Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Matarmaja, Kereta Kebanggaan Warga Jawa Timur

Salman Al Faruq oleh Salman Al Faruq
9 Juni 2022
A A
Matarmaja, Kereta Kebanggaan Warga Jawa Timur

Matarmaja, Kereta Kebanggaan Warga Jawa Timur (Neng Etta via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Matarmaja, kereta kebanggaan rakyat Jawa Timur

Saya bukan rail fans, atau kalau bahasa kerennya edan sepur. Tapi, dari semua moda transportasi terlebih transportasi umum, kereta punya tempat tersendiri di hati saya. Entah kenapa kereta punya daya magis yang membedakannya dari pesawat atau pun bus.

Sambungan antargerbongnya yang berdecit seakan menjadi lagu ninabobo bagi yang sedang menahan kantuk. Deru roda baja yang beradu dengan rel membisikkan rayuan-rayuan bagi penumpang yang sudah tidak sabar bertemu orang tercinta di tujuan. Dan yang terpenting, harum p*pmi panas yang dibawa mbak pramugari yang pasti selalu bisa menyihir tangan untuk mengambil selembar ceban dari kantong. Hal-hal tersebutlah yang membedakan kereta dari jenis kendaraan lain di mata saya.

Tentu saja kereta yang paling sering saya naiki adalah Matarmaja. Sebabnya adalah kereta tersebut adalah transportasi umum paling murah yang melewati kabupaten kampung halaman dan kota tempat kuliah saya, Blitar serta Malang. Dua kota tersebut bahkan juga menjadi unsur dari nama kereta Matarmaja yang merupakan abreviasi dari 4 nama kota: Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta.

Tapi tahukah kalian, bahwa dulunya Matarmaja merupakan dua kereta yang digabung menjadi satu? Di tahun 70-an, Kereta Api Indonesia memulai operasi kereta Maja yang memiliki rute Madiun-Jakarta. Beberapa waktu kemudian KAI meluncurkan kereta pengumpang Tatar dengan rute Madiun-Blitar. Di Madiun, dua kereta tersebut digabung untuk membawa penumpang ke Jakarta. Kemudian di dekade 80-an, rute kereta diperpanjang sampai ke Malang.

Harga dan bentuk tiketnya pun berubah-ubah. Harga tiket paling murah yang saya ingat adalah Rp65.000 dengan bentuknya yang masih berupa karcis kecil lucu berbahan karton tebal. Selanjutnya harga Rp85.000 dengan tiket berbentuk boarding pass berbahan seperti kertas karton. Setelah itu beberapa kali harganya sempat mengalami kenaikan dan penurunan, tergantung regulasi subsidi yang sedang berlaku. Mulai dari Rp95.000, Rp105.000, Rp115.000, Rp135.000, hingga harga paling mahal yang saya ingat yaitu Rp165.000. Saat tulisan ini dibuat, harga tiket kereta Matarmaja berada di kisaran Rp180.000 sampai Rp255.000.

Karena sedari belum baligh saya sudah sangat dekat dengan kereta satu ini, berbagai cara naik dan cara menumpang telah saya praktikkan. Dalam keadaan ideal, naik lewat pintu memang cara yang lazim dan aman. Tapi ketika keadaan sudah sangat mendesak, pintu penuh dengan orang, naik lewat jendela pun jadi. Ini pernah saya lakukan ketika masih duduk di bangku SD dan badan belum mengembang seperti bola bekel direndam di minyak tanah.

Cara menumpang yang berbagai macam itu pun bisa diceklis satu per satu. Mulai dari berdiri di kamar mandi yang harumnya semriwing. Berdiri di bordes dari Jakarta sampai Cirebon hingga nyaris turun karena tiba-tiba sesak napas. Hingga duduk di lantai kereta dan tidur di kolong kursi, semuanya pernah saya lakukan. Mungkin yang sampai sekarang belum dan tidak mungkin kesampaian adalah mencoba duduk di kompartemen barang.

Baca Juga:

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

Membayangkan Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso Aktif Kembali, Pasti Banyak Manfaatnya

Semua keruwetan tersebut perlahan-lahan berubah semenjak negara api menyerang Pak Ignasius Jonan menjabat sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia semenjak 2009. Beliau ini yang menaruh standar baru bagi dunia perkereta apian Indonesia. Mulai dari penghapusan sistem calo dengan cara pemberlakuan boarding pass, hingga perbaikan sarana serta prasarana demi menambah kenyamanan bagi para penumpang.

Transformasi Kereta Matarmaja juga tak luput dari sentuhan tangan dingin Pak Jonan. Kereta yang tadinya terasa seperti gerobak, bisa berubah menjadi angkutan yang cukup nyaman. Ya, saya sebut gerobak karena apa pun dan siapa pun bisa masuk. Pasalnya membawa hewan peliharaan seperti ayam jamak dilakukan pada zaman kegelapan itu. Penumpang lain pun bisa semena-mena dalam membawa barang bawaan. Tidak jarang satu orang membawa bagasi sampai berkarung-karung.

Perlahan semuanya berubah. Dengan pemberlakuan boarding pass, bagasi yang bisa dibawa oleh penumpang juga dibatasi berat dan volumenya. Selain itu diterapkan pula larangan membawa hewan. Tidak ada lagi penumpang yang bisa duduk di bordes atau pun lantai kereta.

Meski kereta api kita bergerak menuju arah yang jauh lebih baik, saya justru merindukan beberapa hal yang dulu pernah mewarnai perjalanan di atas Matarmaja. Contohnya adalah ibu-ibu tukang pecel atau nasi rames ilegal yang biasa mondar-mandir dari gerbong ke gerbong. Sudah jelas makanan yang mereka tawarkan menjadi opsi makanan yang lebih murah dibanding apa yang dijual oleh gerbong restorasi. Menimbang keadaan finansial sebagai mahasiswa cekak, pilihan apa pun yang membutuhkan uang lebih sedikit menjadi pilihan utama bagi saya. Selain itu penjual camilan seperti kue-kue dan tahu lontong menjadi penyelamat di saat mulut ingin ngeganyem tapi tidak bawa jajan dari rumah.

Satu hal lagi yang sudah dihilangkan dari atas kereta adalah kebebasan untuk merokok.  Masalah merokok di atas kereta ini sampai sekarang masih jadi polemik dan perdebatan tersendiri. Tiap ada perokok yang protes atau usul minta disediakan ruang untuk klepas-klepus, kolom komentar pasti ramai oleh dua kubu. Kubu satu dihuni oleh perokok lain yang mulutnya acap kali terasa asam ketika naik kereta jarak jauh serta kubu satu lagi yang menyuruh kubu pertama untuk sabar dan memanfaatkan waktu ketika berhenti di stasiun. Tapi kalau boleh jujur bagi saya larangan merokok di atas kereta adalah angin segar.

Yang tidak berubah dari Matarmaja sejak saya masih anak-anak yang care free sampai jadi orang dewasa yang kebanyakan anxiety adalah sandaran 90 derajatnya yang super tegak dan jarak kursi yang membuat sesama penumpang beradu lutut. Saya menunggu saat di mana bisa selonjoran dan bersandar dengan nyaman di kereta yang harga tiketnya nggak sampai 200 ribu itu.

Itulah sedikit cerita tentang Matarmaja, kereta kebanggaan warga Jawa Timur. Kalau kalian gabut kepolen, bisa ke Malang terus naik kereta ini, ke Jakarta, terus balik ke Malang. Kalau mau doang sih.

Penulis: Salman Al Faruq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2022 oleh

Tags: kereta apimatarmaja
Salman Al Faruq

Salman Al Faruq

Pengangguran overweight yang hidup dari satu chapter One Piece ke chapter yang lain.

ArtikelTerkait

rel kereta api slamet riyadi mojok

3 Hal yang Saya Jumpai Selama Tinggal di Pinggir Rel Kereta Api

7 Agustus 2020
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang

Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang

5 Januari 2026
Sudah Saatnya Jalur Kereta Api Purwokerto-Wonosobo Diaktifkan Kembali

Sudah Saatnya Jalur Kereta Api Purwokerto-Wonosobo Diaktifkan Kembali

8 November 2023
Madura Tidak Butuh Kereta Api!

Madura Tidak Butuh Kereta Api!

27 Juni 2023
Kursi Single Kereta Api: Cocok buat Introvert, tapi Super Nggak Nyaman!

Kursi Single Kereta Api: Cocok buat Introvert, tapi Super Nggak Nyaman!

5 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.