Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Keresahan Guru Ngaji: Profesi yang Menuntut Kesempurnaan padahal Kami Ini Manusia Biasa

Ifana Dewi oleh Ifana Dewi
11 Agustus 2025
A A
Keresahan Guru Ngaji Dituntut Sempurna, padahal Manusia Biasa (Unsplash)

Keresahan Guru Ngaji Dituntut Sempurna, padahal Manusia Biasa (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Agaknya, guru ngaji lebih pas disebut sebagai relawan ketimbang pekerja profesional.

No debat. Guru ngaji adalah profesi mulia. Saking mulianya, sampai-sampai tak banyak generasi muda yang sanggup, apalagi mau menjalaninya.

Sebenarnya, guru ngaji ada banyak macamnya. Kalau di masyarakat, biasa disebut kiai kampung. Tugas mereka jauh melampaui sekadar mengajarkan membaca dan memahami kitab suci. Lebih dari itu, mereka hadir di setiap lini. Sebagai panutan, konselor kehidupan, hingga penyelesai konflik tingkat tinggi. 

Tak digaji negara, tapi bertanggung jawab atas moral anak bangsa

Bicara soal gaji guru di Indonesia, memang tak ada hulunya. Terlebih bagi guru ngaji kampung. Mereka tak punya pendapatan tetap. Besar-kecilnya penghasilan, tergantung keikhlasan masyarakat atau seberapa sering diundang acara.

Acara maulid (hari-hari besar), nujuh bulanan, perkawinan, bahkan kematian seseorang, menjadi “ladang rezeki”. Biasanya, para guru ngaji atau kiai kampung diundang untuk turut memimpin doa dan pengajian. Dan dari situlah mereka mendapatkan penghasilan. Atau yang biasa disebut “salam tempel”.

Dibanding guru ngaji kampung, nasib (sedikit) lebih baik pernah saya alami ketika mengajar di madrasah diniyah seperti TPA. Per bulan, guru TPA masih diberi gaji sesuai dengan beban kinerja. Meskipun masih sangat jauh di bawah standar layak.

Padahal, katanya, guru ngaji adalah ujung tombak pembentuk karakter generasi masa depan. Tapi nyatanya, penghargaan yang mereka terima sering tak sebanding dengan peran mereka. Jauh dari kata layak. 

Maka tak heran kalau generasi muda enggan melirik profesi ini. Pasalnya, siapa sih yang mau menggantungkan hidupnya pada jumlah orang yang meninggal? Masa iya mengharap pendapatan dari duka kematian?? Kan nggak….

Baca Juga:

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

Guru Ngaji Cabul Bikin Hidup Sesama Guru Ngaji Menderita, Orang-orang Jadi Curiga dan Mem-bully dengan Panggilan “Walid”

Hanya jadi selingan, bukan profesi utama

Jarang sekali saya menemukan orang yang hanya berprofesi sebagai guru ngaji. Kebanyakan, mereka punya pekerjaan utama lain. Misalnya saja, kakek saya. Profesi sungguhannya adalah petani. Kakek merangkap menjadi guru ngaji sebab semasa mudanya dia habiskan mendalami kitab suci dan ingin mengabdi.

Di luar mengajar, kami harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Entah menjadi petani, pedagang, atau merangkap profesi lain. Akibatnya, waktu dan fokus mengajar terpecah. Seringnya, dinomorduakan jika waktunya bertabrakan dengan hal lain. 

Sebenarnya, dari sini terlihat jelas ada sebuah keresahan. Ada dilema yang tak pernah terucap dari lisan mulia mereka. Ingin totalitas dalam mengabdi, tapi realitanya menuntut mereka mencari penghasilan tambahan.

Stigma negatif guru ngaji

Sudah tak punya gaji tetap, beban moral berat, ditambah pula segelintir oknum guru ngaji yang mencoreng nama baik profesi ini. Bukannya bangga karena berprofesi mulia, jatuhnya malah jadi malu.

Kalau nggak percaya, coba saja kalian ketik “guru ngaji” di pencarian Google. Pasti yang muncul di deretan teratas pencarian adalah semua hal yang menjijikan. Guru ngaji mesum, cabul, selingkuh, sampai “guru ngaji hot”. Sungguh membuat malu.

Jujur, ini salah satu yang membuat saya enggan mengaku sebagai guru ngaji di luar lingkup pesantren. Bukan karena saya pelaku atau segelintir oknum tersebut. Hal itu lantaran saya malu dan merasa terpojok. Takut sekali dicurigai. Sungguh saya tak pernah melakukan itu, tapi tetap saja saya kebagian malu.

Dituntut sempurna, padahal cuma manusia biasa

Pandangan khalayak terhadap guru ngaji tak tanggung-tanggung. Di mata sebagian orang, mereka adalah orang suci. Hamba kesayangan Tuhan. Manusia sempurna, tanpa cacat, tanpa cela. 

Ekspektasi liar ini justru membuat kami menanggung beban dan tekanan besar. Gerak gerik mereka selalu disorot, hingga membuat langkah mereka terasa sempit. Salah ucap sedikit, langsung dicap salah. Mengambil keputusan pun penuh rasa takut. 

Bahkan, belum lama ini, seorang guru ngaji dipidana oleh wali murid dan didenda Rp25 juta hanya karena mendidik dengan cara yang dianggap “terlalu keras”. Sungguh nasib.

Banyak teman jaga jarak 

Kalau ini, pernah saya alami sendiri. Saya merasa terisolasi dari lingkar pertemanan. Jalinan pertemanan yang saya rasakan tak lagi sama dan natural setiap saya pulang dari pondok pesantren. Ada hal yang berbeda. Terutama pada kawan-kawan lama saya. 

Saat nongkrong, mereka menunjukkan gelagat tak leluasa. Bicaranya mendadak jadi santun. Tindak tanduknya mencerminkan kesahajaan yang tidak natural. Terlihat sangat dibuat-buat. Seolah takut bersikap bebas dan apa adanya. Entah karena ingin menghargai, atau karena khawatir saya akan menilai dan menghakimi.

Padahal, seharusnya biasa saja. Akibatnya, saya kehilangan kedekatan sosial yang dulu terasa hangat dan natural. Bagaimana? Malang bukan? Sudahlah tak punya pendapatan tetap, harus mencari profesi tambahan, belum lagi dituntut sempurna, dan tak jarang malah dicurigai.

Harapan kedepannya untuk profesi guru ngaji

Teruntuk pemerintah, tentunya saya berharap guru ngaji ini diberi perhatian khusus. Diberi hak selayaknya guru sekolah pada umumnya, misalnya. Atau, dukungan dana yang layak, dapat pelatihan, hingga perlindungan hukum.

Teruntuk masyarakat, kami adalah manusia biasa pada umumnya. Bisa benar, bisa salah. Mereka makan, minum, juga bersosial. Jadi, berhentilah menganggap mereka malaikat.

Juga untuk kalian, para segelintir oknum (yang termasuk dalam pencarian teratas Google), berhentilah melakukan hal bodoh dan memalukan. Beban kami sudah berat. Janganlah ditambah dengan perbuatan biadab kalian. 

Sekian, terima kasih.

Penulis: Ifana Dewi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Uneg-uneg dari Guru Ngaji Privat Anak, Kami Butuh Gaji Kami Cair

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2025 oleh

Tags: gaji guru ngajiguru ngajiguru ngaji cabulguru ngaji hotprofesi guru ngajistigma guru ngaji
Ifana Dewi

Ifana Dewi

Seorang hamba amatir yang sedang menekuni seni kehidupan. Satu-satunya hal yang ia kuasai dengan baik hanyalah cara menikmati secangkir kopi

ArtikelTerkait

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

6 November 2025
Guru Ngaji Cabul Bikin Hidup Sesama Guru Ngaji Menderita, Orang-orang Jadi Curiga dan Mem-bully dengan Panggilan "Walid" Mojok

Guru Ngaji Cabul Bikin Hidup Sesama Guru Ngaji Menderita, Orang-orang Jadi Curiga dan Mem-bully dengan Panggilan “Walid”

7 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit Mojok.co

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit

14 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan Mojok.co

Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan

19 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Wisata Wonosobo Enak Dinikmati, tapi Tidak untuk Ditinggali (Unsplashj)

5 Wisata Wonosobo Selain Dieng yang Tak Kalah Indah untuk Dinikmati, meski Nggak Enak untuk Ditinggali

14 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.