Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal

Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal Mojok.co

Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal (unsplash.com)

Mahasiswa asal Ponorogo yang kuliah ke luar kota pasti pernah mengeluhkan repotnya mudik ke kampung halaman. Inginnya sih sering-sering pulang sebagai obat kangen. Namun, hal itu tidak memungkinkan karena terkendala transportasi. Apalagi mahasiswa yang merantau ke Malang seperti saya.

Sebenarnya,  ada beberapa transportasi umum yang bisa diakses mahasiswa asal Ponorogo untuk bolak-balik Ponorogo dan tanah perantauan. Hanya saja beberapa transportasi umum itu tidak terkoneksi. Perjalanan menjadi terasa “mahal”. Bukan perkara harga saja ya, perjalanan terasa merepotkan, memakan waktu, energi, dan tentu saja biaya. 

Naik kereta harus ke Madiun

Kalau mahasiswa asal Ponorogo mau naik kereta ke kota lain, mereka perlu ke Madiun terlebih dahulu. Saya contohnya, kalau ingin merantau ke Malang perlu ke stasiun di Madiun terlebih dahulu untuk naik kereta ke Stasiun Malang. Sekilas terdengar tidak merepotkan memang, tapi perlu kalian tahu, jam keberangkatan kereta dari Madiun ke Malang sangatlah pagi. Keberangkatan kereta tersedia mulai dari pukul 23.25 WIB, 00.45 WIB, 02.42 WIB, 03.26 WIB, dan 05.38 WIB.

Kondisi semakin menantang setelah kalian tahu waktu tempuh dari Ponorogo ke Madiun yang memakan waktu 30 menit hingga 1 jam. Coba hitung sendiri jam berapa saya harus bangun dan siap-siap? Betul antara malam sekali atau pagi sekali. Oh iya, saya juga harus menyiapkan kocek Rp95.000 untuk naik kereta. Itu yang paling murah ya. Biaya yang disiapkan harus lebih dari itu karena naik kendaraan umum dari Stasiun Madiun ke Ponorogo juga memerlukan biaya. Belum lagi kendaraan dari Stasiun Malang menuju kos.

Baca halaman selanjutnya: Naik bus tidak cocok untuk…

Naik bus tidak cocok untuk orang yang tidak awas

Naik bus mungkin bisa menjadi banyak pilihan mahasiswa asal Ponorogo yang ingin pulang ke kampung halaman atau kembali ke tanah perantauan. Biayanya jauh lebih murah daripada kereta. Namun, bagi saya yang pelor, naik bus sangat saya hindari. Selain rawan kebablasan, rawan pula kecopetan. Apalagi, saat naik atau turun bus, kalau tidak awas  pencopet langsung sat set wat wet meluncurkan aksinya. 

Memang sih, mudik menggunakan bus lebih murah sehingga cocok di kantong mahasiswa. Namun, kerap kali bus ugal-ugalan bikin senam jantung. Selain itu, tidak semua bus dalam kondisi baik. Kalau sedang zonk, kalian bisa dapat bus yang pengap. Naik bus betul-betul punya banyak risiko. 

Naik travel memang paling aman, tapi bikin kantong mahasiswa jebol

Kalau mau minim risiko, pilihan paling tepat memang naik travel. Travel bisa menjemput dari kos dan mengantar sampai depan rumah, begitu pula sebaliknya. Opsi ini nggak perlu ke Madiun dulu atau ganti-ganti kendaraan. Aman dan nggak ribet kan? 

Waktu keberangkatannya pun beragam, dari pagi hingga sore tersedia. Kalau untuk tujuan Malang, kebanyakan agen travel menyediakan jam keberangkatan mulai dari jam 06.00 WIB, 08.00 WIB, 13.00 WIB, dan 15.00 WIB. Perjalanan Ponorogo-Malang atau sebaliknya memakan kurang lebih 5 jam perjalanan saja, tidak begitu lama. 

Akan tetapi, naik travel perlu merogoh kocek yang dalam, mencapai Rp120.000 sekali jalan. Jadi kalau bolak balik naik travel setidaknya perlu menyiapkan dana hingga Rp240.000. Belum lagi kalau harga berubah karena libur panjang, BBM, dan faktor-faktor lain. Benar-benar bisa tekor. 

Walau travel tidak melulu nyaman dan harganya sedikit lebih mahal, saya tetap menjadikan travel pilihan saat pulang kampung ke Ponorogo atau kembali merantau ke Malang. Opsi ini paling cocok untuk saya yang tidak awas, ngantukan, dan tidak suka repot. Perkara harga travel, saya memang perlu menabung lebih banyak sih. 

Ya, begitulah nasib mahasiswa asal Ponorogo yang kuliah di luar kota dengan kendaraan umum yang terbatas dan belum terintegrasi. Semoga di masa mendatang, transportasi Ponorogo semakin berkembang ya. Syukur-syukur punya kereta sendiri. Saya bakal jadi penumpang setia nih kalau Ponorogo punya kereta.

Penulis: Annasha Anjani Tria Amelia
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Ponorogo Butuh Transportasi Publik yang Mumpuni, karena Transportasi yang Terintegrasi Bukan Hanya Milik Kota Besar!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version