Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
20 Februari 2026
A A
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis? (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya adalah keturunan Jawa yang sejak lahir dan besar di Sumatera. Secara garis keturunan, mungkin lidah saya “harusnya” cocok dengan makanan Jawa. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Sejak kecil, saya tumbuh dengan cita rasa khas Sumatera yang terkenal gurih, asin, dan pedasnya berani. Di rumah, meskipun keluarga masih sering memasak makanan Jawa, rasanya sudah banyak mengalami penyesuaian.

Gudeg yang katanya identik dengan manis pekat, di rumah kami dibuat tidak terlalu manis. Masih ada sentuhan gula, tapi tidak sampai mendominasi. Tempe bacem pun begitu tetap manis, tapi seimbang dengan gurih. Intinya, keluarga kami seperti sudah “mengkompromikan” rasa Jawa dengan lidah Sumatera. Oleh karena itulah saya merasa cukup percaya diri saat harus merantau ke Jawa Tengah. Dalam pikiran saya, ya paling beda tipis.

Hari-hari pertama di tanah perantauan benar-benar membuka mata dan lidah saya. Hampir setiap makanan yang saya coba memiliki kecenderungan manis yang cukup kuat. Awalnya saya masih mencoba positif. “Mungkin cuma warung ini,” pikir saya. Tapi setelah pindah-pindah tempat makan, hasilnya kurang lebih sama.

Sayur terasa manis. Lauk ada manisnya. Bahkan beberapa sambal pun punya jejak rasa manis.

Sambalnya kok manis?

Jujur saja, sebagai orang yang terbiasa dengan rasa tegas dan pedas yang “nendang”, kondisi ini cukup membuat saya kewalahan. Bukan berarti makanannya tidak enak banyak yang tetap lezat tapi lidah saya seperti terus mencari sesuatu yang hilang. Sensasi asin-gurih-pedas yang biasanya langsung menyambar, di sini terasa lebih halus dan kalem.

Puncak kebingungan saya terjadi pada suatu malam ketika rasa rindu kampung halaman tiba-tiba menyerang. Saat itu saya sedang sangat ingin makan pedas. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan memesan pecel lele di pinggir jalan. Dalam bayangan saya, ini menu yang “aman”. Di mana-mana, pecel lele identik dengan sambal yang pedasnya nampol.

Saya sudah membayangkan keringat bercucuran, hidung mulai berair, dan mulut yang terbakar nikmat.

Saat suapan pertama sambal menyentuh lidah, saya langsung terdiam beberapa detik. Ada pedas, iya… tapi yang lebih dulu terasa justru manis. Pedasnya seperti tertutup lapisan gula yang cukup dominan. Bukan sambal yang saya bayangkan. Bukan sambal yang biasa saya temui di Sumatera.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Di situ saya benar-benar merasa lidah Sumatera saya sedang menangis.

Bingung, kaget, sekaligus sedikit lucu kalau diingat sekarang. Saya sampai sempat mikir, “Ini memang resepnya begini, atau saya yang salah ekspektasi?” Setelah beberapa kali mencoba pecel lele di tempat berbeda, barulah saya menerima kenyataan: di beberapa daerah Jawa Tengah, sambal memang sering diberi sentuhan manis.

BACA JUGA: Mencari Pemenang Sambal Matah vs Sambal Bawang Nggak Bakal Bikin Bingung, Jawabannya Jelas, Sambal Matah!

Makanan Jawa memang manis-manis

Sejak saat itu, saya mulai lebih memperhatikan pola rasa makanan Jawa. Ternyata memang ada filosofi rasa yang berbeda. Banyak masakan Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, mengedepankan keseimbangan manis dan gurih. Gula jawa bukan sekadar pemanis, tapi bagian penting dari karakter rasa.

Sementara di banyak daerah Sumatera, profil rasa cenderung lebih tegas: asin, gurih, pedas kuat, dan kadang asam segar. Cabai bukan pelengkap dia adalah bintang utama. Tidak heran kalau lidah saya butuh waktu untuk beradaptasi.

Masa-masa awal merantau itu jujur cukup menantang secara kuliner. Saya beberapa kali merasa cepat enek karena terlalu sering bertemu rasa manis. Bahkan pernah suatu hari kepala saya benar-benar terasa pusing karena seharian makan makanan dengan profil rasa yang mirip. Mungkin terdengar lebay, tapi buat yang lidahnya terbiasa pedas-asin, perubahan ini memang cukup terasa.

Namun seiring waktu, saya mulai belajar bahwa ini bukan soal mana yang lebih enak. Ini soal kebiasaan yang dibentuk bertahun-tahun. Teman-teman saya yang asli Jawa justru merasa makanan Sumatera terlalu “keras” rasanya. Terlalu pedas, terlalu asin, terlalu berani. Di situ saya sadar: ternyata lidah juga punya latar budaya.

BACA JUGA: Orang Surabaya dan Obsesinya terhadap Sambal Petis

“Sambalnya manis nggak?”

Pelan-pelan saya mulai menemukan cara bertahan hidup. Pertama, saya belajar bertanya sebelum memesan: “Sambalnya manis nggak, ya?” Kedua, saya mulai mencari warung yang terkenal dengan sambal super pedas tanpa tambahan gula berlebihan. Ketiga ini yang paling penting, saya mulai stok sambal botolan dari rumah.

Percayalah, sambal dari kampung halaman itu seperti penyelamat di perantauan.

Meski begitu, pengalaman ini justru membuka wawasan saya tentang kekayaan rasa di Indonesia. Dulu saya mengira pedas adalah standar kenikmatan. Sekarang saya lebih bisa menghargai bahwa setiap daerah punya identitas rasa sendiri yang lahir dari sejarah, budaya, dan kebiasaan masyarakatnya.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2026 oleh

Tags: makanan jawamakanan sumaterasambal jawasambal sumatera
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit Mojok.co

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit

14 Februari 2026
QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Ribet dan Cepat Miskin (Unsplash)

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.