Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Makna Baru ‘Ok Sip’ di Chat WA Terungkap di Persidangan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
18 April 2020
A A
Jangan Ngambek Dulu, Inilah Alasan Orang Baca Chat tapi Nggak Mau Bales chat wa whatsapp oke sip jawaban hasto kristiyanto sekjen pdip harun masiku kasus saeful bahri suap pergantian antarwaktu anggota drp ri mojok

Jangan Ngambek Dulu, Inilah Alasan Orang Baca Chat tapi Nggak Mau Bales chat wa whatsapp oke sip jawaban hasto kristiyanto sekjen pdip harun masiku kasus saeful bahri suap pergantian antarwaktu anggota drp ri mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelum menuduh, ini bukan sidang dengan Pak Hasto Kristiyanto yang jadi terdakwanya ya. Persidangan Kamis, 16 April kemarin ini sedang mengadili kader PDIP Saeful Bahri. Jika wabah corona sudah membuat Anda lupa, Saeful adalah salah satu tokoh dalam kasus suap Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR RI yang melibatkan eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan kader PDIP yang sekarang buron, Harun Masiku.

Kasus ini bermula ketika salah seorang caleg DPR RI dari PDIP, Nazarudin Kiemas, meninggal dunia hampir sebulan sebelum pileg. Namun, namanya masih ada di surat suara pemilihan Dapil Sumatera Selatan I dan ia mendapat suara dari pemilih. Nama Nazarudin kemudian dihapus dari daftar caleg, namun suara untuknya tetap dihitung suara sah bagi partai.

Harun Masiku yang merupakan caleg di dapil yang sama namun hanya mendapat sedikit suara kemudian berupaya agar suara sah untuk Nazarudin dialihkan kepadanya. Proses ini melibatkan Mahkamah Agung. Tapi Harun Masiku juga memakai jalan belakang, yakni dengan menyuap Komisioner KPU yang sekarang sudah mantan, Pak Wahyu tadi, dan minta tolong Agustina Tio Fridelina, mantan anggota Bawaslu yang juga kader PDIP. Dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan Pak Wahyu dan Bu Agustina sebagai terdakwa penerima suap, sedangkan Pak Saeful dan Pak Buron Masiku sebagai terdakwa pemberi suap.

Nah, di sini, Pak Hasto dihadirkan di persidangan dalam kapasitas sebagai saksi.

Dari persidangan Kamis kemarin tersebut terkuak, ternyata Pak Hasto masuk golongan orang yang suka jawab “Ok sip” di chat WhatsApp. Ini terungkap dari rekaman chat WA antara Saeful Bahri dan Hasto Kristiyanto sebagai atasannya di PDIP. Dalam rangkaian chat itu, Pak Hasto tiga kali menjawab “Ok sip”.

“Ok sip” ke-1

Pak Hasto membalas “Ok sip” ketika menerima pesan WA dari pengurus DPP PDIP dan advokat Donny Tri Istiqomah pada 13 November 2019. Pesan WA itu berbunyi, “Mas kronologi Harun besok jam 10 pagi saya cocokkan dengan arsip surat yang sudah kita keluarkan, paling telat jam 11, ready. Saya sudah janjian dengan Ratna besok di lantai 1 untuk cek ulang ini.”

Alasannya Pak Hasto menjawab “Ok sip”: karena ia hanya membaca chat WA itu, dan selanjutnya minta kronologi karena diperlukan untuk bahan rapat DPP partai yang akan meminta fatwa kepada Mahkamah Agung.

“Ok sip” ke-2

Pada 3 Desember 2019, Saeful Bahri mengirimkan pesan WA berbunyi: “Izin lapor mas, Donny berhasil nekuk kelompoknya tuedi, jagoan kita menang di kongres, izin mas terkait Pak Harun kewenangan pemecatan Riezki.” Chat WA ini lagi-lagi dibalas “Ok sip” karena menurut Pak Hasto, ia hanya membaca tanpa bermaksud menyetujui usulan penetapan Harun Masiku dengan cara memecat Riezki Aprilia karena secara teknis menjadi kewenangan bidang hukum. Riezky Aprilia adalah caleg PDIP dari Dapil Sumatera Selatan I, satu dapil dengan Harun dan Almarhum Nazarudin, yang memperoleh suara paling banyak.

Baca Juga:

PDIP Keok di Kandang Banteng, kok Bambang Pacul yang Disalahkan?

Fitur Reaction WhatsApp Nggak Ada Gunanya, Bukannya Mempermudah Komunikasi Cuma Bikin Sakit Hati

“Ok sip” ke-3

Dalam percakapan WhatsApp pada 23 Desember 2019, Saeful menyampaikan kepada Hasto bahwa ada dana dari Harun Masiku yang masuk. “Pak Harun ini geser 850,” demikian chat WA Saeful. Hasto menjawab, “Ok sip.”

***

“Ok sip” sudah menjadi template saya saat menjawab pesan WA setiap hari. Saya bisa mengetikkannya sambil merem saking hafal lokasi huruf-huruf itu di keyboard, tanpa typo pula. Kadang “Ok sip” diganti menjadi “Okesip” supaya tidak bosan dan berkurang rasa formalnya.

Jawaban “Ok sip” telah saya pakai untuk membalas pertanyaan yang butuh jawaban cepat. “Sudah difotokopi, langsung dijilid?” Atau saat titip makan siang, “Kehabisan lontong, gado-gadonya pakai nasi saja?”

Setelah persidangan dengan saksi Pak Hasti, saya menjadi minder dan merasa perlu mencari cara menjawab yang lain karena dua alasan.

Alasan pertama

Martabat “Ok sip” sudah naik drastis sejak Pak Hasto memakainya ketika membahas uang 850 juta dan urusan penting lain seperti pecat-memecat orang. Kalau cuilan donat seperti saya ikut-ikutan memakai dua kata itu padahal urusannya cuma recehan dan belum pernah bahas uang ratusan juta, kok kayak kurang akhlak.

Jika saya mendapat pesan yang mengabarkan adanya uang “geser” sebesar 850 juta, saya pasti akan menjawab dengan lebih panjang dan penuh hormat, seperti:

“Ok sip. Have a nice day!” —> Jawaban hati yang riang.
“Sabiii! Ngopi entar kita.” —> Jawaban inget makelar, eh, teman.
“Salam-salam buat Pak Harun, Bro!” —> Jawaban basa-basi berbunga.
“Duh, saya jadi nggak enak nih, hahaha.” —> Jawaban jaim.

Alasan kedua

Karena “Ok sip” rupanya punya makna lain yang kurang baik, yakni seperti kata Pak Hasto, sekadar membaca pesan tapi tidak menaruh atensi. Pak Hasto juga menjelaskan di persidangan bahwa jabatannya sebagai sekjen PDIP membuat beliau banyak mendapat pesan WhatsApp. Jadi, jawaban “Ok sip” bisa diartikan sebagai jawaban orang nggak fokus.

Kalau begitu, “Ok sip” jadi tidak cocok untuk menjawab pesan Mas OB yang diminta ke kios fotokopi dan bertanya hasil fotokopinya sekalian dijilid atau tidak. Tidak cocok juga untuk pesanan gado-gado yang menunggu jawaban pakai nasi atau tidak. Sebab saya membaca pesan dan sungguh-sungguh menaruh atensi saat membalasnya.

Saya bersyukur tidak luput mengikuti berita kasus suap Harun Masiku sehingga bisa mendapat ilmu baru dari Pak Hasto. Jika tidak ada kasus seperti ini yang dibahas di pengadilan terbuka, mungkin saya tidak akan pernah tahu makna “Ok sip” yang ternyata lebih dari satu, dan selamanya cuilan donat ini akan dianggap nggak ada akhlak saat membalas pesan WA.

Terima kasih, Pak Hasto!

BACA JUGA Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa? dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 April 2020 oleh

Tags: chat waharun masikuhasto kristiyantoPDIP
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

definisi pancasilais sejarah hari lahir pancasila 1 juni 1945 mojok.co

Pancasilais dan Tidak Pancasilais Itu Gimana Cara Ngukurnya sih?

11 September 2020
Logo PDIP dan GMNI beda, jangan disamakan terminal mojok

Walau Sama-sama Merah dan Ada Logo Bantengnya, PDIP Beda dengan GMNI. Jangan Salah Paham!

9 Maret 2021
pancasilais pdi p pancasila PDIP mojok

Meramalkan Nasib PDIP setelah Kenaikan Harga BBM

7 September 2022
Gen Z Wannabe dan Fakta Terbaru dari Jokowi yang “Berkhianat” (Unsplash)

Keluarga Jokowi Tidak Berkhianat. Mereka Hanya Mencoba Menjadi Gen Z yang Mengutamakan Kesehatan Mental

26 Oktober 2023
Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa?

Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa?

20 Februari 2020
Yasonna Laoly dan "Azab" karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

Yasonna Laoly dan “Azab” karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

22 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.