Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
25 Mei 2025
A A
Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan

Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudirman Central Business District atau SCBD adalah segitiga emasnya Jakarta Selatan, bahkan mungkin Jakarta secara keseluruhan. Kawasan ini berada di antara Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Senopati. Letaknya yang strategis membuatnya pun mudah diakses melalui berbagai layanan transportasi publik. Tetapi sebelum dikenal saat viralnya fenomena Citayam Fashion Week, SCBD ini memang kawasan yang terlihat sangat modern.

Sederhananya, SCBD ibarat kota kecil di dalam Jakarta yang dibentuk dari kumpulan gedung modern pencakar langit, restoran bonafide, dan pusat hiburannya kalangan elite kantoran. Yah, kalau di New York ada Wall Street, Jakarta punya SCBD.

Nggak heran kalau banyak orang kemudian bermimpi untuk bisa bekerja di kawasan ini. Lantaran ini kawasan bisnis elite, tentu perusahaannya pun sekelas nasional dan multinasional sehingga gajinya sudah tentu di atas UMR (setidaknya mayoritas dan di posisi-posisi strategis). Akan tetapi terlepas dari modernitas dan elitenya bekerja di SCBD, ada sisi gelap yang harus diketahui orang-orang yang ingin bekerja di sana.

#1 Susah cari makan murah di SCBD

Saya bersyukur waktu bekerja di Jakarta, lokasi kantor saya berbaur dengan kompleks perumahaan sehingga cukup mudah mencari makanan murah sekelas warteg, pecel lele, dan sejenisnya yang harganya bisa dijangkau di bawah Rp15 ribu. Tapi lain cerita dengan beberapa teman saya yang bekerja di SCBD.

Cari warteg atau warsun? Aduh, itu kayak mencari baju di toko sepatu. Para pekerja di SCBD biasanya makan di kantin karyawan yang harga makanannya di atas Rp30 ribu. Itu pun porsinya minimalis dengan rasa yang yaaah… begitulah. Menunya juga terkesan monoton, itu-itu saja.

Saat bosan dengan makanan kantin, alternatifnya pesan via online. Tetapi kalau pesan online, pekerja sana harus rela mengeluarkan uang lebih banyak. Bisa-bisa sekali makan siang habis Rp40 ribu sampai Rp50 ribu. Bisa sih lebih murah, caranya pesan bareng dengan teman-teman lainnya.

Sebenarnya ada sih makanan warungan, tapi lokasinya agak jauh dari kawasan SCBD. Waktu istirahat bisa habis cuma buat bolak-balik makan siang, dong.

#2 Jam pulang kerja yang nggak ideal

Orang yang bekerja di SCBD itu agak aneh kalau pulangnya sebelum magrib. Pasalnya pekerjaan mereka menuntut jam kerja yang lebih dari itu. Ada stigma nggak enak kalau pulang duluan, kayak “kok udah mau pulang, kerjaan lo udah kelar?” atau “Ah, buru-buru amat, nongkrong dulu lah kita.”

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

5 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Saya Jadi Karyawan MR DIY

Kalaupun pekerjaan sudah selesai, pulang jam 5 sore itu kayak membiarkan diri masuk ke dalam neraka. Lha, itu jam padat, kemudian harus menggunakan transportasi umum. Udahlah capek, desak-desakan, sehingga rawan memicu ketersinggungan. Solusinya, banyak karyawan SCBD yang pulang setelah magrib untuk terhindar dari padatnya transportasi umum Jakarta. Hal itu juga berlaku bagi mereka yang menggunakan mobil pribadi, lho.

#3 Hampir nggak ada tempat untuk pengguna motor di SCBD

Sebenarnya nggak ada larangan bagi motor untuk masuk di kawasan SCBD. Tetapi agak ribet, baik dari segi akses maupun tempat parkirnya.

Akses untuk masuk SCBD via motor itu terbatas dan jalannya pun muter. Sebab sebagian jalur utama kayak Jalan Jenderal Sudirman depan Pacific Place dan Equity Tower itu dibuat lebih prioritas buat mobil, ojek online, dan pejalan kaki. Selain itu, pada momen-momen sibuk seperti pukul 08.00-09.00 dan 17.00-19.00, motor harus ekstra sabar karena bakal ketahan macet di pintu-pintu masuk kawasan.

Nah, berkenaan dengan parkir, karena kawasan SCBD ini begitu dijaga ketertibannya, maka pengguna motor nggak bisa parkir sembarangan. Beberapa gedung seperti Treasury Tower, District 8, dan Pacific Place punya lahan parkir motor, tapi sangat terbatas. Ada kondisi pengguna motor harus naik turun basement atau jalan kaki agak jauh ke gedung tujuan.

Kalau nggak dapet parkiran di area SCBD, alternatifnya ya nitip parkir di lahan-lahan pinggir Senopati, dekat Benhil, atau depan Gedung Polda.Tapi tarif parkir motor bisa Rp5 ribu sampai Rp10 ribu sekali masuk, kadang lebih mahal kalau dititip di tempat semi-liar. Opsi lainnya di parkiran Pacific Place. Di sana jadi salah satu yang lumayan nyaman buat parkir motor karena punya basement khusus motor ada di area paling bawah.

#4 Gaya hidup hedon dan FOMO

Lo bukan anak SCBD kalau lo nggak hedon, Brooo! Memang nggak selamanya seperti itu, sih, tapi ekosistemnya mayoritas berisi dengan budaya yang seperti itu. Kalau ada seseorang mampu menahan gaya hidup hedon, bisa jadi dia akan kurang dianggap friendly bagi orang-orang sekitarnya.

Lha, gimana nggak hedon, tekanan kerja yang diterima membuat para pekerja di sana harus mencari medium untuk melepas stres dan memenuhi kepuasan mereka dalam menjalani hidup yang penuh tekanan. Maka nggak heran kegiatan macam nongkrong after office di rooftop bar, cafe, atau club jadi semacam ritual.

Kehidupan yang hedon itu pun nggak jarang menyebar dan jadi ke-FOMO-an tersendiri. Misalnya dalam konteks tren-tren yang sedang berkembang seperti lari. Mereka akan ikutan tapi dengan outfit yang sangat stylish dan mahal. Nah, yang begitu kan akhirnya membebani pengeluaran mereka sendiri.

Itulah beberapa sisi gelap bekerja di SCBD dari kacamata saya yang sempit. Sekali lagi, bekerja di SCBD memang membuat seseorang jadi punya pride dan bisa merasakan pemandangan kantor yang keren. Tapi di sisi lain, ada harga yang harus dibayar, misalnya uang yang datang cepat tapi habis lebih cepat, waktu yang terkuras, kepala yang panas, dan dompet yang tipis.

Kalau kita nggak mawas diri, bisa jadi malah tersesat dalam ekosistem gaya hidup yang glamor tapi nggak sesuai isi rekening. Mental pun bisa tergerus kalau terus-terusan ikut ritme toxic hustle di sana.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Tukang Sayur di Pasar Kebayoran Lama Lebih Makmur dari Pekerja SCBD: Nggak Perlu Lembur untuk Hasilkan Jutaan Rupiah Tiap Hari.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2025 oleh

Tags: bekerjaKaryawanSCBD
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Kerja Kantoran di Gedung-gedung ala SCBD Itu Overrated, Banyak Repotnya Mojok.co

Kerja Kantoran di Gedung-gedung ala SCBD Itu Overrated, Banyak Repotnya

19 Desember 2023
3 Hal yang Membuat HRD Ketar-ketir Selama Ramadan saat Seleksi Karyawan

3 Hal yang Membuat HRD Ketar-ketir Selama Ramadan saat Seleksi Karyawan

25 April 2022
Oversharing tentang Enaknya Kerja di Jepang Nggak Masalah, tapi Tolong Cerita Juga Bagian Nggak Enaknya

Oversharing tentang Enaknya Kerja di Jepang Nggak Masalah, tapi Tolong Cerita Juga Bagian Nggak Enaknya

9 Februari 2023
Panduan Sederhana Membedakan PKWT dan PKWTT bagi Para Calon Karyawan terminal mojok

PKWT dan PKWTT Itu Beda! Sebagai Calon Karyawan, Kamu Jangan Sampai Salah

22 April 2021
Macet SCBD Kabupaten Bandung Tidak Manusiawi Melebihi Kota (Unsplash)

SCBD Bandung Nggak Ada yang Manusiawi, Mau Kota atau Kabupaten Semua Nggak Manusiawi. Jangan Mau Tinggal di Sini!

1 Mei 2024
hobi resign dari tempat kerja alasan ragu cara memutuskan menyesal mojok.co

Yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Kebelet Resign Sebelum Dapat Kerjaan

26 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.