah dikerjakan oleh bakul sayur sepertinya, misalnya mereka meminta kentangnya sudah harus dikupas.

Lalu, simbah pedagang bumbon di lapak sebelahnya menimpali. “Ora apik MBG kuwi, ora apik. Marai pasar sepi.” 

MBG meningkatkan perekonomian siapa?

Suara-suara minor dari kelompok pedagang kecil ini sangat lirih. Rasan-rasan mereka hanya berdengung di pasar, di antara lorong pasar yang tak lagi ramai pengunjung. Jumlah pedagang di pasar tradisional jelas banyak.

Kelompok ini adalah target market partai politik saat melakukan kampanye. Kita bisa menyaksikan media sosial dipenuhi foto pejabat partai di pasar saat mereka butuh atensi. Tapi di mana partai saat target marketnya mengeluh seperti ini?

Saya jadi semakin heran, dengan narasi bahwa MBG adalah program untuk mengangkat perekonomian. Pertanyaannya, perekonomiannya siapa? Dari cerita di sekitar saja jelas-jelas potensi omset berdagang pedagang pasar terenggut oleh keberadaan MBG. Memangnga berapa banyak rekanan supplier SPPG dari UMKM sungguhan yang beneran bisa terangkat perekonomiannya?

Para kreator yang berisik

Seiring dengan semakin banyaknya berita keracunan terkait MBG, meningkat pula jumlah konten kreator yang berisiknya bukan main. Mereka riuh menceritakan keindahan semu MBG. Sepintas, mereka seperti menjadi antitesis dari dosa-dosa MBG. Tapi semakin diikuti, semakin terlihat bahwa mereka tak lebih dari sekadar pendengung yang ngonten untuk membuat narasi positif dan mengabaikan kenyataan gelapnya cerita seputar pelaksanaan MBG.

Sekitar satu bulan belakangan saya mengikuti seorang konten kreator FB Pro, Hendry Kumink namanya. Ia seorang chef yang bekerja di SPPG. Hampir setiap hari ia membuat konten tentang sajian MBG di SPPG-nya. Tampilan makanan yang layak dan enak selalu muncul di kontennya.

Ia membuat narasi bahwa jika tidak dikorupsi dan setiap SPPG dipimpin oleh chef dan ahli gizi yang profesional, maka menu MBG bisa sebaik karyanya. Kenarsisannya didukung dengan pembuktian berupa screenshot komentar dari anak sekolah yang mendapat MBG dari dapurnya. Pujian-pujian yang, yah, begitulah.

Awalnya saya kira kreator sepertinya bisa menjadi harapan untuk terlaksananya MBG yang ideal. Saya membayangkan bahwa MBG bisa aja nggak buruk-buruk amat jika auditnya jelas, akuntabilitas oke, sanitasi terjamin, distribusi bagus, dan kualitas pangan terjamin. Saya pernah berpikir bahwa jika ada influencer yang seperti itu, bisa melecut SPPG di seluruh Indonesia untuk berlomba memperbaiki kualitas menu MBG. 

Tetapi, setelah mendengar lirihnya keluhan para bakul pasar, rasanya MBG sungguh tak punya nilai positif lagi. Terlalu banyak yang harus dikorbankan demi memelihara program yang semata-mata punya nilai politis. Bisakah untuk sebentar saja, para elite di negara ini benar-benar menyediakan telinga, hati, dan pikirannya untuk orang-orang biasa?

Penulis: Butet RSM
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dari Burger hingga Kepemimpinan Militer: 3 Akar Krisis MBG yang Kini Terungkap

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2025 oleh

Tags: efek buruk MBGkeracunan MBGmbgpedagang pasar
Butet RSM

Butet RSM

Ibu dari tiga anak, penulis lepas yang tinggal di Bantul. Terbiasa menulis tentang UMKM, pasar, pendidikan alternatif, dan keresahan sosial.

ArtikelTerkait

Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

MBG di TK: Niat Baik yang Realitasnya Cuma Bikin Ribet

24 September 2025
Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram

29 Agustus 2025
Pengalaman Keracunan MBG: Malas Sekolah hingga Trauma Mendapatkan Makanan Gratis

Pengalaman Keracunan MBG: Malas Sekolah hingga Trauma Mendapatkan Makanan Gratis

5 Mei 2025
Makan Bergizi Gratis Tujuannya Bikin Kita Masuk Rumah Sakit (Unsplash)

Makan Bergizi Gratis: Ketika yang Gratis Justru Bikin Masuk Rumah Sakit

26 September 2025
Tragedi MBG di Sleman Adalah Dosa Pemerintah Pusat pada Kota Pendidikan

Tragedi Rawon Maut di Sleman Adalah Dosa Pemerintah Pusat pada Kota Pendidikan

23 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Magetan: Nama Baru, Lokasi Antah Berantah, Mencoba Membendung Popularitas Stasiun Madiun yang Duluan Terkenal

Stasiun Magetan: Nama Baru, Lokasi Antah Berantah, Mencoba Membendung Popularitas Stasiun Madiun yang Duluan Terkenal

10 Januari 2026
Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

6 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026
5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part Mojok.co

5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part

8 Januari 2026
10 Istilah Populer di Kampus Unpad yang Penting Diketahui Mahasiswa Baru Mojok.co

10 Istilah di Unpad yang Perlu Diketahui Mahasiswanya biar Nggak Dikira Kuper

7 Januari 2026
3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa Mojok.co

3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa

5 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.