Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kesaksian Korban Gempa Cianjur: Maaf, Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit

Muhammad Afsal Fauzan S. oleh Muhammad Afsal Fauzan S.
24 November 2022
A A
Kesaksian Korban Gempa Cianjur Maaf, Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit Terminal Mojok

Kesaksian Korban Gempa Cianjur Maaf, Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tak ada yang lebih cerah daripada udara Kampung Wargaluyu, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur pada Senin (21/11/2022). Langit cerah berwarna biru dengan awan putih yang berarak dengan anggun, seperti mempertontonkan keindahan alam yang tak ada duanya. Tetapi, malapetaka yang tidak pernah terduga ternyata akan kami rasakan hari itu.

Siang itu, saya sebetulnya sudah berniat untuk pergi ke kafe dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, tetapi entah kenapa rasanya malas betul untuk beranjak dari rumah. Seolah ada yang menahan saya untuk tetap berada di rumah. Padahal motor sudah saya isi bensin dan terparkir dengan manis di teras rumah.

Sekitar pukul 13.00 WIB, saya berbincang dengan mama soal gempa kecil dini hari yang berpusat di Cianjur. Celakanya, tak sampai setengah jam kemudian, mimpi buruk itu datang menghampiri. Tiba-tiba goncangan dahsyat menggoyangkan rumah. Seketika saya yang panik hanya bisa menggenggam ponsel mencoba berlari ke luar rumah.

Mama yang saat itu tengah berada di kamar depan, dekat dengan pintu depan, berdiri namun tak bisa berlari. Plafon teras lalu ambruk tepat di depan mata saya saat tengah mencoba menengok mama. Debu berwarna oranye beterbangan menghalangi pandangan. Nekat, saya putuskan kembali ke dalam rumah dan menarik tangan mama lalu menggandeng beliau loncat keluar rumah. Dengan pandangan yang masih kurang jelas, saya mencoba membawa mama ke tempat aman.

Akhirnya pandangan kami jadi jelas setelah berhasil keluar dari rumah. Sayangnya, pandangan jelas itu tak membawa kabar baik. Beberapa rumah di hadapan kami luluh lantak rata dengan tanah. Ya Allah, itu rumah sepupu saya! Rumah yang tepat berada di seberang rumah kami itu runtuh di hadapan kami. Samar-samar terdengar teriakan takbir menggema dari beberapa warga kampung. Kengerian makin saya rasakan saat itu. 

Saya lalu meminta mama dan kakak ipar yang berhasil keluar bersama anaknya menuju ke tempat yang aman. Sementara itu, kakak perempuan saya berteriak sambil menunjuk ke arah rumah sepupu saya yang rata dengan tanah tadi, “Ada anak-anak di dalam rumah!” Saya terkejut mendengarnya. Beberapa warga yang selamat lalu menghampiri kami dan mencoba untuk mencari tahu. Dibantu dengan warga kampung, kami mencoba mencari di antara puing-puing reruntuhan. Sayangnya, sulit melakukan evakuasi.

Hingga akhirnya salah satu dari tiga anak yang berada di rumah sepupu saya berhasil dievakuasi dengan selamat. Wajahnya yang penuh debu lantas dibersihkan oleh kakak perempuan saya. Namun, ternyata masih ada beberapa orang lain yang terjebak dalam reruntuhan tersebut, mereka adalah kakak sepupu saya beserta dua orang anak.

Salah satu keponakan saya berhasil dikeluarkan warga sekitar. Tubuhnya lemas tak berdaya. Ia tidak berteriak dan tidak merespons. Saya lalu menggendongnya dan membawanya menjauh dari reruntuhan. Kakak saya mencoba membantu dengan memberikan pertolongan pertama berupa CPR pada keponakan saya yang bernama Zeeshan tersebut, namun tetap tak ada respons.

Baca Juga:

Cianjur Sisi Selatan Masih Bobrok dan Belum Layak Jadi Kabupaten Baru, Mending Dipikir Ulang

Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

Dalam kepanikan, saya dibantu seorang tetangga bergegas membawa Zeeshan ke rumah sakit. Dalam kepanikan itu pula saya berharap masih ada kesempatan bagi bocah berusia 6 tahun itu bisa hidup di tengah dunia yang hancur ini. Nahas, situasi jalanan saat itu kacau. Semua orang berhamburan di jalanan mencoba pergi ke tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan diri. Ya, semua orang panik akan adanya gempa susulan. Situasi jalanan padat dan macet parah. Saya mencoba berteriak agar bisa diberi jalan karena situasinya sangat darurat.

Perjalanan siang itu menuju RSUD Sayang Cianjur terasa sangat lama. Saya menggendong Zeeshan dalam pelukan, berharap bocah kecil itu lekas sadar. Hal ajaib yang saya rasakan ketika menggendong keponakan saya itu adalah lembut kulitnya yang bahkan tak terkena debu sekalipun. Rambutnya bersih seperti baru habis dimandikan. Hanya ada sedikit bercak darah keluar dari hidungnya.

Sekelompok pengemudi ojek online sempat membantu mengurai kemacetan di jalan. Mereka berusaha menyingkirkan pengendara yang tumpah ruah agar korban gempa bisa mendapatkan akses jalan.

Setibanya di RSUD Sayang Cianjur, saya langsung bergegas ke ruang IGD. Saya meminta pada petugas medis yang sigap menghampiri untuk segera memberi pertolongan pada ponakan saya. Mereka lalu memeriksa denyut nadi, pupil, dll. Pertolongan seperti CPR, oksigen, dan suntikan khusus coba diberikan agar bocah itu merespons. Namun, sekitar setengah jam berlalu, Zeeshan tak memberikan respons apa pun. Dokter yang menangani berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.”

Tangis saya pecah tak terbendung begitu mendengarnya. Bocah kecil yang sering main ke rumah saya itu pergi begitu cepat. Sesekali saya memegangi tangannya berharap ada keajaiban yang membuat denyut nadinya kembali terasa, namun Allah sudah berkehendak. Zeeshan telah berpulang.

“Maaf, saya terlambat membawamu ke rumah sakit,” hanya itu yang bisa saya katakan.

Beberapa saat kemudian, ponakan saya yang lain tiba di RSUD Sayang, termasuk dua orang sepupu saya. Sepupu perempuan saya terluka parah di bagian kepala. Saya berpikir dia akan tetap sadar, namun rupanya Allah turut memanggilnya pulang bersama dengan Zeeshan. 

Sementara sepupu laki-laki saya terluka di bagian tangan kiri karena tertimpa beton saat mencoba menyelamatkan anaknya. Sayang, anaknya tak tertolong juga. Mendengar kabar itu, tangis kami semua pecah.

Saya yang hanya bermodalkan celana pendek dan kaos hitam siang itu hanya bisa termenung. RSUD Sayang mulai didatangi korban gempa Cianjur. Tangisan, jeritan, jenazah yang berjejer, orang-orang terluka, dan kengerian lainnya membangkitkan bulu kuduk saya.

Cianjur yang asri dan berseri, kini luluh lantak karena gempa. Hingga hari ketiga, saya masih memikirkan gempa Cianjur yang mengguncang siang itu. Saya takut akan terjadi gempa susulan yang sama besarnya atau bahkan lebih besar. Saya takut tak bisa menolong keluarga dan juga banyak orang. Saya takut… Semoga Cianjur lekas pulih.

Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengenal Sesar Cimandiri Penyebab Gempa Cianjur, Wilayah Mana Saja yang Dilewati?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 November 2022 oleh

Tags: cianjurgempa bumi
Muhammad Afsal Fauzan S.

Muhammad Afsal Fauzan S.

Mantan wartawan yang jadi programmer dan web developer di pesantren. Sudah menulis sejak 7 tahun lalu. Suka baca buku sambil ngopi.

ArtikelTerkait

Cianjur Sisi Selatan Masih Bobrok dan Belum Layak Jadi Kabupaten Baru, Mending Dipikir Ulang Mojok.co

Cianjur Sisi Selatan Masih Bobrok dan Belum Layak Jadi Kabupaten Baru, Mending Dipikir Ulang

27 Mei 2025
Siap Sedia Hadapi Bencana dengan Tas Siaga Bencana Terminal Mojok

Siap Sedia Hadapi Bencana dengan Tas Siaga Bencana

22 November 2022
setahun bencana palu

Setahun Bencana Palu, Tagar #KitaKuat Masih Terpatri di Hati

27 September 2019
Cianjur Berduka: Hancur oleh Gempa, Dikubur oleh SARA dan Preman

Cianjur Berduka: Hancur oleh Gempa, Dikubur oleh SARA dan Preman

1 Desember 2022
Susahnya Jadi Pekerja Kreatif di Cianjur, Kerap Disepelekan Skill-nya dan Gajinya Nggak Nyampe UMR

Susahnya Jadi Pekerja Kreatif di Cianjur, Kerap Disepelekan Skill-nya dan Gajinya Nggak Nyampe UMR

21 Agustus 2023
Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

16 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.