Lontong Kupang Makanan Jawa Timur Paling Red, tapi Anehnya Banyak yang Suka

Lontong Kupang Kuliner Red Flag Jawa Timur, tapi Banyak yang Suka Mojok.co

Lontong Kupang Kuliner Red Flag Jawa Timur, tapi Banyak yang Suka (wikipedia.org)

Lontong kupang adalah salah satu makanan Jawa Timur yang sering saya jumpai di Surabaya. Oleh salah satu penulis Mojok, makanan ini punya sisi problematik sehingga dimasukkan jadi salah satu makanan redflag. Saya sepakat dengan hal itu.

Dilihat dari tampilannya, saya yakin orang-orang akan agak merinding untuk mencicipinya. Belum lagi fakta bahwa kerang kecil, salah satu bahan dalam Lontong kupang, menyerap logam berat sehingga kurang sehat untuk dikonsumsi. Ya kita tahulah betapa kotor dan tercemar laut Jawa. 

Di samping semua sisi red flag yang dimilikinya, lontong kupang jadi salah satu rekomendasi makanan ketika ke Surabaya. Selalu ada saja penikmat makanan Jawa Timur ini. Saya pun mencoba mencari tahu apa sebetulnya yang membuat lontong kupang ini tetap disukai walau terpampang nyata sisi red flag-nya. 

#1 Kombinasi rasa lontong kupang yang tidak biasa

Diakui oleh para penikmatnya, lontong kupang punya kombinasi rasa yang tidak biasa. Kerang kecil yang disiram kuah, ditambah dengan seperangkat kondimen seperti petis, bawang, cabai, kemudian jeruk nipis bikin kumpang punya rasa yang gurih, segar, dan sedikit manis. Sentuhan asam dari jeruk membuat kuahnya jadi terasa hidup. Kuahnya memang punya rasa yang tidak monoton. Menyeruputnya jadi ritual wajib untuk menikmati surga makanan satu ini.

Selain kekuatan kuah, petis (yang basisnya udang/hasil olahan seafood) membawa rasa umami yang kuat. Bagi penikmatnya, umami dipadukan dengan sensasi pedas adalah kombinasi yang bikin nagih. Jadi bisa dibilang soal kombinasi rasa, yang membuatnya dicintai adalah rasa kuah dan petisnya.

#2 Lontong yang memberi kenyamanan

Keberadaan lontong dalam makanan satu ini bukan hanya soal pemenuhan karbohidrat, tapi simbol netralitas di tengah dua tiga rasa yang ada, yaitu gurih, manis, asam. Rasanya yang tawar justru menyeimbangkan. Sehingga lidah tidak kapok mencicipi makanan satu ini.

Selain itu, lontong juga memberi kelembutan di tengah kuah dan umami. Perpaduannya bersama dengan kupang yang kecil-kecil dan letho (gorengan singkong) makin melengkapi kayanya tekstur dari lontong kupang ini. Lembut, basah, dan renyah bercampur dalam satu suapan.

#3 Sensasi amis lontong kupang tidak jadi masalah

Dari segi pola, orang yang doyan makan lontong kupang biasanya menetralisir amis atau rasa  apapun dalam sajiannya dengan es kelapa muda. Fungsinya di sini untuk menghilangkan aftertaste pasca menikmati lontong kupang. Terlepas cara ini punya efek sensorik, sugesti, atau keduanya, yang pasti pairing ini bikin pengalaman menikmati kupang jadi lebih bersahabat bagi banyak orang.

#4 Bisa karena terbiasa mencicipinya 

Ada istilah yang namanya acquired taste yang mana selera dibangun karena sering dilatih. Jadi rasa petis dan aroma seafood dari lontong kupang ini punya kecenderungan bila sering dimakan, maka lama-kelamaan ketagihan. Orang Jawa Timur tentu sudah terbiasa dengan makanan ini sejak kecil sehingga jadi akrab.

Lalu, bagaimana dengan pendatang? Nah pengaruh teman dari kalangan warga asli punya andil yang besar. Biasanya pendatang memang tidak akan berani coba dalam momen sekali tatap. Tapi, kalau diajak terus menerus, coba sekali kapok, coba kedua malu-malu, ketiga kalinya sudah nggak nolak. 

Kondisi ini dipengaruhi bisa jadi karena pertama sudah terbiasa dengan makanan Jawa Timur yang kuat. Apalagi kalau soal petis, di makanan mana pun ada. Kedua, ya karena sudah mencoba beberapa kali sehingga mulut dan perut sudah tidak menolak.

#5 Sulit ditemukan di luar Jawa Timur jadi bikin pensaran 

Bisa dibilang, lontong kupang ini sangat amat jarang ditemukan di luar Jawa Timur. Sesuatu yang jarang dan khas umumnya bikin sebagian orang penasaran sehingga mau mencobanya. Nah, kalau yang mencoba itu kalangan yang terbiasa dengan makanan ekstrem, baik dari segi bentuk maupun rasa, maka menikmati lontong kupang adalah sesuatu yang premium. Terlebih bagi mereka yang berstatus pendatang.

Sama halnya dengan mereka yang warga asli, tapi lama merantau. Lontong kupang memberi rasa nostalgia dan kerinduan tersendiri. Sehingga jadi makanan yang meski aneh, tapi disantap hampir tiap hari.

Dari semua alasan di atas, dapat saya simpulkan bahwa lontong kupang ini menawarkan tantangan, terlebih soal bagaimana cara dia dilihat dan dirasakan. Secara visual, makanan ini terlihat meragukan, dan secara kesehatan, ia membawa risiko dari laut yang tidak bersih. Tapi di sisi lain, bagi penikmatnya, kuahnya yang punya rasa ramai, petis yang umami, jeruk yang asam segar, dan lontong yang lembut adalah kombinasi yang terasa bersahabat di lidah.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version