Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Tolok Ukur Keberhasilan KKN Itu Bukan pada Jumlah Proker yang Berhasil, tapi Mahasiswa dan Desa Bisa Saling Belajar!

Yoga Aditya L oleh Yoga Aditya L
31 Maret 2024
A A
KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap penulis yang menuliskan tulisan berjudul Balasan terhadap Tulisan Jelek Soal Mahasiswa KKN yang Katanya Berlagak Pahlawan: Mahasiswa KKN Mana yang Menyakitimu, Bung? Saya sudah membaca tulisan itu beserta tulisan yang ditanggapi oleh tulisan kedua. Namun, alih-alih melakukan kritik terhadap tulisan yang pertama, tulisan yang kedua malahan jatuh kepada problem yang sama dibahas oleh penulis pertama yaitu pentingnya komunikasi antara mahasiswa dan warga.

Dan yang kedua, penulis penanggap kedua justru gagal paham membedakan tantangan yang bersifat sistemik dengan tantangan yang bersifat problem kecil di lapangan.

ADVERTISEMENT

Problem KKN kita bukan hanya soal masalah komunikasi antara warga dan mahasiswa. Lebih jauh daripada itu, adalah masalah relevansi zaman terhadap kegiatan KKN dan manfaat KKN itu untuk siapa.

Zaman sudah berubah semenjak era internet masuk ke desa dan membuat luapan informasi semakin menggila setiap hari. Pengetahuan dari kampus yang bersifat ilmiah harus menghadapi dua tantangan sekaligus. Yaitu bagaimana cara membawa informasi secara renyah dan mudah diterima. Serta yang kedua bagaimana informasi yang bersifat ilmiah itu mampu bersaing dengan ratusan ribu informasi lainnya di internet. Belum lagi akses pendidikan dan kesehatan secara nyata sudah masuk ke desa-desa terutama di Jawa dan Sumatera.

Zaman sudah berubah, Bung

Bagi yang pernah menonton film Cintaku di Kampus Biru, pasti tidak akan asing dengan scene ketika mahasiswa melakukan kunjungan ke sebuah daerah di Dieng. Adegan tersebut dengan sangat apik menampilkan kondisi desa yang sangat jauh tertinggal, akses informasi yang minim, serta pengetahuan tentang kesehatan yang sangat terbatas. Begitulah sekiranya gambaran hubungan antara kampus dan masyarakat pada era Orde Baru. Mahasiswa dianggap sebagai agen perubahan yang memang mampu mengubah banyak aspek dalam kehidupan masyarakat.

Kini semua keadaan berubah. Desa-desa sudah diserbu oleh segala macam informasi dan akses yang lebih memadai dibandingkan dulu. Desa sekarang lebih mampu untuk menghasilkan sarjana dan ahli-ahli lainnya. Ketika lulus mereka membangun desa atau merantau ke kota lain sekadar mencari penghidupan serta pengalaman hidup. Zaman sudah berubah bung! Masyarakat desa sudah bukan merupakan masyarakat yang kaget akan teknologi baru ataupun pengetahuan baru karena telah menerima informasi jauh sebelum acara KKN digelar.

Tantangan mahasiswa sekarang bukan hanya soal membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat, melainkan lebih dari itu adalah masalah basis keilmuan. Seorang mahasiswa harus pintar-pintar membungkus informasi ilmiah yang tidak sekadar ilmiah namun juga berguna untuk masyarakat. Belum lagi ketika pengetahuan kampus secara langsung harus berhadapan dengan logika mistika masyarakat atau berita hoax yang ada dalam masyarakat, maka mahasiswa harus pintar dalam melakukan pendekatan tanpa menghasilkan konflik yang berarti.

Kegagalan KKN bukan sepenuhnya salah dari mahasiswa dalam menjalankan komunikasi dengan warganya. Di balik itu semua ada hegemoni pengetahuan dan kelirunya tujuan KKN sejak awal. Sehingga ketika KKN berlangsung bukannya memberikan dampak namun hanya akan terfokus pada selesainya program KKN.

Baca Juga:

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Tentu saya sangat senang dan mendukung apabila ada program yang secara nyata memang berdampak baik secara panjang terhadap masyarakat. Tapi, dengan cara apa kita bisa menghakimi program KKN yang satu berhasil, tapi yang lain gagal?

KKN itu memang untuk mahasiswa

Kalau ada program KKN yang jalan, selamat. Tapi kalau gagal, ya nggak apa-apa. Memang untuk belajar sebagai mahasiswa itu perlu salah dan keliru, dan tidak ada salahnya mengalami hal seperti itu.

Saya jadi teringat dengan sebuah video di YouTube Mojok yang dibawakan secara baik oleh Muhidin M Dahlan ketika menjelaskan mengenai BTI (Barisan Tani Indonesia). Video itu secara jelas membawa semangat kepada segenap kaum intelektual Indonesia untuk tidak menggurui masyarakat maupun secara terang-terangan mencatat di depan rakyat. Malahan sebaliknya seorang intelektual harus belajar dari rakyat, merasakan penderitaan rakyat dan mampu untuk memahami persoalan rakyat.

Ketika seorang mahasiswa sudah sampai pada pemahaman yang baik terhadap problem di masyarakat maka sejatinya dirinya telah melakukan tugas intelektual dengan baik dan adil.

Sebenarnya tidak perlu suatu kegiatan KKN itu masuk ke dalam berita nasional. Cukup melakukan refleksi kritis terhadap problem yang dihadapi oleh rakyat sudah merupakan langkah yang benar untuk belajar dari rakyat. Sejatinya, mahasiswa itu berasal dari rakyat dan pada saatnya nanti akan atau sudah menjadi rakyat dengan sekelumit masalah sosial yang membelitnya. Sehingga program KKN berbasis dampak itu bagus, tapi bukan itu inti dari KKN dijalankan. Sebab, aktor utama dari seluruh kegiatan KKN adalah mahasiswa. Untuk apa suatu program KKN yang bagus ketika KKN namun tidak sedikit pun memunculkan rasa keadilan sosial yang akan melekat pada diri mahasiswa itu seumur hidupnya?

Jadi, itulah yang harusnya diomongkan. Bukan mencari siapa pahlawan, siapa beban. Sebab, kalau begitu terus ya tujuan utamanya nggak tercapai dong. Nggak capek debat terus?

Penulis: Yoga Aditya Leite
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mahasiswa KKN: Berlagak Pahlawan, padahal Cuma Beban. Pahlawan Sebenarnya ya Masyarakat Desa!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2024 oleh

Tags: DesaKKNmahasiswa KKNProker KKNtulisan balasan
Yoga Aditya L

Yoga Aditya L

ArtikelTerkait

KKN Itu Asyik dan Menyenangkan, tapi Tidak untuk Diulang

KKN Itu Asyik dan Menyenangkan, tapi Tidak untuk Diulang

8 Maret 2023
Tak Perlu Berlebihan Romantisisasi KKN, Bukan Ajang Cari Jodoh apalagi Simulasi Rumah Tangga

Tak Perlu Berlebihan Diromantisisasi, KKN Bukan Ajang Cari Jodoh apalagi Simulasi Rumah Tangga

21 Juli 2024
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama

18 Agustus 2025
suasana kuliah kerja nyata kkn offline uns 2020 wabah corona mojok.co

Bagaimana KKN Mahasiswa UNS Tetap Offline di Masa Pandemi

8 September 2020
5 Hal yang Bikin Saya Nggak Betah Tinggal di Desa

Romantisasi Desa Lama-lama Terdengar Begitu Menggelikan

16 April 2023
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa Mojok.co

4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa

26 Agustus 2026
iPhone HP bapak-bapak? Bapak-bapak nggak mampu beli iPhone! (Unsplash)

Kok bisa iPhone disebut hp bapak-bapak? Padahal banyak bapak-bapak yang nggak mampu beli iPhone

21 Agustus 2026
Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya Mojok.co

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya

24 Agustus 2026
Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang Mojok.co

Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang

23 Agustus 2026
Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa Mojok.co

Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa

24 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.