Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Abdul Basri oleh Abdul Basri
2 Agustus 2026
A A
Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya lahir dan besar di sebuah dusun di lereng Gunung Merapi. Tempat di mana pagi selalu dimulai dengan hawa dingin yang bikin males keluar selimut, suara ayam jago yang nyaring, dan tetangga yang lewat depan rumah sambil nyapa, “Ngarit sik, Le.” Lalu saya merantau ke Bekasi.

Semenjak itu, pagi saya berubah total karena macet, klakson yang bersahut-sahutan, dan bus jemputan karyawan yang sudah ramai sejak subuh.

ADVERTISEMENT

Waktu itu saya pikir merantau adalah cara memperbaiki hidup keluarga. Ternyata memang iya, tapi bonusnya adalah ritme hidup baru yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Lima tahun jadi buruh pabrik di kawasan industri Bekasi, dan saya masih rutin bertanya-tanya, apa saya bakal betah di sini?

Ijazah Teknik Mesin saya ternyata cuma numpang lewat

Dulu waktu kuliah Teknik Mesin, saya membayangkan dunia kerja itu isinya gambar teknik, perhitungan kekuatan material, dan rumus-rumus yang bikin dahi berkerut. Kenyataannya, setelah bekerja di perusahaan Jepang di Bekasi, hidup saya lebih banyak dihabiskan di ruang meeting, diskusi, ataupun mencari akar masalah. Mikirin gimana caranya biaya produksi bisa ditekan. Laptop lebih sering saya pegang daripada jangka sorong.

Jangan kira jadi staf itu enak karena nggak berdiri di depan mesin. Tekanannya cuma pindah tempat, dari otot ke otak. Bos saya orang Jepang punya satu mantra yang diulang tiap kali ada masalah: “Way of thinking.”

Bagi mereka, kesalahan itu bukan disebabkan karena orangnya nggak bisa kerja. Biasanya karena cara berpikirnya yang belum benar. Kalimat itu awalnya bikin saya sebel, lama-lama bikin saya mikir juga, ya memang bener.

Selama lima tahun kerja di Bekasi, ilmu yang paling sering saya pakai bukan menggambar teknik atau kekuatan material. Tapi menganalisis akar masalah, ngobrol lintas departemen tanpa bikin orang tersinggung, dan ambil keputusan pakai data. Ternyata industri lebih sering menguji soft skill daripada isi diktat kuliah. Ya begitulah.

Bapak saya bikin bronjong seminggu, saya telat 15 menit bisa kiamat

Bapak saya di dusun mempunyai profesi pengrajin beronjong motor. Pesanan kadang banyak, tapi saya nyaris nggak pernah lihat beliau kerja tergesa-gesa. Suatu hari ada pelanggan datang ke rumah, pesan beronjong custom, minta jadi dalam tiga hari.

Baca Juga:

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

Saya pikir Bapak bakal langsung mengiyakan biar pelanggannya senang. Ternyata tidak. Dengan santainya beliau menjawab, “Kalau saya, paling cepat satu minggu. Kalau nggak bisa nunggu, silakan cari penjual lain.”

Kalimat itu sekarang terdengar seperti dongeng buat saya. Perusahaan tempat saya bekerja memproduksi kompresor AC mobil. Telat kirim lima belas menit saja bisa mengganggu siklus produksi pelanggan, lalu memicu efek berantai ke proses berikutnya. Jadi, semua pekerjaan dikejar target dan tenggat yang ketat. Kepuasan pelanggan adalah segalanya.

Makanya saya jadi paham kenapa banyak orang di industri ini (juga Bekasi pada umumnya) wataknya keras. Bukan karena mereka pemarah bawaan lahir. Ritme kerjanya memang nggak menyediakan ruang buat santai. Di dusun, obrolan ringan bisa terjadi kapan saja. Di pabrik, mau basa-basi pun kadang harus nunggu kerjaan kelar dulu.

Gaji kerja di Bekasi memang besar, tapi cuma mampir di rekening

Sejak pertama merantau, saya sering dengar kalimat ini: “Kalau sudah kerja di pabrik Bekasi, hidup pasti enak.” Saya dulu percaya. Dari dusun di lereng Merapi, angka UMR Bekasi itu terdengar seperti nomor undian berhadiah. Rasanya cukup buat beli banyak hal sekaligus nabung dengan gampang.

Ternyata gaji nggak pernah datang sendirian. Dia selalu bawa rombongan berupa biaya sewa rumah, transportasi, kebutuhan harian, dan sesekali kiriman buat orang tua di dusun. Perbedaan yang paling terasa waktu saya pulang kampung. Semangkuk soto di dusun masih bisa dinikmati sekitar Rp4.000. Di Bekasi, angkanya bisa Rp10.000 atau lebih.

Selisihnya kelihatan kecil kalau dihitung sekali makan. Tapi kalau hampir semua kebutuhan naik dengan pola yang sama, ya wassalam.

Di situ saya belajar bahwa besar kecilnya gaji nggak bisa dipisahkan dari besar kecilnya biaya hidup. Orang cuma lihat nominal yang masuk rekening, jarang lihat antrean pengeluaran yang sudah menunggu bahkan sebelum tanggal gajian tiba. Gaji besar bukan jaminan hidup berkecukupan. Yang lebih menentukan adalah kemampuan menahan pengeluaran supaya nggak lari lebih kencang daripada pemasukan.

Satu detik di Bekasi itu terlalu mahal

Ada satu kebiasaan pengendara motor Bekasi yang sampai hari ini masih bikin saya heran. Lampu lalu lintas baru berubah hijau, belum genap satu detik, klakson dari belakang sudah bersahutan. Seolah-olah satu detik itu terlalu berharga untuk disia-siakan. Awalnya saya kesal. Lama-lama saya sadar, mungkin bukan orang Bekasinya yang nggak sabaran. Mereka cuma tinggal di kota yang memaksa semua orang buru-buru.

Macet sudah jadi menu harian. Di dusun, jarak sepuluh kilometer bisa ditempuh lima belas menit. Di Bekasi, jarak yang sama kadang butuh empat puluh menit, dan itu sudah termasuk kategori lancar. Beberapa bulan lalu banjir bikin banyak orang nggak bisa berangkat kerja. Yang nekat berangkat harus memutar lewat rute yang lebih jauh.

Di dusun, macet dan banjir hampir nggak pernah jadi topik obrolan. Yang dibahas justru kapan hujan turun, tahlilan minggu ini di rumah siapa, atau tetangga yang slametan gara-gara baru beli motor. Nggak ada yang membunyikan klakson karena buru-buru. Orang lebih sibuk saling menyapa daripada saling mendahului.

Kerja di Bekasi akhirnya mengajari saya arti pulang

Lima tahun kerja di Bekasi mengajari saya banyak hal. Saya belajar mikir, belajar ngatur duit, belajar bahwa kerja cepat itu ada ilmunya. Saya nggak menyesal datang ke sini. Tapi saya juga sadar, hidup seperti ini bukan hidup yang saya impikan untuk jangka panjang.

Suatu hari nanti, kalau perjalanan sebagai buruh pabrik ini selesai, saya ingin pulang ke dusun. Bukan karena saya kalah bertahan di kota, tapi karena saya sudah tahu di mana saya mau menghabiskan sisa hidup.

Saya datang dan kerja di Bekasi untuk mencari penghidupan. Tapi ternyata yang saya temukan justru tempat yang benar-benar ingin saya hidupi yaitu dusun di lereng Merapi tempat saya dibesarkan.

Penulis: Abdul Basri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Pabrik Bekasi yang Wajib Diketahui Para Pencari Kerja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2026 oleh

Tags: bekasihidup di Bekasikerja di bekasiLereng Merapi
Abdul Basri

Abdul Basri

Orang dusun dari lereng Gunung Merapi, kini merantau sebagai buruh pabrik di Bekasi. Lulusan teknik mesin yang gemar membaca dan mengikuti isu-isu terkini.

ArtikelTerkait

5 Tempat Makan Legendaris di Bekasi yang Sayang Dilewatkan Terminal Mojok

5 Tempat Makan Legendaris di Bekasi yang Sayang Dilewatkan

25 Desember 2022
Babelan, Sisi Lain Bekasi yang Jarang Terungkap: Masih Banyak Rawa dan Sawah, Nggak Ada Mie Ayam yang Nggak Enak di Sini

Babelan, Sisi Lain Bekasi yang Jarang Terungkap: Masih Banyak Rawa dan Sawah, Nggak Ada Mie Ayam yang Nggak Enak di Sini

3 Juni 2025
Sudah Saatnya Bekasi Mengganti JPO dengan Pelican Crossing, Lalu Lintas Jadi Lebih Lancar dan Kotanya Jadi Lebih Modern!

Sudah Saatnya Bekasi Mengganti JPO dengan Pelican Crossing, Lalu Lintas Jadi Lebih Lancar dan Kotanya Jadi Lebih Modern!

3 Agustus 2024
4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

Saya Sepakat kalau Bekasi Gabung DKI Jakarta

1 Februari 2023
4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta

21 Mei 2022
Kasta Mal Paling Nyaman untuk Belanja dan Nongkrong di Bekasi Mojok.co

Kasta Mal Paling Nyaman untuk Belanja dan Nongkrong di Bekasi

29 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Suka knalpot brong indikasi sadisme, psikopat, dan narsisme (Wikimedoia Commons)

Kenapa sih kita gampang banget emosi lalu ngamuk kalau ada orang blayer-blayer knalpot brong?

29 Juli 2026
Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya Mojok.co

Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.