Kawasaki Brusky 125 mungkin memang belum atau bahkan tidak menjadi jawaban sempurna. Tapi, coba lihat nanti, siapa tahu, mereka berbenah
Menggunakan motor matic bagi saya memang menawarkan kenyamanan yang sulit diperdebatkan. Sebagai pengendara, kita tak perlu lagi repot memainkan tuas kopling atau sibuk memindahkan gigi ketika menghadapi kemacetan kota. Tinggal putar gas dan tekan rem, mobilitas harian menjadi jauh lebih praktis.
Saya tentu tidak sendirian merasakan kenyamanan tersebut. Tren motor matic di Indonesia memang sudah bukan sekadar fenomena, melainkan telah menjadi budaya berkendara baru.
Berdasarkan laporan Jakpat bertajuk Behaviour and Preferences of Motorcycle Users and Buyers pada Oktober 2025 yang melibatkan 1.137 responden pemilik sepeda motor, sebanyak 58 persen responden memilih motor matic sebagai kendaraan sehari-hari. Angka tersebut menjadikan matic sebagai jenis motor paling populer di Indonesia.
Tidak mengherankan jika kemudian hampir seluruh pabrikan otomotif berlomba masuk ke segmen ini. Motor matic bukan lagi sekadar kendaraan praktis, tetapi telah menjadi pasar paling gemuk yang sulit diabaikan.
Peluang ini tampaknya juga dibaca oleh Kawasaki, merek yang selama ini dikenal dengan citra motor sport berperforma tinggi, akhirnya ikut terjun di pasar matic melalui Kawasaki Brusky 125.
Desain Kawasaki Brusky 125 yang sebenarnya sudah amat familiar
Kawasaki Brusky 125 hadir membawa konsep “Color Your Lifestyle”. Namun, entah warna gaya hidup seperti apa yang ingin ditawarkan Kawasaki, sebab dari sisi desain menurut hemat saya justru terasa seperti sedang mengulang konsep yang sudah pernah ada.
Tak banyak kebaruan yang benar-benar menonjol dari motor ini. Dari bagian depan hingga sisi bodi, Brusky 125 justru berusaha mengingatkan saya pada Honda Vario generasi kedua. Desain knalpotnya pun amat familiar dengan skutik Honda di kelas serupa. Yang membedakan hanya di bagian belakang sih, karena membawa nuansa Yamaha NMAX. Hadeuh.
Tak terelakkan, industri otomotif memang tidak pernah benar-benar lepas dari tren dan referensi desain kompetitornya. Namun untuk merek sebesar Kawasaki, yang selama ini dikenal punya karakter kuat dan elegan, pertanyaan mendasarnya di mana letak identitas Kawasaki dalam Brusky 125? Sebab dalam marketing mengikuti tren itu amat wajar, tetapi kehilangan ciri khas adalah persoalan lain.
Fiturnya memang ada pembeda tapi juga tak seberapa
Kalau urusan fitur, Kawasaki Modenas Brusky 125 sebenarnya tidak datang dengan tangan kosong. Skutik ini sudah dibekali Dual LED Headlights dengan DRL, lampu belakang LED, bagasi 14 liter, kompartemen depan dengan USB Power Socket, tombol pembuka jok terintegrasi, hingga lampu hazard.
Namun, mari bersepakat bahwa fitur-fitur tersebut juga bukan sesuatu yang benar-benar baru di kelas motor matic. Sebagian besar kompetitor bahkan sudah lebih dulu menawarkan kelengkapan serupa. Sehingga Brusky 125 bagi saya belum memberikan alasan kuat untuk disebut berbeda.
Begitu pula dengan sektor mesin. Mengandalkan mesin 125 cc SOHC satu silinder berpendingin udara dengan sistem injeksi, Brusky 125 mampu menghasilkan tenaga 7,0 kW atau sekitar 9,3 TK pada 7.500 rpm dan torsi 10 Nm pada 6.000 rpm. Kapasitas tangki 5,1 liter memang menjadi salah satu nilai tambah karena cukup besar untuk kebutuhan harian.
Secara spesifikasi, Brusky 125 memang cukup layak sebagai kendaraan komuter. Namun lagi-lagi persoalannya bukan sekadar soal kemampuan teknis. Di pasar matic yang sudah penuh sesak seperti sekarang ini, fitur lengkap dan mesin irit hanyalah tiket masuk. Yang membuat sebuah motor laku adalah inovasi desain agar karakternya mudah diingat dan melekat.
Namanya juga baru pertama produksi motor matic
Sebelum terlalu jauh menghakimi Kawasaki Brusky 125, ada satu hal yang perlu diingat: produk tersebut adalah langkah awal bagi Kawasaki untuk bermain di pasar motor matic.
Tidak adil juga jika sebuah produk debut langsung dibandingkan dengan pemain yang sudah puluhan tahun membangun pengalaman di segmen ini.
Bagaimanapun, Kawasaki memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Merek yang selama ini identik dengan motor sport akhirnya mencoba membaca perubahan perilaku konsumen yang semakin bergeser ke kendaraan praktis untuk mobilitas harian.
Kawasaki Brusky 125 mungkin memang belum atau bahkan tidak menjadi jawaban sempurna. Yang menjadi catatan, Kawasaki jangan sampai berhenti pada tahap “anuk grubyuk” atau sekedar ikut-ikatan. Kawasaki perlu membawa inovasi terbaru yang membuat garapan motor maticnya punya alasan untuk dipilih konsumen.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
