Setelah menginjak angka 30 tahun usia manusia, apalagi kini memikul tanggung jawab sebagai seorang bapak dan kepala rumah tangga, cara pandang saya terhadap tetek bengek hari raya Lebaran mulai berubah. Yang paling berharga bukan soal seberapa mentereng perayaan, melainkan dapur tetap ngebul dan kesehatan mental keluarga tetap terjaga.
Seminggu lagi Lebaran tiba, dan seperti biasa, kebiasaan tidak tertulis mengenai apa yang harus dilakukan mulai bertebaran. Berbagai media sosial mendadak penuh dengan foto hampers, pamer tumpukan uang baru hasil nuker di pinggir jalan, sampai riuh urusan baju keluarga yang warnanya harus seragam dan mengikuti tren.
Padahal, kalau kita mau jujur, merayakan Lebaran nggak seribet itu. Di sini saya akan jelaskan perkara mana yang menjadi kewajiban dan mana yang sekadar tuntutan (tuntutan gaya hidup).
Daftar yang nggak wajib ada di bulan Ramadan dan Lebaran
Kadang, tekanan sosial bikin kita merasa berdosa kalau nggak mengikuti arus. Padahal, demi finansial yang sehat, poin-poin ini hukumnya boleh dilakukan kalau ada rezeki lebih, tapi tidak dianjurkan kalau sampai gali lubang tutup lubang demi mendapatkan validasi dari orang ketika Lebaran.
#1 Nggak wajib tukeran atau ngasih hampers
Jangan sampai demi kirim berbagai macam kue kering ke relasi, jatah susu anak malah berkurang. Sahabat sejati nggak bakal mutusin silaturahmi cuma gara-gara nggak dapet paket keranjang dan hampers estetik pas Lebaran.
#2 Nggak wajib beli baju baru pas Lebaran
Esensi hari fitri adalah hati yang kembali suci, bukan kain yang baru keluar dari plastik toko. Baju tahun lalu yang masih layak jauh lebih mulia daripada baju baru hasil ngutang dan kasbon ke pinjol.
#3 Nggak wajib ngasih THR ke keponakan pas Lebaran
Apalagi kalau kita sendiri masih struggle memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Dalam Islam, sedekah itu afdalnya diberikan setelah kebutuhan keluarga inti tercukupi. Jangan jadi pahlawan di mata orang lain tapi jadi pesakitan di rumah sendiri.
#4 Nggak wajib ikut acara sana-sini
Kamu punya hak sebagai kepala keluarga untuk bilang “nggak” pada undangan reuni atau open house yang cuma jadi ajang adu nasib dan pencapaian kala Lebaran. Waktu bersama keluarga kecil di rumah sendiri jauh lebih berkualitas.
Kembali ke yang dasar. Apa yang benar-benar wajib?
Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran yang sifatnya seremonial, kita sering lupa bahwa perintah Allah itu sangat jelas dan tidak membebani. Sebagai hamba, yang wajib di bulan ramadhan dan bulan lainnya adalah:
#1 Salat Lima Waktu
Salat 5 waktu adalah tiang agama yang tidak ada tawar-menawarnya, baik saat hari biasa maupun hari raya Lebaran. Ini yang harus diperbaiki, terutama buat kita yang salatnya masih suka malas-malasan atau bahkan masih sering bolong-bolong. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 103:
“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
#2 Puasa Ramadan
Kewajiban utama yang menjadi identitas Islam kita sebagai hamba yaitu puasa sebulan penuh selama bulan Ramadan. Ingat, puasa itu dijalani dengan jujur, jangan sampai “mokel” atau diam-diam buka di siang hari padahal fisik sehat bugar. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
#3 Zakat fitrah nggak pas Lebaran saja
Pembersih bagi yang berpuasa dan hak bagi mereka yang membutuhkan. Allah menegaskan pentingnya zakat dalam banyak ayat, salah satunya QS. Al-Baqarah: 43:
“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”
Bahkan, hal-hal yang selama ini kita anggap “satu paket” wajib seperti Salat Ied dan Salat Tarawih sebenarnya adalah sunnah. Tentu pahalanya besar, tapi jangan sampai kita sibuk mengejar yang sunnah, tapi malah melupakan kewajiban utama kita sebagai seorang muslim/muslimah.
Yang lebih penting ketika Lebaran
Di Lebaran tahun ini, jangan biarkan ekspektasi tetangga atau algoritma berbagai sosial media mendikte kebahagiaan rumah kita. Kalau memang belum mampu bagi-bagi amplop atau beli hampers mewah, ya sudah. Tidak apa-apa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Mari kita sambut hari raya kemenangan dengan hati yang tenang. Di atas semua hiruk-pikuk duniawi, mari kita fokus memohon ampunan atas segala khilaf yang sengaja maupun tidak disengaja. Tak lupa, panjatkan doa yang tulus kita diberikan umur untuk bisa dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA THR Ludes Sebelum Hari Raya Tidak Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
