Ada yang bilang bahwa Surabaya adalah kota yang keras. Saya sepakat dengan hal itu. Kultur di Surabaya memang lebih blak-blakan dengan intonasi berbahasanya yang begitu tegas. Dan, kota pahlawan ini pun cuacanya begitu panas.
Selain semua hal tadi, kerasnya Surabaya juga bisa dinilai dari cita rasa olahan makanannya yang kuat, pedas, dan berkarakter. Lontong kupang, rujak cingur, rawon, dan nasi goreng merahnya adalah contoh makanan yang nggak semua orang bisa menikmatinya karena punya karakter tersendiri.
Akan tetapi, dari banyak makanan khas Surabaya, ada satu makanan yang menurut saya jadi pembeda, yaitu lontong balap. Makanan ini menurut saya jadi salah satu bentuk keramahan Surabaya di tengah citranya yang keras. Selaku pendatang, saya merasa makanan ini seperti warga lokal yang menyapa dengan kalimat, “Wis, mrene dhisik, mangan. Ojo wedi-wedi.”
Rasa lontong balap “ramah” di lidah pendatang
Bagi yang belum familiar, lontong balap ini adalah sepiring lontong yang ditemani tauge, tahu, lentho (semacam gorengan), kuah gurih, sambel, dan kecap yang keseluruhannya memberikan rasa yang ramah di lidah. Lontong balap ini punya profil rasa yang gurih, sedikit manis, hangat, dan ringan. Kombinasi rasa ini membuatnya ramah bagi lidah pendatang. Rasa kuahnya mudah dikenali karena cenderung mirip dengan olahan makanan berbahan lontong berkuah lainnya di banyak daerah.
Faktor ini juga yang membedakannya dengan lontong kupang yang memang spesifik dan berkarakter, baik dari sisi rasa maupun aromanya yang kuat. Buat orang yang belum terbiasa, lontong kupang boleh jadi dianggap terlalu ekstrim. Oleh karena itu, kehadiran lontong balap jadi sisi lain dari olahan lontong yang memberi rasa nyaman bagi lidah pendatang.
Bagi saya, lontong balap adalah manifestasi dari kesederhanaan yang kaya. Sebab kondimen di dalamnya itu biasa, tapi punya peran dan fungsi masing-masing yang memperkaya makanan ini. Lontong memberi rasa kenyang, tauge memberi kesegaran, tahu yang netral, sementera lentho jadi jangkar utama yang mengunci rasa gurih. Seluruh kondimen itu dipadukan dengan rasa kuahnya yang tidak meledak-ledak.
Harganya ramah di kantong
Dari sisi harga, lontong balap juga sangat terjangkau. Umumnya kalau di gerobakan pinggir jalan, hanya sekitar 10 – 15 ribuan. Harga segitu membuatnya cocok untuk dijadikan sebagai makanan perkenalan. Pendatang seperti saya tentu butuh menyesuaikan diri, terutama perkara harga. Saat ekonomi sulit seperti saat ini, harga makanan yang terjangkau adalah instrumen penting untuk menghindari risiko dengan tetap mempertahankan kepuasan.
Dari semua pertimbangan di atas, membuat saya menempatkan lontong balap sebagai kuliner selamat datang. Mereka yang merantau atau sekadar singgah di Surabaya bisa tercukupi rasa penasarannya soal makanan lokal yang ramah di lidah. Lontong balap memberi pengalaman kuliner yang akrab bagi yang pertama kali dicicipi. Berbeda dengan lontong kupang yang berpotensi melempar penikmat pertamanya ke rasa traumatik.
Asal usul nama yang unik
Oh iya, ada yang unik dari makanan ini, yaitu dari namanya. Konon nama lontong balap lahir dari cara pedagangnya tempo dulu yang berjalan sangat cepat, hingga setengah berlari sambil memikul dagangan mereka agar lebih dulu sampai ke pelanggan.
Karena terlihat seperti sedang balapan, masyarakat pun memberi nama lontong balap. Jadi balap di sini bukan pembelinya yang berebut tapi penjualnya yang saling bersahut untuk menarik pembeli. Secara lebih dalam, nama ini bisa dimaknai sebagai persaingan kecil yang manusiawi dan sehat.
Sekarang, makanan ini sudah ada di hampir tiap sudut Surabaya. Sangat mudah ditemukan sehingga cocok dinikmati pendatang.
Satu hal yang saya sadari setelah menikmati makanan lontong balap, di tengah panas, keras, dan ketusnya Surabaya, ada sisi keramahan yang ditawarkan dari sepiring makanan yang sederhana ini. Para penjualnya dengan wajah yang bisa jadi tidak selalu tersenyum, tapi keramahan dalam bertanya, menawarkan kuah tambahan, atau sekadar diam tak mengganggu saat makan, saya jadi bisa merasakan, bahwa makanan bukan hanya soal kenyang, tapi juga tentang merasa diterima.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















