Kekasih Gelap Bos Garuda yang Punya Rupa tapi Tidak Punya Adab

Rumus adab itu memang tidak serta-merta dikuasai semua orang yang terlahir (atau pun hasil oplas) dengan wajah cantik dan ganteng, berstatus sosial tinggi atau dari latar pendidikan yang hebat.

Featured

Mimi Hilzah

Baru saja saya mengemas 45 stoples kue yang besok akan menuju Papua sambil tersenyum-senyum mengingat sebaris kalimat yang saya baca di sebuah tautan tentang kekasih gelap bos Garuda yang sedang heboh di linimasa sebelumnya.

“Belum tahu siapa saya, ya? Nanti saya Papuakan…”

Kalimat itu dilontarkan si wanita muda seorang pramugari yang sedang viral karena dugaan oplas yang dibiayai oleh negara, sebagai semacam ancaman. Konon perempuan cantik ini sudah terlatih mengintimidasi bahkan bisa membuat orang lain yang dianggapnya tidak becus mengurusinya tiba-tiba kehilangan jabatan bahkan melorot posisi pekerjaannya ke dasar kekecewaan. Padahal, si mbak ini ternyata menyalahgunakan relasi kuasa atas nama kekasih gelap bos Garuda itu.

Aduh kok malah ngegosip…

Bicara soal Papua, saya selalu senang tiap kali ada pelanggan dari tanah Papua memesan kue. Pelanggan-pelanggan tangguh biasanya. Mereka tidak meributkan harga kue, dianggap murah bahkan. Bagaimana tidak, harga ongkir ke Papua justru lebih mahal dari harga kuenya. Mungkin juga karena harga produk yang beredar di sana cukup mahal, ditambah variasi produk yang memang langka.

Tapi saya mencatat beberapa nama yang mungkin tidak sekeren dan secantik si wanita yang suka memPapuakan orang tadi, tapi adabnya luar biasa. Sebutlah si Gadis dan si Nona, dua pelanggan pareto dapur kami sejak dapur ini didirikan. Mereka berdua tinggal di Papua, mencari nafkah di sana dan mencintai Papua sebagaimana mencintai tanah kelahiran mereka.

Kalau mereka mengirim pesan, selalu jelas apa yang ingin mereka pesan dan dengan cara yang sangat sopan. Dan tidak pernah ada tawar menawar harga. Terkadang malah urusan pengiriman ke Papua, mereka yang mengurus sendiri. Saya cukup mengemas dengan baik dan rapi. Mereka mengirim utusan datang mengambil pesanannya atau saya mengantarkan ke rumah kerabat mereka di Makassar.

Berikut urusan pembayaran. Seingat saya belum pernah saya sampai harus menagih padahal totalan kue mereka bisa sampai berjuta-juta. Setelahnya, mereka yang sibuk berterima kasih. Bahkan si Nona tak pernah lupa mengirimkan tip untuk asisten-asisten saya. Suatu ketika mbak Nona datang berkunjung di dapur kami, ia dengan sangat rendah hati mengucapkan terima kasih kepada asisten-asisten saya.

Baca Juga:  3 Alasan Kenapa Filter Truth or Dare dan Head Quiz di Instagram Story Diciptakan

“Terima kasih ya kalian sudah susah payah sampai lembur membuatkan kue pesanan saya. Pasti saya sangat merepotkan sebab pesanan saya paling banyak… Maafkan, ya…” Saya berikut asisten-asisten saya melongo dibuatnya.

Ini Kaka sebenarnya tra usah berterima kasih sampai minta maaf begitu, toh kami yang senang sekali kalau Kaka selalu ingat pesan kue di sini…

***

Saya menganalisa kata di-“Papuakan” itu sebagai sindiran yang tidak elok. Entah merujuk kepada orang Papua atau justru kepada tanah Papua. Kedua-duanya kok ya tetap tidak menyenangkan dimaknai apalagi kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman.

Kenapa harus Papua, mbak Put? Kenapa bukan Cina saja seperti yang suka dilakukan orang-orang dari kaum onoh… Kami toh sudah kenyang dianggap bukan bagian dari republik ini whatsoever ….

Saya penasaran, apakah sewaktu melamar menjadi seorang pramugari mbak ini tidak diberikan standar-standar tertentu dalam berucap maupun bersikap sebab beliau akan mewakili maskapai terhormat yang mana merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Negara? Kok bisa sekacau ini, ya?

Bahkan di dapur sederhana yang saya kelola saja ada aturan yang tidak tertulis bahwa para asisten akan saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain tidak peduli lebih muda atau lebih tua, dan tidak boleh menyinggung SARA. Saya masih bisa menolerir kekurangan semacam kekurangan dalam keahlian bekerja daripada harus berhubungan dengan orang yang kesulitan mengatur laku dan ucapannya.

Tapi ternyata rumus adab itu memang tidak serta-merta dikuasai semua orang yang terlahir (atau pun hasil oplas) dengan wajah cantik dan ganteng, berstatus sosial tinggi atau dari latar pendidikan yang hebat. Kalau mau buktinya, ya gampang. Kalian yang sering bergaul di media sosial di keseharian pasti bisa menemukan contohnya di antara daftar pertemanan kalian dan status-status yang hilir mudik di timeline.

Yang terjadi kini, kemampuan menggunakan adab tidak lagi didominasi mereka yang dalam pakaian dan atributnya dianggap mewakili kaum yang taat beribadah. Kemampuan menggunakan adab pun bukan dominasi kaum pribumi bahkan priyayi semata. Atau suku-suku tertentu.

Saya seorang Tionghoa yang justru mati-matian jatuh bangun belajar meneladankan adab dahulu sebelum ilmu, seperti yang diteladankan Rasulullah. Tapi kemudian mata sipit saya terbuka lebar, setelah berinteraksi dengan macam-macam tipe dan karakter pelanggan dari beragam latar belakang kehidupan dan keyakinan, hingga saya tiba pada kesimpulan bahwa kemampuan menggunakan adab ternyata ada di persoalan sederhana saja.

Baca Juga:  Guyonan World War III dan Rendahnya Empati Manusia

Mau atau tidak mau dan dianggap penting atau tidak penting.

Ada orang yang saking menganggap dirinya tinggi dan hebat, merasa sah saja berlaku buruk dan berucap sembarangan kepada mereka yang dianggap tidak setara. Ada orang yang terlalu mengagungkan garis keturunannya, status sosial yang dimilikinya, pekerjaannya, pasangannya, bahkan apa agama yang dianutnya, sampai-sampai ia lupa caranya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan manusia lain.

Padahal adab itu perkara mudah saja. Berkata baik, berpikir baik-baik dan berlaku sebaik-baiknya kita ingin diperlakukan.

Memiliki prinsip itu penting tapi jangan meringsek orang lain yang memegang prinsip yang berbeda.

Punya harta itu bagus, tapi jangan mendadak pongah berakting ala OKB (Orang Kaya Baru) dan semua orang dianggap sebagai sobat misqueen.

Punya wajah cantik atau tampan itu anugerah yang harus disyukuri, tapi jangan berlebihan mencintai diri sendiri. Semua orang akan menua dan renta pada akhirnya.

Taat beribadah dan menjalankan petunjuk agama dengan sangat disiplin itu memang hanya orang-orang istimewa yang mampu, tapi jangan juga jadi bablas mudah mengkafir-kafirkan orang-orang yang mungkin sedang jatuh bangun berusaha memantapkan keyakinannya dan memimpikan bisa hidup baik-baik. Mana tahu dia yang dianggap sesat dan jahil justru lebih dulu disimpankan tempat terbaik di surga oleh malaikat karena keseringan dizalimi.

Dan punya kekasih kaya raya serta punya kuasa, perempuan jomblo mana kira-kira yang tak ingin? Tapi mbokya usahakan sekuat-kuatnya jangan sampai suami orang.

Adab dahulu, mulia kemudian.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Suami yang Merindukan Istri Sempurna Serupa Bidadari atau tulisan Mimi Hilzah lainnya. Follow Facebook Mimi Hilzah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
106

Komentar

Comments are closed.