Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living (unsplash.com)

Tulisan Terminal Mojok Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja sangat enak dibaca. Narasinya yang rapi membuat Kulon Progo terdengar adem dan cocok jadi tempat pelarian ideal dari hidup yang terlalu ribut. Seolah-olah daerah ini sempurna untuk slow living.

Namun, catatannya satu, tulisan di atas terasa ditulis dari “luar pagar”. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun hidup di Kulon Progo, saya kurang setuju. Kulon Progo memang tenang, ritmenya pelan, dan hidup terasa tidak terburu-buru. Tapi, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Hidup yang pelan di sini sering kali bukan pilihan, melainkan keadaan. Ritme hidup yang lambat sering dianggap kelebihan, seolah identik dengan damai. Padahal, dari dalam, pelan kadang hanya berarti tidak banyak opsi. Pilihan kerja terbatas, kesempatan tidak selalu datang, dan banyak orang menjalani hidup bukan karena ingin menikmati proses, tapi karena memang tidak ada banyak alternatif.

Jadi, ketika hidup terasa tidak terburu-buru, itu bukan selalu karena semua orang sepakat untuk melambat. Bisa jadi karena memang tidak ada yang bisa dikejar. Ini yang sering luput dari narasi tulisan sebelumnya. 

Slow Living bukan soal tempat

Slow living bukan soal pindah ke daerah sepi lalu hidup otomatis lebih bermakna. Ini soal kemampuan memilih ritme hidup. Jika pilihan dari awal terbatas, itu bukan slow living, hanya menerima keadaan.

Tulisan Terminal Mojok terasa kuat dari sudut pandang pengunjung. Ada kesan Kulon Progo sebagai tempat “menepi”, mengambil jeda dari kehidupan yang sibuk. Tempat untuk datang, menikmati suasana, lalu pulang dengan perasaan lebih ringan. Memang benar, bagi yang datang dari luar, Kulon Progo terasa seperti itu. Tapi, bagi yang warga lokal, ini bukan tempat singgah. Ini tempat hidup, dan hidup tidak selalu bisa dinikmati seperti orang-orang luar kota liburan.

Kenyataan yang terjadi di Kulon Progo

Slow living sering dibayangkan sebagai hidup santai tanpa tekanan. Namun, realitasnya, hidup santai membutuhkan kondisi stabil: penghasilan aman dan rasa tenang bahwa kebutuhan dasar tercukupi.

Jika penghasilan berkali-kali lipat dari UMR, mungkin Kulon Progo terasa ideal. Hidup bisa dinikmati tanpa terburu-buru. Tapi bagi banyak orang, hidup pelan berubah menjadi hidup yang serba ditahan. Mereka mengatur pengeluaran, menunda kebutuhan, dan terus berpikir bagaimana bertahan di tengah pilihan yang terbatas. Dan, itu jelas bukan slow living.

Tulisan yang melihat sisi indah Kulon Progo tidak salah memang. Tapi, jika sisi itu dijadikan gambaran umum, masalahnya jadi pelik. Dan, bukan tidak mungkin mengaburkan persoalan-persoalan yang nyata terjadi di daerah ini. Sebagai warlok, saya bisa bilang kalau tempat ini bukan hanya tentang ketenangan, tapi juga tentang keterbatasan.

Di Lapangan, tidak semua warga lokal punya kesempatan untuk bergerak lebih cepat. Jadi ketika Kulon Progo disebut sebagai tempat terbaik untuk slow living, pernyataan itu perlu dikoreksi. Kulon Progo memang bisa menjadi tempat untuk melambat, tapi hanya bagi mereka yang punya pilihan untuk pelan. Bagi yang tidak, itu bukan slow living, itu hanya hidup yang kebetulan berjalan tanpa banyak pilihan.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version