Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mahasiswa Akhir kok Alergi Ditanya tentang Skripsi, Pola Pikirnya Itu Lho, Remuk!

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
20 Oktober 2023
A A
Konten TikTok Buiramira: Jalan Ninja Mahasiswa yang Bingung Skripsi dan Malas Bimbingan mahasiswa akhir

Konten TikTok Buiramira: Jalan Ninja Mahasiswa yang Bingung Skripsi dan Malas Bimbingan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi seorang mahasiswa tingkat akhir, kehidupan mereka sekarang jelas sedang nggak baik-baik saja. Selain karena pusing mengerjakan skripsi, perasaan takut setelah lulus mau jadi apa atau nantinya bekerja di mana adalah momok yang bikin mereka insomnia. Dan sebagai sesama mahasiswa tingkat akhir, saya amat sangat maklum kalau status WhatsApp mereka kebanyakan isinya kata-kata penyemangat ataupun ocehan-ocehan sambat.

Quote lucu macam “sampean atur yaopo enake aku sek nggodok mie” adalah contoh paling tepat betapa remuknya hidup mahasiswa akhir. Penerimaan penderitaan.

Tapi, ada satu jenis mahasiswa akhir yang bagi saya nggak layak untuk dimaklumi. Mereka adalah kalangan yang berkesempatan lulus tepat waktu, tapi benci saat ditanya kapan skripsian. Kalian nggak percaya, saya pun awalnya sebenarnya nggak percaya. Tapi, setelah saya menerima kenyataan pahit, saya baru percaya, ternyata prejengan mahasiswa kek gitu memang ada, bahkan banyak.

Begini ceritanya.

Kronologi kejadian

Peristiwa nahas itu terjadi ketika saya menemui salah satu konten di TikTok yang secara garis besar bilang begini: “Mereka yang tanya ‘kapan skripsian’ itu paham nggak sih, kalau ngerjain skripsi itu sulit? Kalau nggak paham, nggak usah sok peduli deh.” Kalian yang mahasiswa akhir dan aktif di TikTok, pasti nggak jarang nemuin konten-konten macam tai itu.

Saya masih kurang percaya dengan bukti digital, apalagi bukti itu datang dari sumber yang biasanya penuh dengan gimik bajingan. Maka, segeralah saya membuktikannya sendiri melalui pertanyaan “kapan skripsian” ke beberapa teman mahasiswa, yang berkesempatan lulus tepat waktu alias mengerjakan skripsi duluan.

Oh ya, sebagian dari kalian mungkin bertanya-tanya, “Sekarang kan masa semester 7, kok bisa ambil skripsi?”

Jadi, di kampus saya itu, ada beberapa fakultas yang memperbolehkan mahasiswa semester 7 untuk mulai menyicil skripsi. Dan aturan itu, hanya berlaku untuk mahasiswa yang memang SKS-nya sudah mencukupi. Jangan tanya lagi kenapa aturannya bisa begitu. Saya ini bukan rektor atau dekan. Yang jelas, saya hanyalah penulis biasa di Terminal Mojok yang tulisannya kerap ditolak.

Baca Juga:

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

Oke, balik ke pembuktian saya soal peristiwa nahas tadi.

Saat saya melemparkan pertanyaan kapan skripsian ke beberapa teman, sungguh respons dan jawabannya nggak pernah saya duga. Beberapa dari mereka, ada yang menjawab dengan kalimat klise “masih proses,” tapi raut mukanya kecut. Ada juga yang langsung besengut sambil menjawab, “We po yo raiso to, le pas wayah ngopi ra usah tekok masalah kui.”

Wasyuuu… Niat tekok, malah kenek semprot. Tapi, gara-gara itu, saya akhirnya percaya betul bahwa, memang ada prejengan mahasiswa akhir yang berkesempatan lulus tepat waktu, tapi malah benci dengan pertanyaan yang sebetulnya mendukung kebutuhan mereka.

Potret manusia yang mendustakan nikmat Tuhan

Saya pun akhirnya terpikir, kayaknya mereka itulah, yang menjadi jawaban atas salah satu pertanyaan dalam surat Ar-Rahman Ayat 13 yang berbunyi, “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?”

Lha, gimana, berkesempatan lulus tepat waktu dengan cara menyicil skripsi duluan di semester 7 itu ya nikmat. Betapa banyak mahasiswa yang takut nggak bisa lulus tepat waktu karena mengerjakan skripsi di semester 8. Nggak usah tanya ada atau nggak. Sudah pasti banyak, dan saya adalah salah satunya.

Sekarang, kalau misalnya mereka diuji kompetensinya terkait satu saja mata kuliah yang sudah lulus, saya nggak yakin mereka betul-betul seratus persen menguasainya. Bahkan beberapa dosen itu kadang meluluskan mereka cuma berdasarkan nggak pernah bolos dan selalu mengerjakan tugas. Meskipun pengerjaan tugas mereka itu ngawur atau copas dari Google.

Kayak gini ada? Lho, buanyak. Mereka kan agent of change, alias change little bit here and there from Google.

Apalagi kalau misalnya mereka dituntut untuk menguasai betul semua mata kuliah dari semester 1 sampai 6. Saya yakin, jelas mereka nggak akan bisa punya kesempatan mengerjakan skripsi di semester 7. Bahkan untuk lulus satu mata kuliah pun, saya masih ragu.

Pertanyaan “kapan skripsian” buat mahasiswa tingkat akhir itu peringatan, bukan ancaman

Sebenarnya saya itu sangat mafhum, bahwa mengerjakan skripsi memang nggak segampang menulis status galau di WhatsApp. Upaya melawan rasa malas, berpikir keras dalam menentukan teori, dan menahan getirnya perlakuan dosen pembimbing, adalah beberapa hal yang berat.

Tapi ya, ngapain sih, harus benci segala sama pertanyaan tersebut? Pertanyaan itu kan, cuma menanyakan perihal waktu. Dan pertanyaan itu sebetulnya peduli sama para mahasiswa yang katanya pengin lulus. Saya kira, menjawabnya pun cukup gampang; antara “sudah selesai”, “masih proses”, dan “masih mengumpulkan mood”. Iya, bukan?

Terlebih lagi, pertanyaan simpel itu saya pikir justru bisa menjadi sebuah peringatan, agar perasaan malas yang berlindung di balik alasan “masih mengumpulkan mood” itu segera bablas. Bahkan saya pikir, pertanyaan itu bisa jadi adalah alarm dari Tuhan agar ingat bahwa waktu untuk malas-malasan sudah cukup puas.

Tapi, kalau memang pertanyaan simpel itu dianggap sebagai ancaman sehingga membencinya, saya kira mereka segera memastikan keputusannya lagi; mau pengin lulus, atau memang berniat jadi donatur kampus?

Wahai mahasiswa tingkat akhir, sibuk cari good mood itu cuma alasan

“Ya, jelas pengin luluslah. Mahasiswa akhir itu banyak masalahnya. Mengerjakan skripsi kalau mood lagi nggak bagus, ya hasilnya juga ikut nggak bagus.”

Halah, tai kucing. Kalau memang itu yang jadi alasan, maka saya pikir alasan itu betul-betul amat sangat bebal. Lha gimana, kehidupan ini terus berjalan bosss. Kehidupan itu nggak peduli, mau mood dari sosok yang katanya akan jadi agent of change itu lagi nggak bagus, atau lagi galau gara-gara ditinggalin gebetan.

Bukannya saya sok tahu-menahu atau nggak berhak mengingatkan karena nggak merasakan menyicil skripsi di semester 7. Tapi, ayo cobalah digunakan baik-baik akal sehatnya.

Ketika menyicil skripsi dikasih jatah selama tiga bulan, dan mahasiswa tingkat akhir sibuk bermalas-malasan cari mood bagus setiap hari bahkan berminggu-minggu. Maka di saat yang sama, sebenarnya ada beberapa minggu, hari, dan jam yang telah hilang. Dan waktu yang telah hilang itu, sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk seenggaknya menulis satu sampai dua paragraf.

Ada niat, ada jalan

Saya itu sempat dikasih petuah dari dosen yang jadi pembimbing skripsi, yang kebetulan beliau sekarang jadi DPL magang saya. Saat itu beliau entah gara-gara apa, tiba-tiba curhat soal mahasiswa bimbingannya yang nggak paham-paham soal skripsi dengan alasan sulit. Beliau bilang begini:

“Pengerjaan skripsi itu ya, sebetulnya soal mau mengerjakan apa nggak, bukan bagaimana cara mengerjakannya.”

Meskipun belum sedang menyicil skripsi, saya juga sempat bertanya begini. “Soal bagaimana menulis bab per bab atau menentukan teori itu kan sulit, Pak, bagi mahasiswa?”

Beliau menjawab sekaligus memungkas percakapan, “Nggak, Zan. Semua hal teknis yang ada dalam pengerjaan skripsi itu nggak akan terasa sulit, kalau dia memang bener-bener niat mengerjakan skripsi.”

Menurut saya, sudah saatnya kita menghadapi fakta pahit ini. Mahasiswa akhir tak perlu alergi, bahkan tersinggung dengan pertanyaan ini. Lagian, ini fase yang harus kalian lewati, mau tak mau. Jadi, takut bukan pilihan, apalagi tersinggung.

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 6 Tips dari Mahasiswa Tingkat Akhir untuk para Maba

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2023 oleh

Tags: kemalasanMahasiswa Tingkat AkhirmoodSkripsi
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar Mojok.co

Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar

5 Januari 2026
10 Fitur Microsoft Word yang Perlu Dikuasai Mahasiswa yang Sedang Skripsi

10 Fitur Microsoft Word yang Perlu Dikuasai Mahasiswa yang Sedang Skripsi

25 Agustus 2024
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

9 Desember 2023
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang

4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres

17 Januari 2025
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Skripsi Selesai dalam Satu Bulan Itu Mungkin, Saya Kasih Tahu Caranya

23 Juli 2020
Seandainya Skripsi Lenyap dari Perguruan Tinggi, Ini yang Akan Terjadi Mojok.co

Seandainya Skripsi Lenyap di Perguruan Tinggi, Ini yang Akan Terjadi

13 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.