Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Kesehatan

Kesengsaraan Mendalam Bagi Orang yang Sakit Gigi

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
12 Juni 2019
A A
sakit gigi

sakit gigi

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya semua sakit di dunia ini tak ada yang enak. Mau sakit bisul sekali pun, itu sungguh sangat menyiksa untuk duduk bila si bisul itu bersemayam di pantat. Namun dari semua sakit ringan, sakit gigi merupakan penyakit yang menduduki urutan teratas sebagai penyakit yang menyedihkan.

Tentu semua orang sudah pernah mendengar lagu dari Alm. Meggy Z yang berbunyi, ‘Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini biar tak mengapa‘. Saya sebenarnya dengan segala kesadaran sesadar-sadarnya menolak dengan tegas lirik lagu tersebut. Bahkan kalau bisa, saya mau ikut turun ke jalan untuk berdemo agar penciptanya merevisi ulang syair lagu yang sudah kadung populer tersebut.

Menurut saya sakit hati dan sakit gigi merupakan dua hal yang berbeda. Sakit hati merupakan sesuatu yang gaib—tidak terlihat tapi sakit. Sedangkan pada orang yang giginya sakit, bisa sangat mudah kita lihat sakitnya bila sudah membengkak di pipi.

Saya yakin orang yang dengan mudahnya berkata lebih baik sakit gigi daripada sakit hati itu—pasti merupakan orang-orang yang pernah sakit hati tapi belum pernah merasakan yang namanya sakit gigi. Kalau mereka pernah merasakannya—saya yakin seyakinnya mereka bakalan mengedit ulang kata-katanya itu.

Sakit gigi itu juga ada tingkatannya—sama halnya seperti game. Ada tingkatan untuk pemula, standar, dan juga profesional. Untuk pemula itu cuma sakit ringan—yang ditandai dengan gigi ngilu dan agak senggring-senggring gimana gitu. Ini masih tingkat amatir—dibalur dengan minyak kayu putih, gosok gigi, lalu kumur-kumur dengan air garam pun sudah agak mendingan.

Untuk level kedua yang cukup standar. Pada tahap ini sudah agak serius—gejalanya mungkin kepala ikut-ikutan nyut-nyutan, gusi membengkak, mata berair, dan yang paling apes itu tidak bisa buat makan tapi perut lapar.

Selanjutnya level para suhu alias profesional—ini sakit gigi yang paling absurd. Saya mau nyeritain sakit di level ini saja, sudah merinding duluan membayangkannya—yang ini sakitnya nggak main-main lagi. Si gigi ini sudah semacam Sengkuni dalam Perang Baratayuda. Ia seolah memprovokasi seluruh organ tubuh lainnya untuk ikut-ikutan merasakan kesakitannya secara bersama-sama.

Nggak habis pikir, cuma gara-gara gigi satu sekecil itu kok ya kepala nggak berkutik ikut nyut-ntutan. Tubuh juga jadi lunglai tak berdaya melawan kehendak yang mulia gigi tersebut. Saya nggak bayangin, satu gigi yang sakit aja rasanya setengah mati apalagi kalau semua gigi kompakan sakit semua. Gimana rasanya coba?

Baca Juga:

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

2 Alasan Bioskop Belum Layak Didirikan di Demak

Namun hal paling nahas saat gigi sakit itu adalah perlakuan diskriminasi orang-orang terhadap sakit ini. Meski sakitnya naudzubilahi min dzalik—tapi orang-orang seolah sering meremehkan penyakit yang satu ini. Yang pertama ya, penyakit ini itu sakitnya tiada tara tapi tetap saja tak ada teman atau kerabat yang tergerak hatinya untuk menjenguk saat kita sakit. Belum pernah dengarkan ada kan orang yang menjenguk orang yang giginya sakit lalu membawakan buah atau kue?

Kedua, kalaupun tidak dijenguk itu masih tak seberapa dibanding sakit hati karena ejekan orang-orang yang selalu mengaitkan penyakit ini dengan malas sikat gigi. Meski saya setuju—bahwa rajin sikat gigi dapat mengindari dari penyakit ini namun pada kenyataannya penyebab sakitnya gigi itu tidak hanya disebabkan dari rajin tidaknya kita sikat gigi. Saya sendiri dari kecil rajin sikat gigi sehabis makan dan sebelum tidur. Saya juga rajin datang ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi. Tapi kok ya masih saja—saya mengalami sakit yang satu ini. Setelah saya pelajari ternyata penyebabnya itu cukup bervariasi—tidak hanya sebatas kebiasaan sikat gigi doang.

Tapi begitulah netizen, saya diejek habis-habisan—dan mereka selalu berkata saya ini orang yang malas gosok gigi sehingga akhirnya saya sakit. Kan sebal ya kalau punya teman kayak gini—sudah sakit nggak dijenguk eh malah diejek. Apesnya lagi—kok ya saya punya stok teman yang model kayak gini banyak banget.

Kadang ya—kejadian pas gigi itu rasanya sakit banget tapi perut merasa kelaparan akut. Jangankan buat makan—buat mangap aja sakitnya nggak ketulungan. Lalu saya pernah berinisiatif pergi ke dokter untuk minta diinfus agar tubuh ada asupan makanan. Tapi apa—bukannya dapat sambutan hangat dari dokter yang ada saya malah diketawain dibilang konyol. Ya elah, sakit tingkat akut kayak gitu masih aja dianggap sebuah kekonyolan.

Sakit gigi itu juga merupakan sakit yang melingkupi kesensitifan seseorang. Kalau pas datang penyakit ini dengan suara di televisi gitu rasanya pengen ambil ulekan lalu tak lempar di layarnya. Lalu kalau pas sakit gitu, dengar orang ketawa-ketiwi cengar-cengir haha-hihi—jauh di lubuk hati yang terdalam—rasanya kok ingin sekali mengeluarkan jurus Tajuu Kagebunshin no Jutsu milik Uzumaki Naruto.

Bagi yang masih sayang nyawanya—saya himbau jangan pernah sekali-kali mencoba mengajak bercanda orang yang tengah terkena penyakit ini. Adegan berbahaya ini cuma bisa dilakukan oleh seorang yang sudah profesional.

Mari lebih berempati dengan orang yang tengah sakit gigi. Mungkin bisa dengan mendoakan agar cepat sembuh, mengejaknya ke dokter, meminjaminya minyak kayu putih, atau memijat-mijat kepala serta lehernya—tapi jangan dicekik ya. Jika tak bisa menjenguk dan membawakan bingkisan—ya paling tidak kita cukup menjaga mulut agar tidak mengejek mereka. Jangan lagi ada kata-kata bahwa sakit gigi itu adalah azab bagi orang-orang yang malas sikat gigi.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: DangdutSakit GigiSakit Hati
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

musik haram backST 12 indonesian idol menyanyi konser mojok

Berhenti Jadikan Agama sebagai Label Seseorang Pandai Menyanyi

9 Desember 2020
Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Karya Abah Lala Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

20 Agustus 2022
2 Alasan Bioskop Sebenarnya Belum Layak Didirikan di Demak

2 Alasan Bioskop Belum Layak Didirikan di Demak

20 Januari 2025
Sejarah Senggakan: Awalnya Pelengkap, Kini Jadi Menu Utama

Sejarah Senggakan: Awalnya Pelengkap, Kini Jadi Menu Utama

6 April 2022
Review Grup Dangdut Hasoe Angels dari Orang yang Nggak Pernah ke Klub Malam terminal mojok.co

Review Grup Dangdut Hasoe Angels dari Orang yang Nggak Pernah ke Klub Malam

6 Oktober 2020
Lagu Dangdut yang Haram Dinyanyikan di Resepsi Perkawinan (Unsplash)

Barisan Lagu Dangdut yang Idealnya Tidak Perlu Dibawakan di Resepsi Perkawinan

24 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.