Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

KKN di Desa Kayangan: Tidak Ada Angkringan di Sini

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
17 Februari 2020
A A
KKN di Desa Kayangan: Tidak Ada Angkringan di Sini
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika ibadah di angkringan tiba, tidak ada hal yang menarik selain obrolan tentang Mia Khalifa yang akan menikah atau Siska E-nya tiga yang hendak plesiran ke mana. Itu hukumnya wajib, tanpa ditulis di dalam undang-undang atau malah tidak termuat dalam sila-sila sakral Pancasila. Jika bukan tentang wanita, ya pasti obrolan liar itu larinya ke bola.

Namun, terkadang obrolan bergulir bak bola liar yang panas. Misalnya, tentang pencapaian jamaah angkringan dalam setiap sendi kehidupan mereka. KKN salah satunya, terwajib dan seperti sebuah keharusan yakni menjabarkan kejadian unik yang meliputinya.

Ada yang KKN di Kutowinangun. Bercerita dengan bergebu dan memburu. Ia rela pulang pergi Jogja dengan lokasi KKN-nya. Seperti saat ia bercerita salah satunya. Katanya, demi ibadah angkringan. Rela ngelaju karena mau melewatkan ibadah angkringan meskipun yang sunnah seperti mengunyah mendoan panas sekalipun.

Ada pula yang KKN di Raja Ampat. Melalui media sosialnya, ia membuka galeri demi galeri, pulau demi pulau dan keindahan rekan-rekan KKN-nya. Katanya, Raja Ampat adalah potongan surga yang terjatuh. Dan bumi Papua lah tempat yang beruntung mendapatkannya. Ia juga menyandingkan Raja Ampat seperti sepotong senja yang dicuri oleh Sukab-nya Seno Gumira.

Yang KKN di dekat Terminal Giwangan tidak mau kalah. Ia bercerita tentang betapa menyeramkannya makam kuno di dalam terminal tersebut. Katanya, kisah KKN di Desa Penari tidak ada apa-apanya ketimbang legenda di tempat itu. Bedanya, tidak ada adegan “nalar pincang” seperti apa yang dilakukan oleh Bima dan Ayu.

Sedangkan yang KKN di Gunungkidul daerah Bintaos menceritakan betapa serunya mencari tempat laundry yang eksistensinya setara dengan mitos. Ada namun seperti disembunyikan. Harus memecahkan berbagai misteri terlebih dahulu sebelum masuk ke babak bonus. Nah, laundry di Bintaos setara dengan babak bonus tersebut.

Saya, selaku imam besar angkringan, hanya manggut-manggut mendengarkan. Sampai semua mata jamaah angkringan menatap saya yang sedang mengelus jenggot. Mereka menunggu giliran saya bercerita. “KKN saya tidak seseru kalian,” kata saya, mereka malah semakin khusyuk mendengarkan. “Tidak ada angkringan di sana,” wajah mereka begitu terkejut. Ketakutan. Salah satu jamaah angkringan bahkan berlari sembari berteriak dan tak sanggup mendengarkan.

Saya pun mulai berdakwah. Sembari memegang teh anget dengan ritmis. “Di Kayangan, tidak ada yang namanya potongan senja atau celengan rindunya Mas Fiersa Besari. Juga tidak ada yang namanya misteri penuh teka-teki yang membingungkan seperti menjawab chat kekasih yang hanya menjawab terserah!”

Baca Juga:

Seenak-enaknya Es Teh Jumbo Masih Kalah dengan Teh Angkringan

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

“Terserahnya harus pakai tanda seru?” tanya salah satu jemaah angkringan.

“Pakai tanda seru!”

“Biar apa?”

“Biar ramai!” jawab saya dengan gundah. Menyeruput teh yang tidak lagi panas. Saya melanjutkan, “KKN saya prokernya hanya bergaul dengan warga sekitar. Dalam artian, ketika mereka minta ditemani tidur, saya musti hadir. Ketika mereka berkumpul dan berbincang sore hingga malam seperti ini, saya musti hadir. Walau pada dasarnya saya tidak paham apa yang mereka obrolkan. Bukan bermaksud tidak menghargai, tapi menurut saya pribadi dan kapasitas otak saya yang terbatas, Bahasa Sasak itu tidak mudah.”

“Sungguh menyiksa!”

“Tidak. Sama sekali tidak. Saya justru bahagia karena memahami satu hal, bahwa negeri kita ini luas. Mereka yang menyebut bumi seluas daun kelor mungkin belum pernah berjalan dari Kayangan sampai Pansor Daya dengan rute menanjak. Atau belum pernah membelai Rinjani melalui rute pendakian Sembalun. Namun, menjadi dilema ketika mereka meminta ditemani mendengarkan lagu dangdut…”

“Astaga! Musik dangdut itu dosa! Tidak ada musik dangdut dalam perkumpulan kita. Anda ingat?”

“Tentu…tentu saya ingat,” saya kembali menyeruput teh dengan perlahan. Kini teh tersebut menjadi panas seperti semula. Ternyata, yang saya seruput bukan teh milik saya. “Maaf,” kata saya kepada si pemilik teh.

“Suatu berkah teh saya diminum oleh Anda.”

“Hey, musik dangdut itu dosa!” desak yang lainnya. Seakan tak mengizinkan saya untuk meminta maaf.

“Iya, dalam pandangan kita musik itu dosa. Namun, di Kayangan, dangdut adalah andalan. Rhoma Irama dan gitar buntungnya adalah fighter terbaik dalam menemani badai gunung di Rinjani. Didi Kempot sedang masuk perlahan, mencoba menerobos gendang telinga yang biasanya dihujani oleh dendangan maut Tabir Kepalsuan atau Sebujur Bangkai. Kalian tahu, saya malah tidak suka dengan kedua lagu itu.”

“Nah! Itu baru imam besar angkringan kami yang konsisten!”

“Iya. Menurut saya lagu itu sangat kurang. Malah lebih enak Setetes Air Hina karena mengingatkan saya kepada jutaan kasus pelecehan yang belum diselesaikan,” semua mata menatap saya dengan dinginnya. “Ah, lupakanlah. Yang jelas, pola makan selama di sana hancur tidak karuan. Bahkan saya mendapat hadiah berupa penyakit maag. Titik didih saya terjadi ketika tidak bisa membedakan antara perihnya maag atau ingin berak karena keduanya ternyata rasanya sama.”

“Itu penyakit kaum miskin! Anda sudah terjangkit!”

“Iya,” saya menjawab dengan sopan. Tak ingin wibawa ini melayang karena penyakit maag. “Tapi apa bedanya dengan dirimu yang sibuk mencari laundry yang seperti mitos itu?” aku melihat salah satu jamaah angkringan yang tadi bercerita, ia hanya diam. “Ya, penyakit maag saya seperti itu. Kenang-kenangan abadi yang selalu mengingatkan saya ketika telat makan. Bahkan, maag itu lebih indah ketimbang oleh-oleh foto indah yang kalian kirimkan ke media sosial.”

“Hak saya!” teriak jamaah angkringan yang tadi bercerita tentang Raja Ampat.

“KKN Anda saya rasa hanya menambah dosa! Terlebih, tidak ada angkringan!” ujar salah satu di antara mereka.

“Angkringan adalah tempat terindah di bumi. Di mana ceker dan tepung yang bersetubuh secara utuh membentuk gugusan rasa yang tiada tara. Ada pula ibadah sunnah kita, memisahkan seledri dengan bakwan. Bukankah kita benci jika seledri ditumis secara halus?”

“Seledri dosa!”

“Iya,” saya mengambil napas panjang. Menyeruput teh yang dingin dan hambar. Nah, teh ini benar-benar milik saya! “Apa lagi di angkringan terdapat obrolan yang kadang kala menimbulkan gejolak kebatinan yang teramat dalam. Obrolan-obrolan kehidupan; kisah kita mendaki tapak demi tapak pencapaian tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Atau berkeluh kesah tentang satu hal, kemudian kita menjawab; aku juga berkeluh kesah tentang hal itu!”

“Pakai tanda seru lagi?”

“Pakai.”

“Biar apa? Biar ramai?”

“Biar kita paham, terkadang suatu hal yang menimbulkan dosa, terkadang malah memunculkan nilai. Dosa-dosa yang kita pakemkan pribadi. Disahkan secara mandiri. Dengan tanda-tangan kita yang dibubuhi. Hingga akhirnya kita malah panik sendiri. KKN di Kayangan mengingatkan akan satu hal yang selama ini hilang dalam diri saya, selaku imam besar angkringan, yakni yang sangat mendasar; kemanusian.”

BACA JUGA Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan? atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2020 oleh

Tags: angkringanKKN
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Kemampuan Mahasiswa Demak yang KKN di Kaliangkrik Magelang

Kemampuan yang Harus Dimiliki Mahasiswa Asal Demak Saat KKN di Kaliangkrik Magelang

6 Juli 2023
KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

Tolok Ukur Keberhasilan KKN Itu Bukan pada Jumlah Proker yang Berhasil, tapi Mahasiswa dan Desa Bisa Saling Belajar!

31 Maret 2024
4 Dosa Tersembunyi Penjual Angkringan yang Tidak Disadari Pelanggan

4 Dosa Tersembunyi Penjual Angkringan yang Tidak Disadari Pelanggan

26 Februari 2023
Seenak-enaknya Es Teh Jumbo Masih Kalah dengan Teh Angkringan Mojok.co

Seenak-enaknya Es Teh Jumbo Masih Kalah dengan Teh Angkringan

23 Januari 2026
suasana kuliah kerja nyata kkn offline uns 2020 wabah corona mojok.co

Bagaimana KKN Mahasiswa UNS Tetap Offline di Masa Pandemi

8 September 2020
agribisnis menthek kafe tengah sawah KKN wabah corona pemandangan pagi sawah mojok

Tiga Tipe Alternatif KKN UINSA yang Tidak Sebatas Kuliah Kerja Maya

13 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.