Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ketika Retorika Politikus Indonesia Memprediksi Juara Euro 2020

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
21 Juni 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Politikus Indonesia ini kadang bikin eneg, kadang bikin kemekelen. Apalagi perihal suka sama sepak bola. Mereka ini kadang jadi inang, kadang jadi parasit. Lha gimana, mereka berubah menjadi orang yang paling sok ngerti sepak bola ketika mau jadi nomor satu di daerah tertentu yang animo pecinta bolanya mobat-mabit selalu on fire.

Ya nggak usah disebut lah, nanti marah. Tapi ya siapa lagi kalau bukan Edy Rahmayadi yang terhormat. Dengan cara jadi ketua PSSI, mengakuisisi PSMS Medan, blio jadi nomor satu di Sumatera Utara. Keren, kan?

Ini namanya gimmick politik sub-genre thok-thok men suka sepak bola. Lihat saja beberapa video Edy yang belaga menjelaskan perihal sepak bola. Salah satunya ketika menjelaskan kelanjutan nasib Luis Milla. Katanya, “Luis Milla sedang melakukan itu pendalaman ilmu, sebagai kewajiban seorang coach. Coach itu pelatih.”

Haaa anak SD yang baru jajan telur gulung juga tahu, Bapak. Bahwa coach itu artinya pelatih. Barangkali, jika Edy disandingkan dengan Coach Justin, gayeng kali, ya? Bakal jadi sebuah obrolan perihal sepak bola yang mumpuni.

Politikus Indonesia yang terang-terangan suka sepak bola itu sebenarnya nggak banyak. Sebut saja Kang Emil yang menggemari Liverpool. Ia suka sejak kecil, nggak mungkin kan Kang Emil mengincar posisi Walikota Merseyside atau jadi Gubernur North-West. Kemudian Gibran Rakabuming yang—mau nggak mau—suka sama Persis Solo.

Euro 2020 di depan mata, saya bisa memprediksi politikus-politikus Indonesia ini bakalan mendukung siapa melalui terawangan saya via retorika politiknya. Mulai dari Bapak Joko Widodo sampai Lord Rangga Sunda Empire, ini jawabannya.

#1 Joko Widodo

Kerakyatan, nggak banyak polah, bersahaja, dekat dengan rakyat, ya, bisa dibilang Jokowi ini seorang resi yang diberi tugas mengawal sebuah negara. Ehm, komisaris Pertamina bisa lah, ya, Pak? Eh, tapi ini betulan, jika Jokowi mentengin Euro 2020, blio sudah pasti mendukung Makedonia Utara.

MU versi negara ini sudah pasti didukung sama Jokowi lantaran seperti retorika politiknya, mendukung wong cilik. Ketika pagelaran Euro 2020, retorikanya berubah jadi mendukung klub cilik.

Baca Juga:

3 Hal yang Bisa Ditangisi Bu Mega selain Badan Kurus Presiden Jokowi

Review Mars Partai Politik dari Orang yang Kurang Percaya Partai

#2 Ma’ruf Amin

Katanya, blio dulu dukung Manchester United, sekarang jadi dukung Liverpool. Nah, bisa jadi kiai Ma’ruf ini dulu dukung Spanyol, sekarang dukung Prancis. Namun, kalau boleh jujur, kali ini kayaknya kiai Ma’ruf nggak dukung siapa-siapa, deh.

Bukannya udah nggak suka bola, tapi jadwal Euro 2020 terlalu malam dan sudah masuk waktu bobok kiai Ma’ruf. Lha gimana ya, ngurus negara itu butuh tenaga ekstra jhe. Bukan begitu, Kiai?

#3 Prabowo Subianto

Kalau Prabowo mendukung sebuah tim, barang tentu blio dukung Man. City atau Madrid. Haaaa wong 1,7 kuadtriliun untuk membeli alutsista saja nyah-nyoh, apalagi buat dukung tim, pasti Prabowo suka yang jor-joran macam Real Madrid atau Manchester City. Nah, kalau negara, blio dukung mana, nih?

Jawabannya hanya satu, tanpa perlu diragukan: Belanda! Prabowo tampaknya bodo amat bahwa van Dijk nggak ikut Euro 2020 karena Kapten Timnas Belanda ini cidera. Namun, seperti retorika politik ala Prabowo, Belanda adalah pilihannya. Seperti julukan Belanda, juara tanpa mahkota alias spesialis juara dua.

#4 Megawati Sukarnoputri

Sebenarnya, ngeri juga memprediksi politikus senior ini mendukung siapa dalam ajang pagelaran Euro 2020. Namun, dari retorika dan gaya berpolitik yang ciamik, sudah tentu Megawati mendukung Portugal. Indikasinya apa? Pasalnya, Portugal masih punya Ronaldo. Lho, apa hubungannya? Begini.

Bu Mega bukan presiden, tapi petuahnya sering didengar oleh presiden. Bukan masalah tho lha wong nasehat ibu, tentu berkah buat anak. Sedang pada gelaran Euro 2016, Ronaldo cidera, diganti Ricardo Quaresma, padahal lawannya Prancis. Ronaldo sudah usai? Nggak, ia belagak menjadi pelatih di pinggir lapangan, tudang-tuding seperti sang pelatih Portugal yang asli, Fernando Santos.

Hubungan antara Megawati, Seleccao, dan Ronaldo apa? Ronaldo bukan pelatih, tapi pura-pura jadi pelatih. Bu Mega bukan presiden, tapi pura-pura, eh, maksud saya, memberi nasehat kepada presiden. Serupa tapi serupa, eh, serupa tapi nggak sama.

#5 Susilo Bambang Yudhoyono

Naik kontestasi pada 2004 silam lantaran drama kesedihan dianak tirikan dalam kabinet Megawati, doyan bikin lagu sedih, puisi-puisi melankolis, jyaaan tenan SBY ini presiden indie. Pun dengan pemilihan tim yang juga nggak kalah indie sesuai retorika sad-politic ala blio. Tim apa dong? Inggris!

Berkali-kali ajang kompetisi empat tahunan entah itu Eropa atau dunia, Inggris selalu menjual kesedihan. Mulai dari gol Frank Lampard yang dianulir pada babak enam belas besar Piala Dunia 2010 melawan Jerman, hingga yang terbaru adalah jargon It’s coming home yang jumawa bahwa sepak bola akan kembali ke “rumahnya”. Mbelll.

SBY dan Three Lions sama-sama menggunakan kesedihan sebagai basis pergerakan. Apakah hal ini salah? Ya nggak, juara empat Piala Dunia 2018 dan jadi presiden dua periode tampaknya jadi bukti bahwa mereka terikat satu sama lain.

#6 Puan Maharani

Nggak ada negara yang mematikan mikrofon rekan rapatnya, sih, tapi semisal Mbak Puan suka Euro 2020, sudah tentu blio mendukung Hungaria. Tim ini pernah mengalami masa kejayaan pada periode 1950-1956. Dilatih oleh Gustav Sebes yang—katanya—menampilkan yang namanya socialist football, prototipe awal total football. Dan kini, Hungaria bangkit kembali.

Apa persamaan Mbak Puan dan Hungaria? Heh, ngawur, maksud saya bukan karena Hungaria itu terkenal karena masa lalunya, bukan berarti Mbak Puan moncer di politik karena nama besar ibu dan kakeknya. Namun, persamaan antara retorika politik Mbak Puan dan Hungaria itu karena… hmmm, karena apa, ya?

#7 Ganjar Pranowo

Sama seperti Jokowi, memihak wong cilik, pun sama seperti SBY yang disisihkan Megawati—namun kali ini Ganjar ‘disisihkan’ anaknya Megawati, yakni Puan Maharani. Bedanya dengan SBY, Ganjar nggak secengeng blio dan juga nggak sepuitis blio. Tim apa yang cocok dengan retorika politiknya? Itali.

Menang kalah, bodo amat. Yang penting elektabilitas. Itali nggak diunggulkan para pundit, tapi bursa taruhan tetap riuh sesak mendukung Gli Azzurri. Sama seperti Ganjar, nggak direstui Puan dan PDI, tapi Charta Politika berkata sebaliknya. Cen uangeeeel.

#8 Lord Rangga Sunda Empire

Sebagai pemain baru politik Indonesia, bisa jadi Lord Rangga punya perhitungan tersendiri pada Euro 2020. Ia akan memperhitungkan melalui dialektika-sejarah, hermeneutika, estetika, etika, bahkan sampai kritik akal budi. Siapa yang didukung Lord Rangga Sunda Empire? Begini analisis saya.

Sejarah Gunungkidul, ternyata bermuara dari Eropa. Atas campur tangan Klan Senju dan Uzumaki, maka warga Gunungkidul ini mempunyai quirk guna mencapai Eropa dengan menggunakan teleportasi. Jebul, di Eropa, analisis Lord Rangga dikutip dari Harian TheHerenSepentin.Co, keturunan Gunungkidul di Eropa itu namanya Turki. Iya, Turki, akronim dari Turunan Gunungkidul. Kurang mboeees apalagi?

#9 Lord Amien Rais

Lord Amien dalam pagelaran Euro 2020, blio bakal dukung Spanyol. Kenapa? Blio suka negara yang punya kans juara. Lihat saja Prabowo Subianto dalam kontestasi capres lalu, kans menangnya besar, Lord Amien selalu ngintil di belakangnya.

Namun gini, Lur, saran saja, sih. Kalau mau taruhan jangan megang apa yang didukung sama Lord Amien. Bukan benci atau apa lho, ya. Lantaran retorika politik blio itu selalu nelangsa. Bukan ngece, capres yang ia bela, pasti bakalan nelangsa dan mengalami kekalahan yang menyakitkan.

Mau saya tanyakan bagaimana rasanya Prabowo kalah dua kali lantaran didukung oleh Lord? Sudah, biarkan Lord, Prabowo, dan Tuhan saja yang tahu bagaimana perihnya kalah, kita jangan.

BACA JUGA Coach Justin adalah Pandit Sepak Bola Paling Cerdas di Muka Bumi, No Debat! dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2021 oleh

Tags: euro 2020Pojok Tubir Terminaltokoh politik
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Klitih di Jogja: Akibat dari Mental Chauvinis dan Maskulinitas ala Feodal

9 Agustus 2021
Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos terminal mojok.co

Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos

28 Juni 2021
Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan? terminal mojok.co

Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan?

5 Juli 2021
Membela Harkat dan Martabat Gorengan yang Disinggung Lee Jae-Hong, Pelatih Fisik Timnas Indonesia terminal mojok.co

Membela Harkat dan Martabat Gorengan yang Disinggung Lee Jae-Hong, Pelatih Fisik Timnas Indonesia

28 Mei 2021
Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi! terminal mojok.co

Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi!

10 Juli 2021
Sulitnya Menjadi Fans SID dan JRX di Masa Pandemi terminal mojok

Sulitnya Menjadi Fans SID dan JRX di Masa Pandemi

25 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

17 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

19 Januari 2026
4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang Mojok.co

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

19 Januari 2026
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.