5 Keutamaan Menjadi Pembaca Mojok yang Tak Bakal Anda Temukan di Kitab Fadhail A’mal

Pembaca Mojok bukan status sepele. Itu sebutan yang mulia nan luhur. Makanya ada 5 keutamaan yang bisa kamu dapatkan yang memang tidak ada di kitab Fadhail A’mal.

Featured

Erwin Setia

Kalau Anda pengamat sejarah atau minimal pernah curi-curi dengar soal peradaban masa lalu, Anda pasti tahu bahwa kejayaan dan keruntuhan adalah hal lumrah. Romawi dan Persia pernah jaya dan jatuh. Nottingham Forest dan Manchester United pernah tegak dan ambruk. Demikian pula Mojok—situs hiburan yang lahir pada 28 Agustus 2014—pernah jaya, runtuh, lalu bangkit kembali.

Tiga tahun lalu, sebelum Mojok kukut Puthut EA dan Agus Mulyadi menulis salam perpisahan mengenai pamitnya Mojok. Kepala Suku menulis cerita fiktif yang alangkah menyebalkan, sedangkan Gus Mul membikin catatan perpisahan yang mengharukan tanpa kehilangan daya humor. Untunglah, dan sudah seharusnya demikian, beberapa minggu berselang Mojok bangkit dan hidup kembali. Mojok masih bertahan sampai sekarang, dengan pengagum sekaligus pengutuk yang kerap adu hantam secara online di kolom komentar.

Saya berada dalam golongan pengagum Mojok, walau kadang jengkel dengan tulisan-tulisan di Mojok yang seperti tak tersentuh tangan editor. Tapi secara umum, seperti seorang kekasih yang tak sempurna, Mojok jelas lebih banyak sisi positifnya dan menjadi satu di antara beberapa situs yang selalu saya buka setiap hari. Saya membaca Mojok sejak Arman Dhani sering dikafir-kafirkan sampai Agus Mulyadi sudah menikah dengan Kalis Mardiasih; sejak Gus Mul baru rilis buku Jomblo tapi Hafal Pancasila sampai Kalista Iskandar kesandung kasus keliru nyebut Pancasila.

Dengan demikian, rasanya sah kalau saya mendaku diri sebagai pembaca setia Mojok, meski saya tahu pendakuan semacam itu tidak akan membuat honor tulisan ini jadi naik lima kali lipat; juga tidak akan mengubah takdir kegagalan saya menjadi Redaktur Mojok. Lagi pula keduanya tak penting benar. Honor adalah urusan kesekian dan kegagalan menjadi redaktur membuat (((jiwa kritis))) saya terhadap Mojok tetap terjaga.

Yang perlu Anda tahu, menjadi pembaca Mojok bukanlah status sepele. Itu adalah sebutan yang amat mulia nan luhur. Saya akan memberitahukan kepada Anda, baik pembaca setia Mojok atau pembaca acak yang nyasar di Mojok, sejumlah keutamaan menjadi pembaca Mojok.

Baca Juga:  Menjadi Music Snob Itu Nggak Ada Keren-kerennya!

Jika Anda pernah secara tak sengaja icip-icip rasanya jadi Jamaah Tabligh seperti Yuki Mantan Vokalis Pas Band, atau Anda doyan membaca hal-hal mengenai keislaman, Anda semestinya akrab dengan sebuah kitab berjudul Fadhail A’mal karya Syaikh Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, salah satu tokoh besar Jamaah Tabligh. Dalam kitab itu disebutkan berbagai keutamaan amalan-amalan tertentu. Namun, sependek yang saya tahu, tidak ada poin “keutamaan dan kemuliaan membaca Mojok” di buku itu. Wajar belaka, buku itu berisi himpunan hadis dan semua hadis muncul 15 abad yang lalu, ketika kita bahkan tidak tahu bagaimana wujud Dony Iswara atau ada di mana beliau saat itu.

Di sinilah saya bakal menyebutkan keutamaan-keutamaan menjadi pembaca Mojok.

Menjadi Tahu Apa Itu Arti Sarkas dan Satire

Kalau Anda mengikuti Mojok sejak lama, Anda pasti akan tahu apa salah satu kekhasan Mojok. Ya, tepat sekali, konten tulisannya yang kerap beraroma sindiran nan nyelekit. Banyak orang menyebutnya sarkas dan satire. Meskipun belakangan, sebagian orang mengobral dua kata itu tanpa bisa membedakannya. Dulu Arman Dhani adalah penulis Mojok yang terkenal dengan tulisannya yang penuh oksimoron, dan tentu saja bergaya satire. Kini ada Ahmad Khadafi yang masih aktif memproduksi tulisan-tulisan olok-olok yang dahsyat.

Mendapatkan Tulisan Bagus yang Bisa Dibaca Tanpa Harus Mengernyitkan Dahi

Tak banyak penulis yang bisa mengangkat topik-topik serius dengan gaya jenaka. Dan Mojok adalah produsen utama penulis-penulis jenaka yang sanggup menghasilkan tulisan penting dengan gaya tulisan yang bisa dibaca semua golongan. Tidak peduli apa ras, agama, suku, dan kelasmu; tulisan-tulisan di Mojok bisa Anda lahap. Tentu ini sangat berbeda dengan esai-esai Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir atau tulisan-tulisan di The Conversation yang untuk dapat memahaminya paling tidak Anda mesti baca buku satu rak atau kuliah 20 SKS.

Memiliki Perbendaharaan Kata Umpatan yang Sangat Melimpah

Yang lucu dan menarik dari Mojok bukan hanya konten tulisannya, tapi juga komentar-komentar para pembaca (ataupun yang tidak membaca, tapi langsung komentar) di kolom komentar tulisan. Cobalah Anda amati tulisan-tulisan Mojok yang ramai dan mengangkat isu sensitif, semisal soal agama atau politik. Anda bakal menemukan para komentator yang melontarkan makian-makian yang amat variatif dan kreatif semudah menemukan semut di bongkahan permen yang ditinggal lima menit. Anda akan akrab dengan kata-kata kafir, laknat, murtad, bangsat, tolol, anjing, jancuk, biadab, hingga sederet kata yang sudah jadi klasik: Penulisnya Muslim bukan sih?

Menjadi Pribadi yang Selalu Up To Date

Untuk mendapat info-info terbaru yang sedang hits, Anda tak perlu merambah situs-situs berita mainstream yang tak jarang menyebar hoaks. Anda hanya perlu mengunjungi Mojok.co dan segeralah Anda menjumpai kabar-kabar terhangat. Dari mulai kabar ditangguhkannya akun Siskaeee E-nya Tiga hingga video Menkes Terawan mundur, Anda bisa temukan di Mojok. Dengan kegercepan menampilkan tulisan-tulisan yang sedang hot dan dibicarakan banyak orang, tentu tak heran kalau Mojok sempat merangsek ke peringkat 100 besar Alexa regional Indonesia.

Baca Juga:  Cieee yang Pengin Buka Sawah Padahal Dulu Sukanya Gusur Sawah

Membuat Anda Menjadi Orang yang Rendah Hati dan Tak Merasa Paling Suci

Kalau Anda pernah membagikan tulisan Mojok yang kontroversial atau pernah menulis di Mojok dengan topik yang sensitif, barangkali Anda pernah dimaki-maki, dianggap liberal, atau bahkan dikafirkan. Label-label buruk semacam itu jelas tak enak di hati, tapi percayalah bahwa segalanya punya hikmah. Dengan terbiasanya Anda menerima sebutan-sebutan itu, Anda akan terbiasa untuk tak selalu menganggap diri benar dan paling beriman. Anda akan menjadi pribadi yang rendah hati dan tak merasa paling suci.

BACA JUGA Gara-Gara Menulis di Terminal Mojok Saya Dikira Wibu Gila yang Kaya atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

---
22


Komentar

Comments are closed.