Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kisi-Kisi Ujian Sekolah Itu Menyesatkan, Membuat Siswa Pikir Hidup Selalu Ada Bocorannya

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
24 November 2025
A A
Kisi-Kisi Ujian Sekolah Itu Menyesatkan, Membuat Siswa Pikir Hidup Selalu Ada Bocorannya

Kisi-Kisi Ujian Sekolah Itu Menyesatkan, Membuat Siswa Pikir Hidup Selalu Ada Bocorannya

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai seorang guru, kisi-kisi ujian sekolah itu nggak pernah masuk akal bagi saya. Iya, setiap kali musim ujian semester (atau istilah barunya, sumatif semester) datang, pasti ada satu tradisi yang entah kenapa selalu saja ada, yakni murid-murid yang dengan percaya dirinya mengajukan pertanyaan, “Pak, ada kisi-kisinya nggak?”

Pertanyaan itu selalu membuat saya tersenyum simpul, sambil menahan diri untuk tidak menjawab dengan nada sarkas. Sebab, bagi saya, kisi-kisi ujian sekolah itu adalah hal yang aneh dan menyalahi kodrat tentang ujian itu sendiri.

Buat yang tidak menemukan letak keanehannya, begini saya jelaskan. Ujian itu dibuat untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi, bukan sebagai ajang tebak-tebakan berdasarkan bocoran legal. Kalau dari awal sudah diberi kisi-kisi, terus buat apa ada ujian? Mereka jadi tahu mana saja soal yang keluar. Padahal seharusnya mereka coba menelaah lagi apa saja yang sudah diajarkan.

Saya bahkan merasa kalau tradisi memberikan kisi-kisi ini dilanjutkan, ya hancur lebur cara berpikirnya. Sekalian saja kasih jawabannya, biar semuanya dapat nilai 100 dan saya bisa pura-pura bangga sebagai guru yang seolah-olah berhasil.

Oiya, saya tidak anti kisi-kisi. Hanya saja tergantung konteks. Kalau kisi-kisi dalam konteks olimpiade saya masih bisa terima, karena memang butuh bagian mana yang dipelajari untuk dilombakan.

Tapi untuk ujian sekolah, ini beda lagi. Materinya sudah diajarkan kok, jadi rasanya berlebihan kalau masih harus dikasih kisi-kisi ujian. Lucunya, permintaan ini datang bukan hanya dari siswa teladan, tapi juga mereka yang selama ini tak pernah mencatat pelajaran.

Kisi-kisi ujian: antara tuntutan guru dan tradisi sekolah

Saya sadar, saya bukan satu-satunya guru yang punya pandangan seperti ini. Tapi saya juga tahu, ada banyak guru lain yang tetap memberi kisi-kisi karena, ya, itu adalah tradisi. Katanya, kalau nggak diberikan kisi-kisi nanti orang tua protes, siswa kebingungan belajar, bahkan bisa dibilang guru “tidak membantu anak belajar.”

Padahal, justru sebaliknya. Dengan memberi kisi-kisi, guru secara tidak langsung menanamkan pola pikir instan: bahwa belajar itu hanya perlu ketika ujian, bukan proses terus-menerus. Bahwa pengetahuan itu bisa dipotong-potong jadi poin-poin praktis, bukan dipahami secara utuh.

Baca Juga:

5 Nasihat Klasik Orang Tua ketika Anaknya Ujian Sekolah

Saya kadang berpikir, mungkin sistem pendidikan kita memang suka yang instan begitu. Siswa mau yang cepat, guru mau yang praktis, sekolah mau yang tenang, dan semuanya sepakat menyingkirkan esensi belajar yang sebenarnya, yakni proses dan konsistensi.

Sudah saatnya guru dan siswa sama-sama naik level

Saya ingat ketika tidak memberikan kisi-kisi ujian sama sekali. Reaksi murid pun lucu-lucu. Kebanyakan malah bertanya, “Pak, kalau nggak dikasih kisi-kisi, gimana mau belajar?” Saya jawab santai, “Ya belajar saja semuanya, kan itu fungsi belajar.” Ada yang mengernyit, ada yang panik, ada juga yang mengira saya sedang bercanda. Padahal saya serius.

Mungkin sudah saatnya kita—guru, siswa, bahkan sekolah—berdamai dengan kenyataan bahwa belajar itu memang tidak instan. Bahwa ujian bukan sekadar formalitas untuk mengisi angka di rapor. Dan bahwa kalau mendapat nilai di bawah standar itu tidak masalah, namanya juga belajar bukan?

Karena itu, biarkan saja mereka belajar, gagal menjawab, bahkan kebingungan. Saya kira dalam jangka panjang, itu akan lebih bermanfaat ketimbang menghafal poin-poin kisi-kisi yang disusun beberapa hari sebelum ujian.

Saya tahu pandangan ini mungkin dianggap terlalu idealis, bahkan nyeleneh. Tapi kalau tradisi kisi-kisi ujian terus dipelihara, jangan heran kalau nanti siswa terbiasa menunggu petunjuk jawaban dalam hidup. Padahal dunia nyata tidak menyediakan kisi-kisi. Kehidupan tidak memberi tahu apa yang harus dilakukan besok.

Dan nilai sesungguhnya bukan di kertas ujian, tapi di bagaimana mereka mau berusaha dan konsisten untuk menemukan “jawaban”. Jika itu dilakukan, akan tercapai tujuan dari belajar sesungguhnya. Sebab, bukankah sekolah adalah latihan sebelum menghadapi hidup yang sebenarnya?

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Memangnya kalau Ujian Nasional Dikembalikan, Kualitas Pendidikan Bakal Meningkat Secara Ajaib? Saya sih Nggak Yakin

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2025 oleh

Tags: bocoran soal ujiankisi-kisi soal ujian kelas 12kisi-kisi ujianujian sekolah
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

5 Nasihat Klasik Orang Tua ketika Anaknya Ujian Sekolah terminal mojok

5 Nasihat Klasik Orang Tua ketika Anaknya Ujian Sekolah

6 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

10 Maret 2026
Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

6 Maret 2026
Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

9 Maret 2026
Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

9 Maret 2026
Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

10 Maret 2026
4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut Terminal

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

10 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita
  • Honda Brio Mobil Aneh, tapi Memberi Kebanggan ketika Menjadi Mobil Pertama bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan
  • Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang
  • Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga
  • Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan
  • Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.