Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Luckiest Girl Alive, Film Netflix Terbaik Tahun Ini yang Mengangkat Soal Trauma Korban Pemerkosaan

Rizal Nurhadiansyah oleh Rizal Nurhadiansyah
12 Oktober 2022
A A
Luckiest Girl Alive, Film Netflix Terbaik Tahun Ini yang Mengangkat Soal Trauma Korban Pemerkosaan Terminal Mojok

Luckiest Girl Alive, Film Netflix Terbaik Tahun Ini yang Mengangkat Soal Trauma Korban Pemerkosaan (Instagram Netflix Indonesia)

Share on FacebookShare on Twitter

Netflix belakangan ini tampak sangat bersemangat memproduksi film berkualitas. Beberapa film bahkan mendapat banyak pujian baik dari audiens maupun kritikus, misalnya Do Revenge dan Athena—tentu saja film Blonde tidak masuk ke dalam daftar ini. Kali ini Netflix menggaet sutradara asal Inggris, Mike Barker (Moby Dick, To Kill a King), untuk menyutradarai film Luckiest Girl Alive.

Betul. Luckiest Girl Alive adalah seperti apa yang kamu pikirkan. Film ini memang diadaptasi dari novel Best Seller New York Times berjudul sama karya Jessica Knoll. Jika kamu penggemar Jessica dan novelnya, kamu tidak akan kecewa karena sang penulis ikut berpartisipasi dalam penulisan naskah skenario film ini.

Luckiest Girl Alive mengisahkan kehidupan sempurna Ani Fanelli (Mila Kunis), seorang penulis di majalah wanita populer, yang bertunangan dengan Luke Harrison (Finn Wittrock), seorang pria dari kalangan terhormat dan sayang padanya. Namun, seiring waktu berjalan, kita akhirnya mengetahui bahwa ada masa lalu yang menghantui Ani. Dia memilih untuk tidak membahas kejadian kelam itu.

Kehidupan Ani yang sempurna lalu terguncang ketika seorang pembuat film dokumenter ingin mewawancarainya tentang tragedi school shooting yang dialaminya. Kejadian yang akan selalu melekat dengan dirinya, dan orang-orang selalu mengira bahwa Ani terlibat dalam peristiwa tersebut.

Film Netflix berdurasi hampir dua jam ini memiliki banyak hal untuk diceritakan. Penuturannya tidak semulus versi novel, tetapi sebagai kritik sosial, film ini selalu tepat sasaran. Jessica Knoll paham betul cara mengolah materi adaptasinya menjadi rangkaian plot yang koheren. Tidak semua hal dalam buku dituangkan ke film, tetapi poin utamanya tetap sama, bahwa trauma akan tinggal dalam waktu yang sangat lama dan tidak mudah untuk menghadapinya.

Awalnya saya mengira Luckiest Girl Alive akan menjadi film misteri seperti bagaimana Netflix menjualnya. Saya pikir Jessica Knoll memang ingin membuat adaptasi bukunya menjadi seperti Gone Girl karya David Fincher yang misterius dan menegangkan. Nyatanya, film ini menawarkan drama yang reflektif.

Tapi, memangnya ada kesamaan antara Luckiest Girl Alive dengan Gone Girl? Ya ada. Kedua film ini cukup provokatif dan brutal. Luckiest Girl Alive memuat adegan pemerkosaan dan penembakan dengan cukup gamblang. Namun, porsi adegan-adegan tersebut masih terbilang wajar. Kecuali jika kamu memiliki pengalaman serupa, film ini mungkin akan sulit untuk ditonton.

Luckiest Girl Alive bertransformasi dari 15 menit yang cukup “cerah” menjadi kisah korban pemerkosaan yang dituduh terlibat dalam penembakan massal di sekolah 15 tahun lalu. Saya suka bagaimana Mike Barker dan Jessica Knoll merusak ekspektasi penonton (dalam hal yang baik). Sebab kalau film ini tidak bertransformasi, ini hanya akan jadi film tentang perempuan yang berharap bisa melakukan apa yang dia pikirkan—seperti membunuh calon suaminya sendiri, misalnya. Selain itu, film ini akan sangat menyebalkan. Saya bersyukur film Netflix ini menjadi lebih thoughtful dan bertindak adil pada semua karakternya. 

Baca Juga:

Penjelasan Ending Film The Great Flood buat Kamu yang Masih Mikir Keras Ini Sebenarnya Film Apa

6 Rekomendasi Tontonan Netflix untuk Kamu yang Mager Keluar Rumah Saat Liburan Tahun Baru

Film ini cukup berhasil menjelaskan sulitnya move on dari trauma. Beranjak dari trauma tidak semudah nasehat sabar dan sok bijak dari orang-orang. Film ini menjelaskan dengan panjang lebar sesulit apa untuk mengungkapkan rasa sakit yang diderita akibat trauma masa lalu. 

Menggambarkan trauma dan penderitaan korban pemerkosaan

Luckiest Girl Alive juga menggambarkan bagaimana penderitaan korban pemerkosaan (tanpa mengeksploitasi penderitaannya) dan bagaimana trauma membangun dan merusak banyak hal dalam hidup. Ani yang selalu didikte oleh ibunya, suatu hari sadar bahwa mimpinya penting, begitu juga mimpi semua perempuan. Ani dihadapkan pada pilihan dilematis seperti pindah ke London bersama Luke dan hidup sebagai istrinya atau bekerja di New York Times seperti keinginannya. Dia akhirnya mampu memutuskan pilihan berdasarkan dirinya, bukan ibunya.

Jessica Knoll dalam buku dan naskah filmnya juga memperlakukan korban pemerkosaan seperti Ani dengan bijak. Film ini tidak menghakimi, tetapi berusaha memahami perasaan dan pikiran Ani. Film ini juga percaya bahwa semua orang bisa bangkit dari keterpurukan, seburuk apa pun itu. Ending film ini sangat powerful dan savage, merealisasikan semua racauan yang sebelumnya hanya ada di pikiran Ani. Film ini berakhir tanpa meninggalkan teka-teki atau pertanyaan. Semua hal yang ada di film ini disimpulkan dengan baik di akhir.

Satu hal penting selain trauma yang perlu disorot di film ini adalah tamparan untuk masyarakat dan media soal jarangnya pemerkosaan disebut pemerkosaan. Kita lebih sering membaca kata “cabul”, “disetubuhi”, “rudapaksa”, dan seterusnya pada tajuk berita daripada secara gamblang menyebut “pemerkosaan”. Hal tersebut terdengar seperti melindungi pelaku pemerkosaan, masyarakat dan media bahkan lebih sering membahas dan menggunjing korban.

Setelah menonton Luckiest Girl Alive, saya mengingat kembali versi novel yang saya baca sewaktu SMA. Kemudian saya menyadari bahwa meski bersifat fiktif, beberapa kejadian di film ini diambil dari kejadian nyata yang menimpa penulisnya, Jessica Knoll saat remaja, termasuk pemerkosaan (gang rape) dan kejadian school shooting. Saya juga kembali mengunjungi esai What I Know yang ditulis Jessica Knoll, yang secara gamblang menuliskan pengalaman mengerikan yang dialaminya. Saya akhirnya memahami mengapa film ini begitu kuat secara naratif dan sangat reflektif.

Luckiest Girl Alive adalah film tentang berdamai dengan trauma yang “brutal”, tetapi juga reflektif. Terlepas dari kekurangan teknis seperti editing yang tidak konsisten, film ini layak dinobatkan sebagai salah satu rilisan Netflix terbaik tahun ini. Saya ingin sekali merekomendasikan film ini kepada semua orang, tetapi karena mengandung banyak adegan yang mengganggu, sebaiknya kamu membaca informasi tentang film ini dahulu sebelum menonton.

Penulis: Rizal Nurhadiansyah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Film Semi Terbaik di Netflix yang Nggak Cuma Jual Adegan Seks.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2022 oleh

Tags: film netflixKorban PemerkosaanLuckiest Girl AliveMila Kunisnetflix
Rizal Nurhadiansyah

Rizal Nurhadiansyah

Pemerhati sinema yang menganggap hidup adalah film dengan naskah yang belum selesai. Aktif menulis cerpen dan puisi. Menggunakan media sosial untuk studi banding karakter manusia.

ArtikelTerkait

Soeraja dalam Serial Gadis Kretek Adalah Contoh Mas-mas Red Flag yang Harus Dihindari Semua Perempuan Indonesia

Soeraja dalam Serial Gadis Kretek Adalah Contoh Mas-mas Red Flag yang Harus Dihindari Semua Perempuan Indonesia

10 November 2023
5 Drama Korea yang Bikin Saya Menyesal Telah Menontonnya

5 Drama Korea yang Bikin Saya Menyesal Telah Menontonnya

14 Januari 2024
Rekomendasi TV Series untuk Kamu yang Harus Stay di Rumah

Rekomendasi TV Series untuk Kamu yang Harus Stay di Rumah

18 Maret 2020
5 Drama Korea yang Bagus, tapi Cukup Ditonton Sekali Saja. Nggak Usah Rewatch!

5 Drama Korea yang Bagus, tapi Cukup Ditonton Sekali Saja. Nggak Usah Rewatch!

4 Mei 2024
7 Rekomendasi Drama Korea yang Aman Ditonton Selama Bulan Puasa, Bebas Adegan Ciuman dan Seks!

7 Rekomendasi Drama Korea yang Aman Ditonton Selama Bulan Puasa, Bebas Adegan Ciuman dan Seks!

11 Maret 2024
5 Dokumenter Pembunuhan di Netflix yang Sukses Bikin Merinding Terminal Mojok

5 Dokumenter Pembunuhan di Netflix yang Sukses Bikin Merinding

2 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Saya Pakai ThinkPad Bukan karena Saya Pekerja Keras, tapi karena Malas

Saya Pakai ThinkPad Bukan karena Saya Pekerja Keras, tapi karena Malas

20 Januari 2026
Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

20 Januari 2026
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.