Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kediri yang Lupa Ingatan: Tingkat Kegemaran Membaca Rendah, padahal Sejarah Kediri Erat dengan Literasi

Moh. Ainu Rizqi oleh Moh. Ainu Rizqi
23 September 2024
A A
Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Cocok Hidup di Daerah Ini Mojok.co surabaya

Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Cocok Hidup di Daerah Ini (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Membicarakan Kediri memang tak ada habisnya. Bagaimana tidak, lha wong Kediri ini terkenal wingit, lho. Salah satu mitos yang terkenal sampai detik ini ialah para presiden tak ada yang berani untuk datang ke Kediri, sebab jika ke Kediri maka tak lama kemudian jabatan itu akan lepas dari pundak mereka. Tapi itu, ya, mitos.

Tulisan ini tidak hendak membahas mitos itu. Sungguh, bukan bidang saya. Dalam tulisan ini saya hendak mengingatkan Kediri—khususnya pada pejabatnya—bahwa rupanya hari ini Kediri lupa ingatan. Mengapa lupa ingatan? Begini…

Tingkat kegemaran membaca yang rendah

Indeks Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Kota Kediri terbaru menyatakan bahwa Kota Kediri menempati urutan ke-37 di Provinsi Jawa Timur. Sedangkan kita tahu, bahwa jumlah kabupaten/kota se-Jawa Timur berjumlah 38. Tahu kan artinya? Ya. Kota Kediri menempati urutan kedua dari bawah untuk Indeks Tingkat Kegemaran Membaca.

Lantas apa hubungannya dengan lupa ingatan?

Lupa ingatan berarti melupakan sejarah (atau bahkan tidak tahu?) bahwa Kediri memiliki peran penting dalam gelanggang literasi di Indonesia, bahkan sejak sebelum Indonesia ada, yaitu sejak zaman kerajaan.

Sejarah Kediri, mulai dari zaman kerajaan hingga zaman sebelum kemerdekaan erat kaitannya dengan gerakan literasi dan budaya baca-tulis. Selain itu Kediri juga melahirkan tokoh-tokoh yang memang sangat dekat dengan dunia literasi.

Kerajaan Kediri berdiri dengan pondasi kesusastraan yang kuat

Jika banyak kerajaan di Nusantara yang berdiri dengan bermandi darah, maka beda halnya dengan Kerajaan Kediri. Pada abad ke-11, Kerajaan Kediri berdiri dengan sederet karya sastranya yang dielu-elukan sebagai awal keemasan bagi kesusastraan Jawa Kuno.

Karya sastra dari Kerajaan Kediri diakui dengan mutu sastra yang tinggi dan adiluhung. Sebut saja Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dengan Kitab Bharatayudha-nya, Mpu Tanakung dengan Kitab Wertasancaya-nya yang berisi petunjuk cara pembuatan syair yang baik, atau kalau zaman sekarang bisa dikatakan bahwa Mpu Tanakung adalah role model kepenyairan Sastra Jawa kuno, dan sederet Mpu-Mpu lain yang namanya akan kalian temui di Mata Pelajaran sejarah.

Baca Juga:

Patung Macan Putih, Ikon Wisata Baru Kediri yang Menarik Wisatawan

Alasan Golden Theater Kediri Masih Bertahan dan Tetap Ada di Hati Masyarakat Kediri

Penerbit Tan Khoen Swie, penerbit ternama yang berdiri sebelum Balai Pustaka lahir

Bagi penggemar buku, tentu tidak asing dengan penerbit Balai Pustaka di Jakarta yang kerap dianggap penerbit buku legendaris di Indonesia. Penerbitan itu lahir tahun 1917 yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tapi 2 tahun sebelum itu, sudah ada, lho, penerbit beken yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya literasi di Hindia-Belanda (sebelum Indonesia).

Penerbit itu bernama Boekhandel Tan Khoen Swie yang terletak di Kota Kediri Jawa Timur. Ya, meskipun penerbit itu dibangun oleh orang Tionghoa yang besar di Indonesia, tetapi penerbit itu cukup sukses mencetak generasi pribumi yang dekat dengan literasi dan membentuk budaya baca-tulis di Indonesia.

Sebelum nama Tan Khoen Swie masyhur, budaya di Indonesia masih berupa budaya lisan. Setelah kehadiran Tan Khoen Swie, budaya itu mulai bergeser menjadi budaya baca-tulis.

Kita mengenal nama Ronggowarsito serta karya-karyanya hingga saat ini salah satunya karena jasa penerbit Tan Khoen Swie ini yang dulu menerbitkan buku-bukunya. Selain itu penerbit ini juga menerbitkan semacam modul atau panduan membaca untuk anak-anak yang ingin belajar membaca dengan judul “Kitab A.B.C dan Batjaan oentoek Anak-Anak. Jang Hendak Beladjar Membatja dan Menoelis Bahasa Melajoe Hoeroef Olanda” pada tahun 1929.

Akhir Perjalanan Tan Malaka

Siapa yang asing dengan nama Tan Malaka? Seorang kesepian yang memiliki gelar Bapak Republik itu memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi Indonesia. Tentu dari bukunya yang terkenal, seperti “Madilog”, “Dari Penjara ke Penjara”, dan satu karyanya yang membuatnya dijuluki Bapak Republik, yaitu “Naar de Republik” atau “Menuju Republik”.

Perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain cukup membuktikan bahwa sepak terjangnya tidak main-main. Namun siapa sangka, akhir perjalanan Tan Malaka rupanya di Kediri, di sebuah lereng Gunung Wilis, di sanalah ia beristirahat—lebih tepatnya dipaksa istirahat oleh tentara—untuk terakhir kalinya.

Musso, dedengkot PKI Madiun yang ternyata anak seorang kiai dari Kediri

Tragedi PKI 1948 di Madiun sampai detik ini masih dipelajari oleh anak-anak sekolah. Dalam buku pelajaran pun jelas, bahwa pimpinan gerakan itu adalah Munawar Musso. Dari pelajaran itu pula, guru sejarah acap kali menjelaskan bahwa PKI itu sesat dan anti-Tuhan.

Tapi tunggu dulu. Kediri setidaknya perlu sadar diri bahwa ia rupanya turut menyumbang tokoh (yang katanya) anti-Tuhan, kafir, dan tetek bengek lainnya. Ya. Musso adalah seseorang yang dilahirkan di Pagu, Kediri pada 1897. Beliau merupakan putra dari Kiai Hasan Muhyi, seorang pelarian pasukan Diponegoro yang kemudian membikin pondok Kapurejo di Kediri.

Musso sebenarnya memang bukan anak kandung Kiai Hasan Muhyi. Sebab diceritakan bahwa saat Kiai Hasan Muhyi menikahi seorang janda bernama Nyai Juru yang merupakan ibu dari Musso. Akan tetapi tak dapat disangkal, bahwa Kediri melahirkan tokoh yang cerdas sekaligus berbahaya sekaliber Munawar Musso ini.

Kediri menjadi ‘kawah candradimuka’ bagi Bung Karno

Saya tak bisa membayangkan, andaikan seorang bocah bernama Koesno itu tak pernah mengenal Raden Soemosewojo di Kediri. Bisa-bisa Indonesia tak Merdeka di tahun 1945. Tapi ini cuma pengandaian saya saja yang bisa jadi keliru.

Koesno yang kala itu masih bocah kerap sakit-sakitan membuat ayahnya berikhtiar keras hingga bertemu dengan Soemosewojo di Pojok, Kediri. Saat itu Koesno bisa sembuh dengan dua syarat, yaitu mengganti namanya dan menjadi anak angkat dari Soemosewojo.

Alhasil digantilah namanya menjadi Soekarno dan ia menjadi anak angkat dari Soemosewojo. Di Pojok itulah yang sekarang dikenal dengan Ndalem Pojok, Soekarno kecil hingga remaja menghabiskan sebagian waktunya. Bahkan di Ndalem Pojok itu pula, tepatnya di bawah pohon kepuh, Soekarno banyak merenung terkait merenungi tentang dasar negara, sebelum ia dibuang ke Ende.

Pramoedya Ananta Toer ternyata juga berdarah Kediri

Sungguh keterlaluan kita jika tak mengenal nama Pramoedya Ananta Toer. Seorang sastrawan yang mendunia dengan karya-karya fenomenal, serta kisah hidup yang sungguh menyesakkan dada.

Tapi siapa menduga, bahwa Pramoedya Ananta Toer memiliki darah asli dari Kediri. Bapak dari Pramoedya Ananta Toer, Raden Mastoer, merupakan anak dari Imam Bajuri yang merupakan seorang penghulu di wilayah Ngadiluwih, Kediri. Setelah dewasa barulah Raden Mastoer ini pindah ke Blora hingga akhir hayatnya di sana.

Jadi, lagi-lagi Kediri memiliki andil besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang menyejarah. Bahkan sejak zaman kerajaan, penerbitan, Tan Malaka, Musso, Soekarno, hingga Pramoedya Ananta Toer.

Dari semua hal yang saya sebutkan di atas, tak ada satu pun yang tak menyentuh dunia baca-tulis alias dunia literasi. Tapi kok hari ini nyatanya Tingkat Kegemaran Membaca saja menduduki peringkat kedua dari bawah. Sungguh saru sekali. Benar-benar lupa ingatan Kediri ini. Apa nggak malu sama sejarahnya sendiri? Peh, sulit.

Penulis: Moh. Ainu Rizqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2024 oleh

Tags: kediriLiterasimussoPramSoekarno
Moh. Ainu Rizqi

Moh. Ainu Rizqi

Guru honorer dari Kediri yang kadang membaca dan menulis. Sesekali juga filsuf untuk mengamalkan ilmunya setelah kuliah filsafat di Jogja.

ArtikelTerkait

5 Pahlawan Indonesia yang kalau Punya Instagram Pasti Followers-nya Banyak terminal mojok.co

5 Pahlawan Indonesia yang kalau Punya Instagram Pasti Followers-nya Banyak

2 Oktober 2020
6 Kuliner Kediri dengan Nama Unik yang Bisa Dijadikan Oleh-oleh Terminal Mojok

3 Rekomendasi Tempat Bersedih di Kediri, Kota Paling Bahagia di Indonesia

4 April 2023
3 Dosa Tempat Kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare Kediri yang Bikin Kecewa

Nggak Semua Orang Pare Ngerti Bahasa Inggris, Bro! Kau Pikir Semua Orang Pare Hidup di Kampung Inggris?!

5 September 2023
Sudah Saatnya Mie Gacoan Buka di Nganjuk supaya Warganya Nggak Usah Jauh-jauh ke Kediri Mojok.co

Sudah Saatnya Mie Gacoan Buka di Nganjuk supaya Warganya Nggak Usah Jauh-jauh ke Kediri

23 Januari 2024
Kasta Kereta Api Kediri-Semarang, KA Majapahit Masih Jadi Juaranya

Kasta Kereta Api Kediri-Semarang, KA Majapahit Masih Jadi Juaranya

4 September 2025
Cara Mengikhlaskan Buku yang Telah Dimaling Orang-orang Laknat mojok.co/terminal

Cara Mengikhlaskan Buku yang Telah Dimaling Orang-orang Laknat

9 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.