Ada wilayah yang nasibnya tidak sial, tapi juga tidak beruntung. Tidak miskin cerita, hanya kalah suara. Kapanewon Kretek di Bantul adalah salah satunya. Ia ada, hidup, eksis, dan ramai serta sepi sekaligus. Tapi entah kenapa, namanya sering tak ikut pulang bersama ingatan orang-orang.
Sebagai orang yang tinggal di Bantul, saya sering mendapati satu pola yang sama. Orang datang ke Kretek, tapi pulangnya bilang habis dari Parangtritis. Padahal secara administratif, Parangtritis itu bagian dari Kretek.
Masalahnya, Kretek memang tidak pandai memperkenalkan diri. Ia seperti orang baik yang malas pasang status di WhatsApp, enggan posting foto di Instagram, atau tak mau ribet bikin video untuk diunggah di TikTok.
Berikut beberapa hal yang membuat Kretek Bantul kerap kalah dikenal. Padahal sebenarnya tidak kalah apa-apa.
Kretek Bantul kalah pamor dari Parangtritis, bahkan dari Depok
Parangtritis selalu jadi kata kunci. Namanya ada di brosur wisata, status WhatsApp, vlog para vlogger, sampai skripsi antropologi. Kretek? Paling banter muncul di alamat KTP atau papan petunjuk arah.
Orang datang ke wilayah Kretek Bantul dengan penuh semangat. Tetapi ketika ada pertanyaan mau ke mana, jawabannya tetap “Parangtritis.” Kalau tidak, jawabannya adalah “Depok” makan-makan seafood.
Kretek Bantul seperti tuan rumah yang menyediakan parkiran, kamar mandi, dan jalan masuk, tapi tamunya hanya ingat nama tetangga yang punya kolam renang. Ia ada tapi tak dianggap. Meski begitu, ia tidak sakit sama sekali.
Pantainya terkenal, tapi nama Kretek tak ikut naik
Pantai Parangtritis, Depok, Samas, Parangkusumo, dan beberapa pantai sekitarnya, semuanya berada di Kretek Bantul. Tapi tidak ada yang bilang, “Ayo wisata ke Kretek.” Yang ada malah, “Makan-makan di Pantai Depok yuk,” “Healing di Parangtritis yuk.”
Kretek bekerja di balik layar. Ia sibuk mengurus lalu lintas, sampah, dan pedagang, tapi namanya tak pernah muncul di penutup acara. Mirip seperti panitia konsumsi. Makanan yang mereka sajikan mendapat pujian, tapi nama mereka tak pernah terucap. Seolah bekerja, tapi tak ada yang melihatnya.
Kata “kretek” terkenal, tapi bukan karena wilayahnya
Ironi paling pahit ada di sini. Kata “kretek” sangat terkenal di Indonesia. Semua orang tahu bunyinya, aromanya, dan dampaknya bagi paru-paru. Ya, kretek yang saya maksud adalah rokok kretek tanpa filter. Tapi sedikit yang sadar bahwa Kretek juga nama kapanewon di Bantul.
Nama kretek hidup di bungkus rokok. Para perokok sangat tahu tentang jenis rokok tersebut. Lain halnya dengan nama sebuah kapanewon di Bantul, Kretek sebagai wilayah justru tenggelam. Terkenal, tapi salah konteks. Seperti punya nama besar, tapi yang menikmati popularitasnya orang lain.
Kretek Bantul dilewati terus, tapi jarang dikenal
Jalan utama di Kretek ramai. Jalan Prangtritis sebagai jalan utama di sebelah timur dan Jalan Samas di sebelah barat membelah kapanewon ini. Nama jalan yang dipakai pun nama pantai yang ada di Kretek, bukan nama Kretek itu sendiri. Pantas saja orang-orang tak tahu kalau mereka sedang melintasi wilayah Kretek Bantul.
Padahal kendaraan yang melintas itu banyak, klakson sesekali berbunyi, deru kebisingan terdengar. Tapi kebanyakan hanya lewat. Kretek adalah jalur, bukan tujuan. Orang melintas dengan niat besar, tapi tanpa keinginan berhenti. Kalau berhenti pun hanya singgah di pantainya sebentar lalu pergi.
Apalagi sekarang sudah ada JLS (Jalur Lintas Selatan) di sisi selatan yang menghubungkan wilayah Kretek Bantul dengan lainnya. Ia hanya dilewati, tapi tak dikenal. Menurut saya, Kretek seperti teras rumah yang diinjak berkali-kali, tapi tak pernah disapa. Padahal di sanalah sandal dilepas dan napas pertama diembuskan setelah perjalanan panjang diambil.
Baca juga: Bantul, Daerah yang Penuh dengan Kejadian (dan Orang) Aneh.
Kretek hadir di KTP, tapi absen di ingatan orang
Banyak orang lahir di Kretek, besar di Kretek, bahkan bekerja di Kretek Bantul. Tetapi ketika ada pertanyaan soal asal, jawaban mereka sering bergeser: “dekat Parangtritis.” Seolah menyebut Kretek tanpa embel-embel itu kurang meyakinkan. Kretek lebih sering jadi keterangan tambahan, bukan identitas utama.
Contoh wilayah yang kalah oleh narasi
Bukan karena tidak punya apa-apa, tapi karena jarang diceritakan. Di zaman sekarang, yang bertahan bukan yang paling penting, tapi yang paling sering disebut. Kretek Bantul tidak kekurangan realitas, hanya kekurangan cerita.
Ia tidak viral, tidak kontroversial, dan tidak cukup eksotis untuk diperdebatkan. Padahal justru di sanalah hidup berjalan apa adanya.
Sebagai orang yang tinggal di Bantul, saya meyakini kalau Kretek memang tidak butuh pembelaan berlebihan. Daerah ini tetap hidup meski namanya jarang terucap. Masyarakat di sini tetap bekerja meski tidak mendapat pujian. Kretek tetap jadi tempat pulang meski kalah pamor.
Mungkin, takdir Kretek memang seperti rokok kretek itu sendiri. Tidak selalu dibanggakan, sering diperdebatkan, tapi diam-diam setia menemani banyak orang tanpa perlu minta disebut namanya. Dan barangkali, itu justru bentuk ketenaran yang paling jujur.
Penulis: Supriyadi
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Jembatan Kretek II Memang Cakep, tapi Beda Cerita sama JLS Samas-Poncosari yang Bikin Nangis.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















