Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Masa Lalu Luna Maya Saja Dimaafkan, Masa Lulusan SMA Nggak Dapat Kesempatan Menikah?

Yakub Mianto Kau oleh Yakub Mianto Kau
10 Mei 2025
A A
Kita yang Tidak Sempurna Berhak Bahagia seperti Luna Maya (Unsplash)

Kita yang Tidak Sempurna Berhak Bahagia seperti Luna Maya (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier beberapa hari lalu bikin heboh. Bukan karena mereka selebriti, tapi karena 2 hal, yaitu masa lalu Luna Maya yang penuh kontroversi dan perbedaan usia yang cukup mencolok. 

Banyak orang jadi berspekulasi. Kok bisa? Kok mau? Padahal yang terjadi bukan “kok bisa”, tapi memang “Ya, bisa.”

Bertahun-tahun sebelumnya, Luna Maya lekat dengan “citra pelik” akibat skandal video syur yang bocor ke publik. Citra pelik ini menempel terus dalam relasi-relasi asmaranya. 

Namun, ketika Luna Maya akhirnya menikah, saya justru belajar sesuatu yang lain. Bukan tentang “jodoh nggak akan ke mana meski butuh waktu lama”, tapi keberanian menabrak ekspektasi sosial yang menuntut “kesempurnaan”.

Kalau Luna Maya, yang masa lalunya lekat dengan kontroversi bisa menikah, masa lulusan SMA harus nunggu sarjana dulu biar bisa ke pelaminan?

Patah hati 7 tahun lalu

Tujuh tahun lalu, mantan pacar saya bilang begini. “Kalau mau nikah sama saya harus sarjana. Soalnya, sarjana itu nyambung diajak ngobrol.” 

Saya, yang waktu itu cuma mentok di calon sarjana langsung sadar diri. Tanpa banyak alasan, wajib bagi saya mundur.

Yang paling sakit itu ketika dia mematok mahar tinggi. Alasannya macam-macam: terinspirasi pesta orang, punya teman-teman kantoran, keluarganya birokrat, dan latar belakang pendidikannya tinggi.

Baca Juga:

3 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Luna Maya Beneran Jadi Ketua RT

Buat Deddy Corbuzier, Luna Maya, dan Siapa pun yang Masih Anggap Remeh Kesehatan Mental

Untung beberapa tahun setelahnya, saya ketemu perempuan yang memiliki cara pandang berbeda. Perempuan ini enggak pakai embel-embel gelar. Waktu datang melamar, saya terang-terangan bilang ke sesepuh keluarganya tidak punya ijazah sarjana, tidak bisa memberi mahar mewah, dan saya minta prosesi adat ditiadakan.

Tidak sempurna seperti Luna Maya tetap boleh bahagia

Khawatir ditolak jelas ada. Beruntung, sesepuh itu malah tersenyum dan bilang, “Pernikahan itu ada tiga hukum: agama, negara, dan adat. Kalian cuma mengeluarkan hukum adat. Yang dua lagi masih sah. Jadi, bismillah.”

Pada musyawarah selanjutnya, ada sesepuh lain yang ngotot prosesi adat harus ada. Alasannya karena perempuan yang ingin saya nikahi bergaris keturunan biru dan seorang sarjana.

Namun, calon istri saya waktu itu ngotot juga. Laki-laki lulusan SMA bukan berarti tidak bisa mengajak hidup bahagia. Bagi dia, latar belakang pendidikan tidak bisa membatasi hak laki-laki dan perempuan untuk setara dalam rasa, seimbang dalam cinta, dan selaras dalam komitmen.

Luna Maya tidak sempurna karena masa lalunya. Namun, dia berhak bahagia. Sama seperti kita semua yang sama-sama tidak sempurna. Bukankah begitu gambaran manusia?

Latar belakang pendidikan tak menjamin komitmen, betul?

Di era sekarang, sudah bukan rahasia lagi jika latar belakang pendidikan menentukan besaran mahar. Semakin tinggi mahar, semakin tinggi pula ekspektasi. 

Minta pasangan selevel, minimal satu strata. Akhirnya, bukan cinta yang dicari, tapi CV. Pernikahan jadi proyek branding keluarga. Hal ini yang juga menjadi gonjang-ganjing terkait Luna Maya. Padahal dia menikah karena memang cinta. Bukan karena sebatas memaafkan latar belakang atau perbedaan usia.

Curhat ibu teman saya bisa jadi contoh tentang ini. Dia menyesal menggelar pesta pernikahan anaknya dengan biaya besar. Dia memakai konsep mewah, lengkap dengan prosesi adat, plus tamu undangan orang-orang “besar”. 

Ujung-ujungnya, pernikahan anaknya gagal di usia singkat. Gagal. Singkat. Mewah tapi rapuh.

Kasus ini sejalan dengan riset dari Andrew Francis-Tan dan Hugo M. Mialon (2023). Dia bilang semakin mahal biaya nikah, semakin besar kemungkinan cerai. Sebaliknya, yang nikah sederhana, hasilnya lebih langgeng. Kadang, yang murah memang lebih awet. Harga gaun bisa dipotong. Harga ego? Sulit.

Pernikahan itu komitmen, bukan CV atau gelar

Orang kadang lupa, bahwa yang lebih penting dari latar belakang pendidikan adalah pendidikan itu sendiri. Latar belakang pendidikan cuma bukti pernah sekolah. Pendidikan itu soal cara berpikir, cara memandang, dan cara memperlakukan orang lain seperti Luna Maya dan Maxime Bouttier.

Di Gorontalo, ada sindiran buat orang yang sekolah, tapi tidak tahu soal adab dan akhlak. Contoh: “O sikola, bo diya o manyanyi.” Artinya: “Sekolah, tapi tak tahu malu.”

Ini kenapa seorang lulusan S3 pun bisa dibilang “tidak berpendidikan” kalau sudah melewati batas adab dan akhlak. Sementara banyak juga lulusan SMA atau bahkan tak tamat sekolah yang lebih sopan dan tahu batas. Seperti Luna Maya, masa lalu tidak menentukan kualitas diri dan hak mendapatkan kebahagiaan.

Sindiran ini juga berlaku dalam rumah tangga. Makanya, pemerintah mewajibkan semua calon pengantin ikut pendidikan pranikah. Itu artinya, setebal apapun ijazahmu belum tentu kamu paham bagaimana cara berkomitmen.

Siap jalan bareng lebih penting dari latar belakang dan masa lalu seperti kisah cinta Luna Maya

Sebagai laki-laki yang pernah ditolak karena berstatus non-sarjana, saya pernah beranggapan kalau dunia pernikahan itu terlalu jahat. Masa untuk menjadi seorang suami wajib bergelar sarjana, tapi untuk menjadi seorang sarjana tidak perlu bergelar suami? Kan, esensi ibadah terpanjang dalam hidup ini tidak melulu soal gelar, tidak sekadar ikatan fisik atau legal, isinya tidak hanya kewajiban menafkahi saja.

Dalam Islam, idealnya sebuah pernikahan dibangun dengan konsep ketenangan hati (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan mengasihi (warahmah). Pondasinya ma’ruf. Konsep ma’ruf dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat ke-19: “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”

Mengutip NU Online, Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya Al Khawatir menjelaskan konsep ma’ruf mencakup tindakan baik dan sesuai norma terhadap pasangan, meski rasa cinta tak seperti pada awal pernikahan. Inilah yang disebut komitmen hidup bersama.

Jauh sebelum Asy-Sya’rawi menafsirkan kata ma’ruf sebagai komitmen, Ki Hajar Dewantara sudah lebih dulu mengajari kita soal komitmen pernikahan lewat konsep pendidikan yang progresif dan humanis.

Lewat semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”, Ki Hajar Dewantara ngasih tahu bahwa hubungan manusia, termasuk pernikahan, harus dibangun di atas contoh, dorongan, dan dukungan. 

Tidak harus sama-sama sarjana, yang penting sama-sama belajar. Karena yang penting bukan siapa paling pintar, tapi siapa paling sabar saat cucian menumpuk. Luna Maya dan suaminya adalah wujud dari cita-cita ini.

Saya patut bersyukur bisa melewati pasang surut pernikahan bersama istri meski latar belakang pendidikan kami berbeda. Makanya, sampai sekarang kami berupaya mengejawantahkan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ke dalam kehidupan sehari-hari.

Memaafkan masa lalu seperti Luna Maya

Sejak awal kami sepakat bahwa ujian pernikahan itu dimulai bukan saat saya bilang “sah”, tapi justru setelah malam pertama, ketika dia bilang “ah sayang” tagihan datang.

Dari kisah ini dan cerita masa lalu Luna Maya, mungkin sudah waktunya kita berhenti menunggu “kesempurnaan” yang tidak ada habisnya itu. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling tinggi gelarnya, paling mahal maharnya, atau paling mulus masa lalunya. Namun, siapa yang paling siap berjalan bersama, apa pun latar belakangnya.

Jadi, kalau masa lalu Luna Maya saja bisa dimaafkan, masa lulusan SMA nggak boleh dikasih kesempatan menikah? Atau jangan-jangan, kitanya saja yang belum bisa berkomitmen, tapi sibuk pasang standar?

Penulis: Yakub Mianto Kau

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dari Luna Maya Saya Belajar, Kalau Jodoh Nggak Bakal Kemana meski Butuh Waktu yang Nggak Sebentar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2025 oleh

Tags: Luna Mayamasa lalu luna mayaMaxime Bouttierpernikahan luna mayavideo syur luna maya
Yakub Mianto Kau

Yakub Mianto Kau

Pura-pura jadi penulis sejak 2017.

ArtikelTerkait

3 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Luna Maya Beneran Jadi Ketua RT terminal mojok

3 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Luna Maya Beneran Jadi Ketua RT

20 November 2021
Buat Deddy Corbuzier, Luna Maya, dan Siapa pun yang Masih Anggap Remeh Kesehatan Mental terminal mojok.co

Buat Deddy Corbuzier, Luna Maya, dan Siapa pun yang Masih Anggap Remeh Kesehatan Mental

1 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.