Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Manusia yang Eksploitatif Adalah Manusia yang Kegeeran

Aly Reza oleh Aly Reza
18 September 2020
A A
manusia yang eksploitatif adalah manusia yang kegeeran mojok.co khotbah

manusia yang eksploitatif adalah manusia yang kegeeran mojok.co khotbah

Share on FacebookShare on Twitter

Betapa tercengang Kang Salim ketika mendapati tempat nongkrong favoritnya selama nyantri sekarang berubah menjadi padang tandus, panas, dan berdebu. Tidak ada lagi pohon-pohon rindang yang bikin teduh. Tidak ada semilir angin yang bikin ngantuk. Di sekitar lokasi tersebut kini hanya ada kendaraan alat berat lalu-lalang mengeruk pasir dan bebatuan tebing.

Yang masih bertahan di sana adalah bapak-bapak penjual es dawet yang kini pun lokasinya bergeser jauh dari markas awalnya.

“Sudah sejak kapan ada penambangan batu ini, Pak?” tanya Kang Salim kepada bapak penjual es dawet sambil memesan dua gelas untuk dia dan Misbah.

“Seingat saya, akhir tahun lalu.”

Hari itu Kang Salim dan Misbah bermaksud menghadiri acara haul di pesantren. Setelah menempuh kurang lebih empat jam perjalanan, keduanya memutuskan rehat sejenak di tempat nongkrong favorit mereka dulu sambil menikmati semilir angin dan es dawet langganan.

Semula mereka pikir merekalah yang salah tempat karena suasananya berubah total. Tapi, setelah beberapa jenak memperhatikan sekitar, yakinlah mereka bahwa itu bekas tongkrongan mereka dulu, yang kini luluh lantak oleh penambangan.

“Manusia itu nggak bisa apa ya kalau nggak merusak…,” gumam Kang Saling setengah menggerutu.

“Ya, namanya juga kebutuhan hidup, Kang,” celetuk Misbah dengan entengnya.

Baca Juga:

Pikirkan Hal-hal Ini Sebelum Naik Gunung, Jangan FOMO dan Cuma Ikut-ikutan

Memori Tubuh Kami oleh Fadiyah Alaidrus: Menghadapi Diskriminasi dan Eksploitasi Seksual

“Kebutuhan sama keserakahan itu beda tipis,” sahut Kang Salim sambil mengarahkan pandangannya ke Misbah. “Wong ya sudah jelas Gusti Allah pernah bilang, wa la tufsidu fi al-ardhi, jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Karena Dia itu la yuhibbu al-mufsidin, nggak suka sama orang-orang yang berbuat kerusakan.”

“Wis, wis, ini monggo diminum dulu,” goda bapak penjual es dawet ketika menyodorkan dua gelas pesanan Kang Salim dan Misbah. “Biar hati dan pikirannya jadi adem.”

“Tapi,” Misbah ternyata masih mau melanjutkan, “dalam Surat al-Jatsiyah ayat 13 disebut bahwa Gusti Allah itu memang menundukkan alam ini buat manusia, Kang. Gimana? Jadi ya alam ini memang sejatinya buat dimanfaatkan oleh manusia.”

“Dimanfaatkan atau dieksploitasi, Mis?”

“Entah apa menurut sampean, tapi pada intinya kan alam itu disediakan buat manusia. Itu yang saya pahami,” sangkal Misbah. “Lagian, kita ini kan memang khalifah fi al-ardhi. Kata beberapa ulama, tugas manusia sebagai khalifah itu ya mengelola bumi. Bahkan ada yang menyebut, seandainya toh Nabi Adam nggak pernah makan buah khuldi, Gusti Allah tetep bakal menurunkan dia ke bumi. Sebab, proyeksi penciptaan Nabi Adam salah satunya kan buat mengelola potensi atau sumber daya yang ada di bumi.”

Hening beberapa saat. Lalu Kang Salim berucap lagi, “Mis, sekarang coba kamu tanya ke tukang es dawet itu. Menurut dia mending mana, cuaca panas terik kayak gini atau hujan angin?”

“Jawabannya ya jelas mending panas terik lah, Kang,” respons Misbah seketika. “Karena dengan panas terik gini orang gampang dahaga, penginnya yang seger-seger. Alhasil es dawetnya pun laris manis.”

“Kalau pertanyaan tersebut kamu ajukan ke tukang bakso?”

“Hmmm, mestinya mendingan hujan saja karena dingin, orang-orang pasti penginnya yang anget-anget. Bakso adalah satu di antaranya.”

“Nah itu kamu tahu jawabannya.”

Misbah terbengong-bengong, masih belum mengerti apa maksud Kang Salim.

“Gini, Mis, ternyata tafsir itu relatif, tergantung kepentingan yang memberi tafsir.” Pelan-pelan Kang Salim mulai menjelaskan. “Tafsir tukang es dawet, cuaca yang baik tentu adalah cuaca panas terik. Sementara bagi tukang bakso, musim hujan justru adalah musim yang paling ideal. Nah, saya kira begitu juga dengan tafsir mengenai Ssurat al-Jatsiyah ayat 13 dan khalifah fi al-ardhi.”

“Maksud sampean, ada kepentingan terselubung dalam penafsiran tentang Gusti Allah menundukkan alam untuk manusia, begitu?” Tanya Misbah penasaran.

“Tepatnya seperti itu. Sebab yang menafsiri ayat tersebut adalah manusia, maka disesuaikan dengan kepentingan manusia. Jadi seolah-olah alam ini memang diciptakan hanya untuk memuaskan hasrat manusia. Tapi, pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika ayat tersebut ditafsiri oleh binatang atau tumbuh-tumbuhan? Pasti sangat berbeda tafsirnya.”

Misbah terlihat sangat sangsi dengan penuturan Kang Salim.

“Sik, sik, Kang. Bagaimana bisa hewan dan tumbuhan menafsiri ayat Allah? Secara, yang diberi akal itu hanya manusia.”

“Nah, itu dia kegeeran manusia selama ini,” Kang Salim menimpali dengan senyumnya yang khas. “Kalau dalam istilah di buku yang pernah saya baca itu apa ya, mmm, antro… antroposentrisme. Yah, itu dia. Jadi manusia merasa bahwa dirinya adalah pusat, subjek utama di semesta ini sehingga nggak pernah menganggap eksistensi makhluk lain. Manusia mengira dialah makhluk Tuhan yang paling istimewa dan paling dimanjakan.

“Contohnya, kamu mengira bahwa yang bisa menafsiri ayat Al-Quran hanya manusia. Jangan salah, Gusti Allah bahkan berfirman pada seekor lebah. Gusti Allah bahkan bisa bercakap-cakap dengan api yang hendak membakar Ibrahim.

“Kamu mengira manusialah satu-satunya yang dibekali akal? Faktanya, manusia juga belajar dari kecerdasan semut yang mampu mengarsiteki sarangnya dengan struktur yang mengagumkan. Lebah memiliki kecerdasan dalam hal mengorganisir pembagian kerja koloninya. Atau anjing yang saking cerdasnya, setelah sedikit dilatih, dia bisa jadi anjing pemburu atau anjing pelacak. Pertanyaannya, dari mana kecerdasan-kecerdasan itu kalau bukan berasal dari akal?”

Sebab Misbah masih belum merespons, Kang Salim meneruskan, “Manusia itu hanya merasa lebih unggul dan istimewa dari makhluk lain. Padahal, semua makhluk memiliki keunggulan dan keistimewaan masing-masing. Sebab, menurut saya, semua makhluk itu diciptakan Gusti Allah atas dasar cinta, nggak pilih kasih. Nggak ada yang mengungguli satu sama lain. Semua sama.”

“Lalu bagaimana dengan khalifah di muka bumi itu, Kang?”

“Saya malah berpandangan, khalifah itu kan akar katanya kha-la-fa, yang berarti ‘belakangan’. Atau dalam konteks ini, khalifah berarti ‘yang datangnya belakangan’. Karena manusia itu kan diciptakan belakangan setelah yang lain-lain. Ini malah makin mempertegas bahwa manusia itu hanya satu dari sekian ciptaan Allah yang lain, bukan pusat atau subjek utama, bukan pula yang paling istimewa.”

“Tapi kenapa dalam al-Jatsiyah Gusti Allah menyebut kata sakhkhara? ‘Menundukkan alam kepada manusia’?” sanggah Misbah.

“Kembali, itu soal tafsir kepentingan manusia saja. Tapi, karena saya belum menemukan tafsir yang baru, saya hanya bisa menduga maksud menundukkan di situ bukan Allah membebaskan manusia untuk berbuat semau-maunya terhadap alam. Maksud menundukkan di situ mungkin saja sebagai bentuk rancangan piramida kehidupan. Manusia menempati posisi paling atas dalam rantai makanan bukan karena manusia paling istimewa, tapi semata agar kehidupan terus berlangsung.

“Dalam rantai makanan di sawah misalnya. Padi dimakan tikus, tikus dimakan ular, kemudian ular dimakan elang. Karena elang berada pada puncak rantai makanan, apakah elang disebut sebagai yang paling unggul? Ya tidak. Memang demikianlah alurnya biar terjadi keberlangsungan hidup dalam lingkaran mereka.”

“Ya kalau begitu nggak salah dong, Kang, kalau terjadi penambangan seperti itu?” Misbah belum menyerah. “Kan demi keberlangsungan hidup?”

“Heh, Mis, catet. Kuluu wasyrabuu wa la tusrifuu, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.”

“Muashoookkk!!!” teriak bapak penjual es dawet dari balik gerobaknya.

Diolah dari penjelasan Syekh M. Nursamad Kamba dan Sujiwo Tejo

BACA JUGA Jangan Kira Aktivitas Agama Hanya Seputar Ritual Syariat dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 September 2020 oleh

Tags: alameksploitasikhotbahmakhluk hidup
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

baju lebaran

Yang Dianjurkan Rasulullah itu Beli Baju Lebaran untuk Anak Yatim Bukan buat Diri Sendiri

22 Mei 2020
ngatur-ngatur tuhan ritual agam islam mojok.co

Jangan Kira Aktivitas Agama Hanya Seputar Ritual Syariat

11 September 2020
welas asih tuhan

Jangankan yang Cuma Berdosa, yang Nggak Beriman Saja Tetep Kebagian Welas Asih Tuhan, Kok

15 Mei 2020
mati, surga, dan neraka MOJOK

Mati Rasa pada Surga dan Neraka

3 Juli 2020
Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

13 September 2022
kematian

Kematian Sungguh Tak Patut Ditangisi dan Ditakuti

26 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Honda Brio, Korban Pabrikan Honda yang Agak Pelit (Unsplash)

Ketika Honda Pelit, Tidak Ada Pilihan Lain Selain Upgrade Sendiri karena Honda Brio Memang Layak Diperjuangkan Jadi Lebih Nyaman

16 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.