Kitchen Set ala Pinterest bagi Saya seperti Dapur yang Tidak Realistis

ArtikelFeatured

Avatar

Ini adalah cerita perjalanan saya dalam menyadari bahwa kitchen set ala Pinterest sama sekali tidak realistis dan agak sulit untuk diwujudkan.

Saya dan suami membeli rumah di daerah Depok. Selama kami menikah, rumah tersebut kami kontrakkan supaya kami dapat uang tambahan. Bulan Desember nanti, masa kontraknya sudah habis dan kami berencana menempati rumah tersebut.

Rumahnya masih kosong banget, belum ada barang sama sekali. Jadi masih sangat leluasa untuk berkreasi, apalagi saya memang suka desain dan arsitektur.

Salah satu sudut yang paling tak sabar untuk saya dekorasi adalah dapur. Hobi memasak dan makan membuat saya kukuh untuk beli kitchen set ala-ala Pinterest. Pokoknya, saya mau dapur yang modern. Tidak seperti dapur ibu saya di rumah yang digelantungi panci berpantat gosong hingga sampah sisa kulit buah yang kadang kepenuhan.

Namun, semakin banyak referensi gambar desain dapur yang saya lihat, semakin saya merasa ada yang aneh. Dapur modern yang sering kita lihat di Pinterest atau Instagram memang terlihat bersih dan minimalis, tidak seperti dapur ibu saya yang sudah saya jelaskan di atas.

Umumnya, dapur ala-ala Pinterest tidak banyak barang. Mejanya muluuusss dan minim perlengkapan masak. Panci pantat gosongnya tidak ada, sutil kayu tidak ada, sabun cuci piring dari kemasan refill yang sudah hampir habis, juga tidak ada.

Saya jadi merasa, kitchen set ala-ala ini tidak terasa realistis. Coba deh bayangkan, gimana bisa ada dapur yang nggak dilengkapi sabun dan spons pencuci piring? Emangnya orang Indonesia akrab dengan dishwasher machine seperti orang bule? Kayaknya cuma Chef Yuda Bustara deh yang pakai alat itu.

Tidak hanya itu, dapur dan kitchen set kece juga jarang menampilkan manajemen sampah dapur yang baik. Tidak ada bak sampah apalagi pemisahan sampah organik dan anorganik. Padahal yang namanya dapur pastilah menghasilkan sampah. Masakan sesederhana mi instan pun, pasti menghasilkan sampah plastik yang harus dibuang. Masak iya plastiknya ikut dimakan?

Kitchen set ala-ala Pinterest semakin tidak realistis ketika kamu melihat bahwa dapurnya tidak dilengkapi dengan colokan listrik. Dindingnya terlihat rapiii sekali tanpa lubang untuk mencolok aneka perlengkapan memasak seperti blender, rice cooker, mixer, dispenser, dan lain-lain. Lha terus, kalau mau bikin jus, kabel blendernya dicolok ke mana? Masa iya di lubang hidung?

Setelah meneliti gambar-gambar dapur itu, saya jadi merasa dapur ibu sayalah yang paling realistis. Dapur-dapur ala orang zaman dulu justru lebih hidup ketimbang dapur kece modern di Pinterest. Pantat kuali yang menghitam justru menandakan kemakmuran dari sebuah keluarga karena berarti kualinya sering dipakai untuk memasak makanan.

Tong sampah yang agak penuh di sudut dapur juga penanda bahwa keluarga ini masih sanggup beli makanan. Ada sampah kulit buah, sampah tulang ikan, sampah cangkang telur, semuanya jadi penanda bahwa Tuhan telah memberikan berkah makanan untuk keluarga tersebut.

Inilah dapur yang sesungguhnya. Yang menyimpan sumber kehidupan. Lap kanebo yang menggantung, sabun cuci piring yang berlepotan di kemasannya, tabung gas yang berkarat, adalah bukti bahwa dapur ini benar-benar digunakan oleh manusia. Bukan berarti, dapur realistis identik dengan dapur kotor yang berantakan. Nyatanya, banyak sekali dapur biasa yang bisa tetap rapi dan bersih meskipun tidak didesain oleh seorang desainer interior.

Jadi, buat kamu yang berkecil hati karena uangmu tidak cukup untuk membeli kitchen set impian, jangan khawatir. Dapur sederhana bukan berarti makanannya jadi tidak enak. Meskipun sederhana, setiap makanan yang dihasilkan oleh dapurmu adalah bukti kasih sayang Tuhan untuk keluargamu.

Photo by Dmitry Zvolskiy via Pexels.com

BACA JUGA Betapa Sulitnya Mengajarkan Konsep Keberadaan Allah ke Balita Usia Dua Tahun atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Baca Juga:  Menjadi Mertua dan Menantu Idaman Tidak Semudah Tips Suksesnya, Sist

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.