Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kerumitan di Balik Dominasi Tim-tim Sepak Bola Thailand

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
7 Agustus 2020
A A
thailand sepakbola politik mojok

thailand sepakbola politik mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sepak bola Thailand memang menyeramkan dalam dekade ini. Tidak hanya mendominasi kancah regional, ekspansi pemain mereka yang mentas di luar negeri juga patut diacungi jempol. Teranyar, pemain mereka yang sedang mentas di J. League, Chanathip Songkrasin, menjadi pemain asal Asia Tenggara pertama yang menjadi kapten di pentas sepak bola tertinggi Jepang. Ia menjadi kapten Consadole Sapporo pada menit ke-76 ketika Hiroki Miyazawa digantikan.

Tidak hanya urusan pemain, grass-root yang digembleng oleh Negeri Gajah Putih tentunya tidak pernah mengecewakan. Ditangani oleh orang-orang yang “mengerti” sepak bola, olahraga ini terus berkembang. Namun, kita sama-sama tahu bahwa politisasi sepak bola di negeri ini juga santer diberitakan. Namun, politik terjadi ketika prestasi sudah baik. Bukan malah prestasi biasa-biasa saja, lalu meninggalkan kedudukan dan meraih posisi yang lebih tinggi.

Perlu kita sepakati bahwa politisasi sepak bola tidak pernah ada kata “baik”. Pengelolaan yang imbang antara keuangan dan prestasi adalah hal yang wajib. Dan Thailand melakukan hal ini, terutama untuk klub-klubnya. Pada tahun 2009 mereka berbenah. Hal ini setali tiga uang dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh AFC mengenai kriteria tim yang bisa menembus Liga Champions Asia edisi 2011. Mau nggak mau, mereka harus melengkapi segalanya agar tim-timnya tetap bisa mentas di ajang tertinggi bagi klub Asia.

Thailand Premier League berubah menjadi Thai Premier League, profesionalitas mereka tingkatkan, dan yang paling kentara, tentu klub harus berpisah dengan “badan organisasi” dan harus membuat sebuah otoritas badan klub yang independen dan sesuai badan hukum. Klub di Indonesia—kebanyakan—sudah memenuhi tuntutan AFC, ketika mereka leha-leha, negara lain terus berbenah. Eh, leha-lehanya malah kebawa sampai sekarang.

Perubahan ini, secara tidak langsung menuntut tim-tim untuk rebranding atau mencari markas baru. Mereka harus melebur kepada masyarakat agar mendapatkan simpati dan tentunya keuntungan. Sepak bola moderen, menuntut setiap klub untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Dan di Thailand, hal ini baru terjadi pada tahun 2009, guna adaptasi menyambut tahun 2011.

Imbasnya tentu banyak klub besar yang berguguran karena sistem seperti ini menuntut pengelolaan yang baik. Contohnya adalah juara TPL dua kali, sekaligus pernah mengalahkan PSM dan Persebaya, yakni Krung Thai Bank FC. Tim yang dibangun oleh Krung Thai Bank ini menyatakan menyerah dan menarik diri pada Januari 2009. Lisensi mereka lantas diakuisisi oleh Bangkok Glass agar dapat bermain di liga utama.

Sebenarnya, klub yang dikembangkan oleh Bangkok Glass Factory ini sudah berdiri sejak 1999. Namun, klub itu hanya sebatas perkumpulan buruh yang memainkan liga—jika di Indonesia—disebut tarkam. Dilansir dari situs klub, klub asli yang berasal dari sumsum tulang para buruh ini sekarang masih eksis dengan nama Rangsit FC. Dan pada 2018, klub ini melakukan rebranding dengan Provinsi Pathum Thani dan mengubah nama menjadi BG Pathum United FC agar “mendapat dukungan yang jelas”.

Tim Bangkok yang lain, Bangkok University FC, sudah berdiri sejak 1988 sebagai wadah sepak bola mahasiswa Universitas Bangkok di Provinsi Pathum Thani, di utara Bangkok. Pada tahun 2009, Bangkok menjadi partner Bangkok Metropolitan Administration (BMA) untuk memenuhi aturan FAT—PSSI-nya Thailand—yakni berada di bawah lindungan limited company. Maka, nama Bangkok United FC menjadi pilihan mereka sebagai representasi Kota Bangkok.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Samut Prakan City, “klub baru” di jajaran elit Thailand sebenarnya adalah pemain lama. Klub ini berasal basis Pattaya, Provinsi Chonburi, yakni Pattaya United. Nah, Pattaya United ini juga bukan “klub orisinil”. Mereka sebenarnya terbentuk berafiliasi menuju Pattaya pada tahun 2008. Sebelumnya, tim ini bernama Coke-Bangpra Chonburi FC. Pindah berkala dari Bangpra, Pattaya, dan Samut Prakan tersiar rumor bahwa hal ini (selain mengikuti aturan federasi) dikarenakan adanya politisasi. Melelahkan.

Bukan cenayang, bukan peramal, Muangthong United sudah berbanah sejak tahun 2006. Klub yang dibentuk pada tahun 1989 ini awalnya bernama Norgjorg Pittayanusorn FC dan Worawi Makudi (ingat dengan nama ini?). Pada era 2002, nama FC Norgjorg Black Pearl dibangun oleh pilitikus Veera Musikapong dan hanya bertahan selama satu tahun. Pada 2006-2007, Siam Sport Syndicate menyelamatkan mereka dan dipilihlah Muangthong United sebagai nama harum hingga kini.

Klub pelabuhan besutan Madam Pang, Port FC, malah lebih njlimet lagi. Klub yang berbasis di tempat kumuh Bangkok, yakni Khlong Toei, mereka bernama Port Authority of Thailand FC yang dibangun pada 1967. Lantas pada zaman perubahan sepak bola Thailand, nama mereka menjadi Thai Port FC dan justru masa ini menjadi masa paling gelap sejarah klub. Konflik internal antara perusahaan sebelumnya dan pihak klub menjadi gejolak. Ya, namanya juga masa peralihan.

Indonesia punya Bhayangkara FC, Thailand juga punya Police Tero FC. Pada mulanya klub ini adalah milik Worawi Makudi (ingat dengan nama ini?) dengan nama Sasana Witthaya pada 1992. Dan pada 1996, BEC-TERO Entertainment Public, menukangi mereka dan berubahlah mejadi Tero Sasana FC. Pada tahun 2017, mereka marger dengan klub instansi paling bersejarah di Thailand, yakni Police United FC.

Provincial Electricity Authority FC didirikan pada tahun 1970. Klub berbasis PLN-nya Thailand ini menitih dan memetakan sepak bola Thailand dan merangsak masuk ke dalam sejarah kuat. Pada 2008, mereka pindah ke Ayutthaya dan memiliki basis fans fanatik yang kuat. Sempat menurun, bahkan kalah dengan Singapore Armed Forces dalam kualifikasi AFC, seorang politikus asal Buriram, Newin Chidchob, membawa klub tersebut dan rebranding dengan nama, markas, dan basis suporter baru dengan nama Buriram United.

Jika dilihat, pindah markas, stadion, hingga kepemilikan tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Bahkan di Thailand pun lumrah terjadi. Ada yang gagal, ada pula yang berhasil. Ada yang dari instansi pemerintahan hingga angkatan bersenjata. Indonesia dan Thailand sama dalam sejarahnya, namun berbeda dalam masalah pengelolaannya. Ya, lagi-lagi suatu hal yang sudah menjadi lumrah, kini tinggal belajar bagaimana cara merawatnya.

Semoga Indonesia tidak hanya sama dengan Thailand perihal rebranding, relokasi, dan lisensi, namun juga—terpenting—masalah prestasi.

BACA JUGA Menjadi Pemimpin Bedebah Ala Game Simulasi Pemerintahan Tropico 5 dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2020 oleh

Tags: Sepak Bolathailand
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

ulang tahun pssi ke-90 mojok

PSSI 90 Tahun: Lebih Tua Ketimbang Indonesia tapi Masalahnya Sama

19 April 2020
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja dan Thailand Itu Sama-sama Monarki, tapi Rakyat Jogja Nggak Suka Demo

5 November 2020
ratu tisha destria sekjen pssi mundur dari jabatannya rekam jejak instagram mojok

Ratu Tisha, Bukti Wanita Bisa Berprestasi untuk Sepak Bola Indonesia

14 April 2020
Jadi Admin Fanspage Sepak Bola Indonesia, dari Bikin Meme Sampai Ngurusin Orang Ribut fantasy premier league MOJOK.CO

Admin Fanspage Sepak Bola Indonesia, dari Dianggap Provokator Sampai Ngurusin Orang Ribut

24 Juli 2020
juventini

Bukan Kopites Tipikal Pacar Idaman, Tapi Juventini

7 Agustus 2019
Milk Bun Roti Viral di TikTok yang Overrated, Nggak Usah Repot-repot Jastip dari Thailand! Mojok.co

Milk Bun Roti Viral di TikTok yang Overrated, Nggak Usah Repot-repot Jastip dari Thailand!

11 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.