Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Demi Pacar, Saya Rela Menyukai Minuman Matcha yang Selama Ini Dibenci karena Rasanya Mirip Rumput

Budi oleh Budi
4 Agustus 2025
A A
Rasa Minuman Matcha seperti Rumput dan Saya Terpaksa Menyukainya Selama Bertahun-tahun demi Pacar Mojok.co

Rasa Minuman Matcha seperti Rumput dan Saya Terpaksa Menyukainya Selama Bertahun-tahun demi Pacar (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Minuman berbahan dasar matcha sedang naik daun beberapa waktu belakangan. Saking diminati, negara asalnya, Jepang, diberitakan sempat mengalami kelangkaan matcha. Produksi matcha memang meningkat, tapi itu tidak bisa mengimbangi permintaannya yang naik jauh lebih tinggi. 

Ngomong-ngomong soal matcha, saya jadi teringat pengalaman konyol. Pengalaman konyol yang saya kira bisa dibilang romantis juga. 

Menurut saya, ada banyak cara menunjukkan rasa sayang pada pasangan atau pacar. Tidak perlu gesture yang hebat seperti berkorban atau memberi hadiah mahal. Bagi saya, gesture sederhana seperti mencoba menyukai apa yang digemari pasangan tidak kalah romantis. 

Itulah yang saya lakukan dahulu. Bertahun-tahun saya mencoba menyukai matcha yang sangat disukai pacar saya. “Kamu harus coba, ini enak banget, serius deh,” begitu katanya berkali-kali meyakinkan. Saya tegaskan, berkali-kali!

Mencoba berbagai macam matcha padahal nggak menyukainya

Konon katanya, minuman yang berasal dari Jepang ini penuh khasiat. Matcha bisa menenangkan jiwa, punya antioksidan tinggi, dan bikin awet muda. Hal lain yang coba ditanamkan pacar pada saya, minuman ini cocok untuk orang-orang yang punya selera tinggi. 

Akan tetapi, semua keunggulan yang disebutkan itu rasanya tidak menarik lagi ketika saya menyesap segelas matcha. Rasa pahitnya sulit saya toleransi. Bukan pahit seperti kopi yang elegan. Tapi, rasa pahit yang lebih mirip pada penyesalan. Pahit seperti waktu kamu sudah bayar mahal, tapi ternyata rasanya kayak air rebusan rumput dicampur sabun batangan.

Jelas testimoni itu tidak saya sampaikan secara terang-terangan ke pacar saya. Setiap disuguhi matcha, saya hanya pasrah minum sambil tersenyum dan mengatakan, “Unik ya.”

Pasangan saya tersenyum puas. Katanya, saya sudah naik level. “Matcha itu bukan soal rasa, tapi soal experience,” begitu katanya. Saya mengangguk, meski dalam hati berpikir,” sejak kapan minum minuman jadi sekompleks baca puisi Todung Mulya Lubis?”

Baca Juga:

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Gara-gara itu, setiap kali kami ke kafe, dia selalu memesankan matcha buat saya. Kadang matcha latte, matcha float, kadang matcha frappe. Mulai dari yang disajikan panas, dingin, hingga beku. Semua pernah saya coba.  Walau sudah mencicipi banyak olahan matcha, rasanya tetap sama di lidah saya. Rasanya seperti minum rumput yang dihancurkan dengan penuh dendam.

Akan tetapi, karena saya adalah pasangan yang baik dan tidak ingin membuatnya kecewa, saya terus berpura-pura menikmatinya. Bahkan, suatu hari bilang, “Wah, ini matcha-nya lebih creamy ya.” Padahal saya tidak pernah tahu dimana letak creamy-nya. 

ADVERTISEMENT

Bukan sekadar minuman

Para penggemar matcha itu militan. Itulah yang membuat saya kagum. Mereka bukan sekadar menyukai, mereka menyembah. Mereka akan bilang, “Kamu belum ketemu matcha yang authentic,” atau “Coba deh yang premium grade, bukan ceremonial.” Saya tidak tahu apa bedanya. Semua tetap membuat lidah merasa seperti menjilat daun ketapang.

Pernah satu waktu, saya melihat matcha dicampur ke dalam segala hal: kue, es krim, croissant, bakpia, bahkan nasi goreng. Di titik itu saya sadar, matcha bukan sekadar minuman. Ini adalah ideologi. Sebuah gerakan budaya. 

Di media sosial, para pencinta minuman ini memamerkan foto gelas transparan lengkap dengan busa hijau di atasnya. Tidak ketinggalan caption bijak yang menyertai seperti, “Don’t hate what you don’t understand.” Saya hanya mengangguk pelan walau tidak pernah benar-benar setuju dengan quotes-quote yang dipilih. 

Benar-benar menyukainya…

Saya mengerti bahwa rasa sayang kadang membuat kita melakukan hal-hal yang tidak disuka. Seperti ikut yoga walau tulang kita ngilu hingga nonton film Prancis tanpa subtitle. Tidak ketinggalan, menyeruput minuman hijau yang rasanya seperti campuran dendam, kesabaran, dan sedikit bau pot tanaman.

Setelah dicekoki minuman satu ini, saya memang tidak kunjung menyukainya, tapi mulai bisa menebak level kepahitannya. Matcha yang pucat biasanya masih bisa ditoleransi lidah saya. Tapi, kalau hijaunya pekat, saya cuma bisa pasrah. 

Walau tidak menyukainya, saya tetap meminum minuman dengan warna hijau pekat iyu. Saya tidak ingin merusak image saya. Sebab, katanya ini minuman yang sophisticated. Minuman orang-orang dewasa yang sudah tercerahkan. Minuman yang lebih dari sekadar enak, tapi juga bermakna. Entahlah apa artinya itu semua. 

Saya hanya tahu satu hal, tiap kali saya menyeruput minuman asal Jepang ini, saya tahu satu hal: saya menyukainya. Bukan minumannya tentu saja, tapi dia, si pemaksa matcha itu.

Mungkin, suatu hari, saya akan benar-benar menyukai matcha seperti saya menyukai dia. Mungkin saja. Tapi, hari ini? Detik ini? Belum. Daripada matcha, saya hanya ingin segelas es teh manis biasa. Yang rasanya jelas dan tidak menyembunyikan trauma rasa di balik label minuman sehat dan predikat-predikat lainya. 

ADVERTISEMENT

Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Orang Semarang seperti Saya Berpikir Dua Kali sebelum Jajan ke Es Puter Conglik yang Legendaris Itu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2025 oleh

Tags: jepangkhasiat matchamatchamatcha jepangmatcha latteminuman jepangteh hijau
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Kerja Paruh Waktu di Jepang agar Bisa Kirim Uang untuk Keluarga di Indonesia terminal mojok

Serba-serbi Kerja Paruh Waktu di Jepang untuk Pelajar Asing

5 September 2021
Diajarin Makan Pakai Sumpit Sama Papa Shinchan terminal mojok.co

Diajarin Makan Pakai Sumpit Sama Papa Shinchan

8 Desember 2019
Punya mobil di Jepang itu mahal

Punya Mobil di Jepang Itu Mahal dan Ribet

7 November 2021
Kedapatan Baca Komik 'Doraemon' di Usia (Hampir) Kepala Tiga dan Saya Bangga! terminal mojok.co

Kedapatan Baca Komik ‘Doraemon’ di Usia (Hampir) Kepala Tiga dan Saya Bangga!

9 Februari 2021
6 Hal Enaknya Punya Anak di Jepang Terminal Mojok

6 Hal Enaknya Punya Anak di Jepang

29 Juni 2022
5 Hal yang Terjadi di Jepang Saat Musim Hujan Tiba

5 Hal yang Terjadi di Jepang Saat Musim Hujan Tiba

23 Juni 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.