Lampung Itu Nama Provinsi, Bukan Nama Kota. Pas SD Pernah Belajar IPS Nggak sih?

Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah

Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah (unsplash.com)

Ketika mendengar kata Lampung, kira-kira apa yang pertama kali muncul di benak kalian? Begal? Maling motor? Jalan rusak parah?

Tidak salah. Hingga kini pun, berita kejahatan dan kecelakaan lalu lintas di Lampung macam tak ada habisnya. Namun, kali ini saya ingin membahas perihal lain yang bikin jengkel menahun sehubungan kata “Lampung”.

Sesuai judul artikel, saya acap kali merasa sebal ketika melihat atau mendengar orang-orang memosisikan nama Lampung sebagai kota, bukan provinsi. Banyak pula yang menyebut “Kota Lampung”. Entah karena kurang tahu, malas cari tahu, atau memang tidak peduli apa bedanya. Yang jelas, salah kaprah ini terus saja berulang.

Padahal, Lampung merupakan provinsi yang sudah mandiri dan terpisah dari Sumatera Selatan sejak 1964. Bukan hasil pemekaran kemarin petang. Ibu kotanya adalah Bandar Lampung. Tidak ada tuh yang namanya Kota Lampung.

Kasus serupa juga ditemukan pada Aceh. Padahal, ibu kota provinsi ini adalah Banda Aceh. Namun, tak jarang yang menggunakan “Kota Aceh” ketika merujuk Kota Banda Aceh.

Di sisi lain, nama provinsi dan ibu kota yang sama persis tanpa embel-embel lain di Indonesia hanya ada tiga: Bengkulu, Jambi, dan Gorontalo. Mau disebut provinsi atau kota, sama-sama benar.

Maka dari itu, saya heran. Bukankah semasa SD dulu kita pernah menghafal nama-nama provinsi beserta ibu kota di Indonesia hingga di luar kepala? Kadang dalam soal pilihan ganda pun disuruh menebak wilayah berdasarkan peta. Minimal angkatan KTSP, deh.

Tak usahlah bicara soal belajar pengetahuan umum dari atlas atau menamatkan isi RPUL. Mata pelajaran IPS saja pasti semua orang pernah dapat toh?

Hanya karena tampak sepele, bukan berarti miskonsepsi ini pantas diwajarkan

Masalahnya, kekeliruan ini bukan hanya muncul dalam percakapan sehari-hari. Saya kerap menemukannya di portal berita nasional, takarir dan judul konten di media sosial, sampai spanduk tur keliling Indonesia. Yang mereka rujuk biasanya sih Bandar Lampung, tetapi kata “Bandar” nyaris selalu dipangkas. Entah mengapa. Efisiensi kali.

Contohnya judul video YouTube dari kanal Nessie Judge yang diunggah pada bulan Maret lalu, Misteri Kota Lampung. Judul tersebut telah diganti menjadi Misteri Provinsi Lampung setelah dikoreksi beberapa netizen di kolom komentar.

Yang membuat saya tergelitik ialah beberapa balasan yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu diributkan. Toh, entah kota entah provinsi, konteksnya tetap Lampung.

Tetapi, mau sampai kapan kesalahan seperti ini dianggap sepele dan wajar, padahal yang hendak diluruskan hanya pengetahuan dasar?

BACA JUGA: Jalan Lampung yang Bobrok Sebenarnya Wujud Cinta Pemerintah ke Warganya

“Lampung” kerap disejajarkan dengan Palembang, Bandung, Makassar, atau Samarinda

Fenomena seperti ini juga tak jarang tampak pada poster dan spanduk yang mencantumkan lokasi acara, pemutaran film, pertunjukan standup comedy, hingga daftar gerai cabang. Nama “Lampung” kerap disejajarkan dengan Palembang, Bandung, Makassar, atau Samarinda, seolah-olah status administratifnya sama.

Padahal, Provinsi Lampung hanya terdiri atas dua kota: Bandar Lampung dan Metro. Jadi, ketika sebuah poster hanya menuliskan “Lampung”, sebenarnya yang dimaksud apa? Bandar Lampung? Seluruh Provinsi? Atau malah jangan-jangan Kabupaten Pesawaran? Pesannya jadi ambigu.

Lebih jauh lagi, kebiasaan memotong nama Bandar Lampung membuat banyak orang di luar Sumatra tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai posisi provinsi ini. Saya mulai menyadari hal ini ketika mengikuti magang MSIB di Jakarta Selatan pada 2024 silam.

Mayoritas pesertanya berasal dari Pulau Jawa, terutama Jabodetabek. Mahasiswa dari Sumatera hanya ada tiga orang, termasuk saya.

Basa-basi berkenalan tentu perihal biasa. Namun, sewaktu memberitahu asal saya dari Bandar Lampung, respons dari beberapa orang cukup bikin dahi mengernyit.

“Wah, jauh juga ya.”

Masalahnya bukan satu dua orang. Sepertinya mereka merespons demikian lantaran mengetahui fakta bahwa Lampung terletak di Pulau Sumatera saja. Beda pulau. Otomatis jauh meskipun hanya menyeberangi Selat Sunda.

Ketika saya memberitahu harga tiket pesawat serta jarak tempuh dari Bandara Radin Inten II ke Bandara Soekarno–Hatta, banyak yang kaget bukan kepalang. Mereka tidak menyangka biaya perjalanan saya justru lebih murah ketimbang beberapa peserta yang berasal dari DIY, Jawa Tengah, atau Jawa Timur.

Tak sedikit pula yang mengira seluruh wilayah Lampung sangat tertinggal. Kalau soal fasilitas dan akses dibanding kota-kota besar di Pulau Jawa sih saya setuju. Jauh, jauh sekali ketertinggalannya.

Namun, yang dimaksud tertinggal adalah tidak ada mal. Tidak ada bioskop. Tidak ada Alfamart dan Indomaret. Bahkan, teman saya ada yang tak percaya bahwa provinsi ini memiliki banyak pantai yang indah. Meskipun memang, persoalan terakhir sih ada andil besar dari pemerintah daerah yang kurang becus memaksimalkan potensi.

Tak kenal, maka tak sayang

Yah … nama Lampung memang lebih sering muncul di lini masa ketika ada kasus kriminalitas, jalan rusak, atau hal-hal buruk lainnya yang viral di medsos. Potensi wisatanya pun masih kalah gaung dibanding destinasi lain di Indonesia. Tak heran apabila banyak orang yang tidak menyadari bahwa pintu gerbang Sumatera ini lokasinya sangat dekat dengan ibu kota negara.

Pada akhirnya, yang membuat saya jengkel bukanlah orang luar yang belum terlalu mengenal Provinsi Lampung, melainkan miskonsepsinya. Toh, Nusantara terlalu luas untuk dihafal seluk-beluknya oleh semua orang.

Maka dari itu, saya harap setidaknya satu hal sederhana ini bisa diluruskan. Lampung adalah nama provinsi, sedangkan Bandar Lampung adalah ibu kotanya. Jadi, lain kali jangan ada lagi frasa “Kota Lampung”. Pas SD pernah belajar IPS, kan?

Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version