Kelakuan Politisi yang Berbusa-busa Saat Bicara tapi Ogah-ogahan Saat Disuruh Mendengar

Boleh saja kalau mau ada Penataran P4. Toh, Penataran P4 sangat penting bagi para politisi dan pejabat, agar mereka sadar bahwa mereka ini panutan.

Artikel

Aly Reza

“Pak Fadjroel, tolong (perhatikan) selagi saya bicara, Pak Ngabalin, tadi saya diam saat kalian semua bicara.” Gugat Presiden Jancukers—Sudjiwo Tedjo—membuka statement-nya dalam diskusi #ILCBPIP Selasa (18/02) malam.

Bagi para pengguna Twitter, barangkali sudah nggak asing dengan tweet Mbah Tedjo yang sering meyinggung soal politisi kita yang suka ngomong sendiri atau main HP sewaktu lawan bicaranya mendapat giliran berargumen. Bukan Presiden Jancukers namanya kalau nggak mengimplementasikan apa yang sudah dia ucapkan. Belum setengah menit Pak Karni Ilyas meminta Mbah Tedjo berbicara, eh Pak Fadjroel dan Pak Ngabalin sudah ketangkap mata asik ngobrol sendiri. Wajar saja kalau Mbah Tedjo memotong argumennya yang sebenarnya baru mukadimah itu. Lantas keluarlah kalimat maut di atas.

Pak Fadjroel dan Pak Ngabalin memang langsung menghentikan obrolannya dan kembali fokus menyimak Mbah Tedjo. Tapi bagaimana dengan politisi yang lain? Bahkan baru saja Mbah Tedjo menyentil dua petinggi tersebut, kamera TV One kok ya menyorot Aboe Bakar al-Habsyi menggeser-geser layar ponselnya dengan mimik meremehkan. Eh tapi, nggak tahu juga kalau wajahnya emang dari sononya begitu.

Tidak berhenti sampai di situ, Mbah Tedjo lagi-lagi harus menjeda kalimatnya saat mendapati Irma Suryani—politisi Nasdem—lebih fokus dengan ponselnya, alih-alih menyimak pandangan Mbah Tedjo mengenai eksistensi Pancasila. “Bu Irma saya lagi bicara, dan saya nggak buka HP pas Anda bicara. Saya akan berhenti (ngomong) sampai kalian semua berhenti (main HP).” Dengan raut wajah merengut Irma Suryani pun meletakkah ponselnya. Dari gestur tubuhnya sih kelihatan banget dia tersinggung dengan sentilan Mbah Tedjo itu. “Di dalam pertemuan yang sudah terjadwal, Sudjiwo Tedjo tidak pernah buka HP,” lanjut Mbah Tedjo kemudian. “Menurut saya inilah Pancasila. Inilah Pancasila yang nyata, ada orang ngomong, dengerin!” Skak mat.

Tapi seperti yang saya duga, sebagai seorang politisi yang juga seorang perempuan, tentu bagi Irma Suryani ucapan Mbah Tedjo terdengar sangat sensitif. Meski mungkin, mungkin loh ya, dalam lubuk terdalamnya nggak memungkiri bahwa apa yang dituturkan Mbah Tedjo ada benarnya. Terbukti dengan reflek Irma Suryani yang langsung memegang microphone dan berujar kalau Mbah Tedjo ini ngerasa paling benar.

Baca Juga:  Cara Doa yang Berbeda saat Acara Resmi Membuktikan Indahnya Keberagaman

“Saya paling bener? Ya terserah (menurut Anda). Tapi kalau saya paling bener, katakanlah tadi Mbak Irma ngomong saya nggak bakal merhatiin, karena saya udah paling bener.” Duuuarrr, tamparan yang cukup telak. Seandainya saya di posisi Irma Suryani, saya pasti akan salto saat itu juga saking malunya. Tapi kan memang politisi kita udah pada nggak punya urat malu, maka mustahil itu terjadi.

Menjadi sangat wagu memang ketika mendiskusikan Pancasila tapi Pancasila-nya saja nggak ada. Menurut Mbah Tedjo, aplikasi riil dari Pancasila misalnya adalah diam dan mendengarkan saat orang lain bicara. Dan itu tidak tercermin sama sekali dari perilaku para politisi dan petinggi negeri ini. Bagaimana bisa pemerintah merasa perlu mengedukasi masyarakat perihal ke-Pancasila-an, sementara contohnya saja nggak ada. Atau lebih tepatnya yang dicontoh (para politisi dan pejabat pemerintah) nggak memenuhi kriteria layak untuk ditiru.

Dengan begitu saya menyatakan diri sebagai orang yang sepakat seandainya Pak Mahfud MD merealisasikan wacana penghidupan kembali Penataran P4. Tapi, Pak, kalau saya boleh usul, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila tersebut sebaiknya ditujukan kepada para poltisi dan pejabat dulu saja, gimana? Sebab saya kira yang sangat perlu diedukasi itu mereka, Pak. Kalau mereka sudah bisa menghayati dan mengamalkan Pancasila dengan baik dan benar, percaya, deh, masyarakat dengan sendirinya akan teredukasi. Sebab mereka sudah melihat contoh riilnya. Penataran P4 sangat penting bagi para politisi dan pejabat, agar mereka sadar bahwa mereka ini panutan. Masa begitu saja harus Mbak Najwa Shihab yang mengingatkan? “Wakil rakyat juga harus memberi contoh pada rakyat, yaitu dengan mendengarkan,” begitu kata Mbak Nana.

Masalahnya, memang mental politisi dan pejabat kita itu mental banyak omong, tapi enggan untuk mendengarkan. Hal fundamental lain yang harus ditanggulangi untuk mengatasi fenomena tersebut katakanlah dengan mengubah beberapa istilah politis. Misalnya, kenapa Pak Fadjroel kelihatan berbusa-busa saat mendapat giliran ngomong, tapi ogah-ogahan kalau disuruh mendengarkan? Ya karena jabatannya sekarang adalah Juru Bicara Presiden RI. Maka pantes saja kalau dia lebih suka bicara. Harus ada penambahana kata menjadi, Juru Bicara dan Juru Dengar (JUBIR-JUDER), biar Pak Fadjroel nggak lupa bahwa selain bicara, tugas lainnya adalah mendengarkan.

Baca Juga:  Selain Belanja, Ternyata Shopee Bisa Melatih Hal-hal Baik pada Diri Saya

Padahal Tuhan secara satire sudah menyindir kita dengan diciptakannya satu mulut dan dua telinga. Artinya kita disuruh mendengar dua kali lebih banyak ketimbang bicara. Tapi bagaimanapun mendengar memang pekerjaan yang nggak mudah.

Terakhir, dalam diskusi semalam, topik yang dibahas adalah buntut dari pernyataan Kepala BPIP—Yudian Wahyudi—yang menuai banyak kontroversi. Dalam statement-nya dia menyebut kalau musuh terbesar Pancasila adalah agama. Ungkapan tersebut dinilai telah menciderai Pancasila, karena unsur agama tercantum dalam sila pertama. Sekarang pertanyaannya, Pancasila itu butir-butir teksnya atau subtansinya? Kalau subtansinya, maka menciderai Pancasila bukan ketika kita menyinggung kata atau teks dalam Pancasila. Menciderai Pancasila salah satunya adalah ketika kita sibuk ngomong atau main HP sendiri, sementara orang lain sedang bicara di hadapan kita.

Saya jadi membayangkan, ketika seorang tukang becak sedang asik dengan HP-nya sementara saat itu kawannya sesama tukang becak sedang bercerita perihal rumah tangganya. Lantas tukang becak yang kedua ini menegur, “Kamu ini mbok ya dengerin kalau ada temennya ngomong. Kalau masih nggak mau dengerin, udah sono saja jadi politisi, jangan jadi tukang becak.” Wqwqwq~

BACA JUGA Menyoal Kritik Sujiwo Tejo terhadap Para Menteri Laki-Laki atau tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
8


Komentar

Comments are closed.