Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kedai Kopi Jogja: Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
22 Agustus 2020
A A
Realita Kedai Kopi Jogja Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan MOJOK.CO

Realita Kedai Kopi Jogja Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak ada hal yang lebih mengademkan hati saya selain minum kopi. Dalam seminggu saja, mungkin saya bisa 5 kali mampir ke coffee shop. Menikmati segelas kopi sambil mengamati dinamika perkopian. Termasuk dinamika budaya kopi yang unik satu sama lain, salh satunya persaingan blok utara vs selatan di kedai kopi Jogja.

Saya merasakan adanya perbedaan kultur. Perbedaan ini terasa ketika saya mampir di kedai kopi wilayah Jogja utara dan selatan. Saya melihat beda karakter, baik dari kedainya sampai pengunjungnya. Dan mau tidak mau, saya mengamini tulisan Mas Riyanto perihal outfit di coffeeshop.

Kedai kopi area utara menurut saya adalah yang berada di sekitar UGM, UKDW, dan kampus-kampus besar. Di sana, saya menemukan budaya kopi yang terkesan “kekinian”. Masuk ke dalam kedai saja sudah disajikan suasana minimalis modern. Permainan cat putih atau warna semen sering dipakai kedai kopi di utara. Tampilan kedai yang kalem ini didukung oleh barista yang berpenampilan kekinian. Pembicaraan yang berlangsung biasanya basa-basi identitas dan “Gimana kak rasa kopinya?”

Kedai kopi area selatan menurut saya adalah yang ada di area pusat kota Jogja dan sekitarnya. Saya merasakan suasana yang lebih kontemporer. Kedai yang ada sering terlihat sangat rumahan atau “sangat angkringan”. Barista di area selatan ini juga terlihat santai dalam berbusana. Pembicaraan yang terjadi lebih rusuh dan bebas. Dari sekadar basa-basi, sampai saling mengumpat yang terkesan baku hantam.

Lebih jauh lagi, sajian kopi di area utara sangat beragam. Satu jenis kopi susu saja, bisa punya banyak varian dengan tambahan sirup perisa. Sedangkan kopi di area selatan lebih sederhana. Kopi susu ya kopi susu. Cappuccino ya cappuccino. Jarang ada variasi rasa hazelnut, caramel, dan lain sebagainya. Dan satu lagi, Anda akan kesulitan mencari kopi gula aren ketika mampir ke kedai kopi area selatan

Perkara pengunjung, saya juga menemukan perbedaan. Dari segi penampilan, tulisan Mas Riyanto sangat relevan di kedai kopi utara. Pengunjung berbusana branded lumrah ditemukan sedang ngopi. Jarang saya menemukan muda-mudi berpenampilan demikian di kedai kopi selatan. Kebanyakan berpenampilan kasual santai. Sandal jepit tidak akan menjadi perhatian dan bahan pergunjingan.

Pengunjung kedai di utara cenderung sibuk dengan urusan sendiri. Banyak yang sibuk dengan laptopnya, entah menyelesaikan skripsi atau menambang bitcoin. Tata bahasanya pun lebih sering “lu gue”. Di selatan, pengunjung datang untuk bersosialisasi. Baik dengan kumpulan teman atau dengan barista sendiri. Cara berkomunikasinya juga lebih buas. Umpatan berbagai pakem mudah terdengar dari kumpulan ini.

Perlu saya ingatkan, ini adalah pengalaman pribadi. Bisa jadi, kedai kopi yang menurut saya gaya utara ditemukan di selatan. Begitu pula sebaliknya. Namun, saya pikir adanya “blok” kedai ini bukan sekadar penangkapan pribadi. Saya yakin, memang ada beda budaya yang nyata. Maka dari itu, saya memerlukan petuah dari orang yang berkecimpung langsung di dunia kopi.

Baca Juga:

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

Jangan Tergiur Bekerja di Cafe Perintis, Ini Kenyataan yang Jarang Terungkap

Blio adalah Akrom Dimyati. Mas Akrom ini adalah salah satu pelaku usaha kopi angkatan tua di Jogja. Pemilik kedai kopi di area Jogja selatan ini juga terkenal dengan ujaran yang pedas, baik ke sesama pemain kopi sampai pengunjung seperti saya. Dari blio ini, saya mengutarakan pendapat tentang adanya blok kopi ini.

Mas Akrom membenarkan adanya blok ini. Blio mengakui, memang ada beda budaya antara utara dan selatan Jogja. menurut blio, blok utara cenderung lebih “kekinian” dan mengikuti tren. Sedangkan, blok selatan cenderung lebih merakyat dan fleksibel. Jika disederhanakan, kedai blok utara itu “elitis”, sedangkan blok utara lebih “marginal”.

Beda karakter yang menimbulkan blok ini juga alami terjadi. Menurut Mas Akrom, perbedaan utama terletak pada pengunjung yang datang. Kedai blok utara berada di area kampus besar Jogja. Maka, pengunjung yang datang mayoritas adalah mahasiswa lintas budaya. Kedai yang diminati juga yang berkonsep kekinian, minimalis, dan eksklusif. Yang penting, indah untuk dipamerkan lewat Instastory.

Sedangkan, blok selatan berada di lingkungan penduduk asli Jogja. Pengunjung mayoritas adalah warga asli yang terbiasa dengan konsep angkringan serta warung koboi. Maka, tampilannya lebih klasik. Nuansa warung koboi dan angkringan masih kuat terasa di blok selatan.

Salah satu penyebab munculnya beda konsep adalah beda pendanaan. Menurut Mas Akrom, kedai di blok utara lebih banyak menggunakan dana dari investor. Sedangkan blok selatan lebih banyak menggunakan dana pribadi. Namun, ini hanya bicara “pada umumnya”. Masalah pendanaan tetap kembali pada pemilik.

Perbedaan ini juga pada tingkat manusia. Blok utara membangun image yang lebih kekinian. Sederhananya, image seperti isi film Filosofi Kopi. Image ini juga berpengaruh pada sikap-sikap yang muncul. Dari pembicaraan yang saya bilang basa-basi tadi, sampai sikap penyendiri yang terpisah dari sekitarnya. Blio merasakan, kesan jaim sangat lumrah di blok utara. Jaim ini berimbas pada outfit pengunjung dan barista yang mengikuti tren.

Image di blok selatan terkesan sangat “warung koboi”. Bercanda yang frontal adalah makanan rutin pelanggan blok selatan ini. Umpatan “bajingan”, “asu”, dan semacamnya lebih mudah ditemukan di blok selatan yang kaya pengunjung asli Jogja. Hal ini berimbas pula pada penampilan. Mengunjungi kedai kopi blok selatan memiliki kesan “mampir ngombe”. Kesan ini menyebabkan pengunjung lebih luwes dalam berbusana.

Efek beda blok ini juga berakhir pada masalah harga. Harga segelas kopi di blok utara lebih tinggi dari blok selatan. Sangat wajar, mengingat ada beda pengunjung mayoritas yang menjadi konsumen. Dan sekali lagi, beda harga ini juga “pada umumnya”.

Menurut Mas Akrom, garis imajiner muncul karena adanya blok ini. Jalan Jogja-Solo adalah garis pemisah blok utara dan selatan. Saya setuju dengan pendapat ini. Mengingat populasi mahasiswa terbesar memang ada di wilayah utara jalan.

Menurut Mas Akrom, perbedaan budaya kedai memang wajar. Namun bukan berarti adanya blok ini harus diamini dan menjadi sudut pandang bersama. Blio menyayangkan adanya blok ini harus memicu stigma kreativitas kedai dan barista. Padahal, kedai di wilayah utara bisa bereksperimen dan berkreasi tanpa melihat gaya kedai yang sudah umum di utara. Demikian pula kedai di selatan.

Dan sebagai penutup, Mas Akrom berpesan: beda konsep itu tidak masalah. Yang masalah adalah sikap pelaku usaha kedai kopi sendiri. Sikap yang egois dan terlalu memegang teguh idealisme yang melahirkan blok-blok. Padahal, setiap kedai berhak untuk berkembang dengan kreatif tanpa peduli dengan blok alami ini.

BACA JUGA Jadi Raja Mataram Itu Enak Ya, Mak? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2020 oleh

Tags: baristablok selatanblok utaracoffees shop jogjaKedai Kopi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Bau Kaki di Kedai Kopi, Akar Masalah Sosial Paling Serius

Bau Kaki di Kedai Kopi, Akar Masalah Sosial Paling Serius

20 September 2023
4 Hal Nggak Enaknya Jadi Barista Terminal Mojok

4 Hal Nggak Enaknya Jadi Barista

6 Januari 2022
Terkutuklah Pelanggan Coffee Shop yang Pesan Espresso, tapi Dituang ke Tumbler yang Sudah Berisi Es, Susu, bahkan Gula Aren!

Terkutuklah Pelanggan yang Pesan Espresso, tapi Dituang ke Tumbler yang Sudah Berisi Es, Susu, bahkan Gula Aren!

16 November 2023
Sorowajan, Daerah Langganan Ngopi dan Diskusi Ndakik-ndakik Mahasiswa UIN Jogja

Sorowajan, Daerah Langganan Ngopi dan Diskusi Ndakik-ndakik Mahasiswa UIN Jogja

17 April 2023
Hal yang Seharusnya Tidak Dilakukan Istri Ketika Suami Ngopi-ngopi terminal mojok.co

Kedai Kopi: Tongkrongan Bebas yang Bisa Bikin Orang Murtad

22 Agustus 2019
Membaca 6 Kepribadian Berdasarkan Minuman yang Dipesan di Kedai Kopi terminal mojok.co

4 Tipe Mahasiswa di Kedai Kopi yang Patut Dihujat

21 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.