Ada semacam paradoks yang saya rasakan tiap kali pulang ke Kebumen. Begitu turun dari bus atau kereta, badan langsung rileks. Udara masih enak dihirup, jalanan nggak semrawut, dan hidup terasa lebih manusiawi. Tapi, begitu ngobrol soal kerjaan, suasana langsung berubah jadi diskusi serius yang ujungnya sama, “ya udah, nanti balik lagi ke kota deh.”
Kebumen ini semacam kampung halaman yang bikin kangen, tapi juga bikin galau. Enak buat pulang, susah buat menetap kalau ngomongin isi dompet. Berikut enam alasan kenapa fenomena ini terus terjadi.
#1 Biaya hidup Kebumen yang masih bersahabat
Ini alasan paling gampang dirasakan. Sewa kos di Kebumen bisa cuma sepertiga harga kos di Jakarta atau Bandung. Makan warteg atau warung tegal versi lokal juga jauh lebih murah, apalagi kalau sudah kenal ibu warungnya dan sering dapat “harga teman”. Belum lagi kalau punya rumah sendiri atau numpang orang tua, pengeluaran bulanan bisa ditekan habis-habisan.
Masalahnya, biaya hidup murah ini nggak otomatis jadi solusi kalau penghasilannya juga ikut-ikutan murah. Jadinya semurah apa pun hidup di Kebumen, kalau dompet nggak terisi, tetap saja susah menabung buat masa depan.
#2 Suasana yang lebih tenang dan manusiawi
Nggak ada macet berjam-jam di Kebumen. Nggak ada juga budaya “buru-buru” yang bikin orang gampang tersulut emosi di jalan. Tetangga masih saling sapa, anak-anak masih bisa main di luar rumah sampai sore, dan ritme hidupnya jauh lebih santai dibanding kota-kota besar yang serba cepat.
Buat yang lelah sama tekanan hidup perkotaan, suasana macam ini jelas jadi nilai plus besar. Tapi ironisnya, ketenangan ini kadang berbanding lurus dengan minimnya peluang kerja yang menantang atau berkembang cepat. Kota yang tenang biasanya juga kota yang laju ekonominya nggak segesit kota besar.
#3 Alam yang bikin betah, dari pantai sampai pegunungan
Kebumen itu komplet. Ada pantai selatan dengan ombak yang lumayan garang buat yang suka surfing, ada geopark dengan formasi batuan purba, ada juga daerah pegunungan yang sejuk buat healing dadakan. Buat yang suka aktivitas outdoor atau sekadar pengen healing tanpa harus keluar kota, Kebumen menyediakan semuanya dengan jarak tempuh yang nggak jauh-jauh amat.
Sayangnya, potensi wisata ini belum sepenuhnya dikelola jadi mesin ekonomi yang bisa menyerap tenaga kerja secara masif. Banyak sektor pariwisata yang masih jalan apa adanya, belum digarap profesional, jadi belum bisa jadi andalan lapangan kerja buat penduduk lokal secara luas.
#4 Komunitas sosial yang masih kuat
Di Kebumen, gotong royong itu bukan sekadar jargon di buku pelajaran. Kalau ada hajatan, tetangga masih ramai-ramai bantu. Kalau ada musibah, biasanya nggak butuh waktu lama buat solidaritas warga terkumpul. Ikatan sosial semacam ini jadi jaring pengaman yang jarang ditemukan di kota besar, tempat orang cenderung individualis dan sibuk sama urusan masing-masing.
Akan tetapi, ikatan sosial yang erat ini juga kadang berarti sistem ekonomi yang masih tradisional dan belum terlalu terbuka sama inovasi bisnis baru. Buat yang punya ide usaha modern atau startup, pasar lokal Kebumen belum tentu siap menyerap karena daya beli dan pola pikir konsumen masih perlu waktu buat beradaptasi.
#5 Cocok untuk keluarga, tetapi anak muda sering mencari pengalaman di luar
Kebumen terasa cocok untuk kehidupan yang lebih tenang. Pulang kerja bisa langsung bertemu keluarga. Akhir pekan tidak harus dihabiskan di pusat perbelanjaan. Kalau bosan di rumah, pilihan hiburannya mungkin tidak sebanyak kota besar, tetapi setidaknya kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk keluar rumah.
Akan tetapi, anak muda biasanya punya kebutuhan yang berbeda. Mereka ingin mencoba pekerjaan baru, membangun relasi, mengikuti kegiatan profesional, mengembangkan kemampuan, dan mencari pengalaman. Kesempatan seperti itu lebih mudah ditemukan di kota-kota yang menjadi pusat pendidikan, bisnis, pemerintahan, atau industri.
Itu mengapa, tidak heran kalau setelah lulus sekolah atau kuliah, banyak anak muda Kebumen akhirnya pergi. Bukan karena rumahnya tidak nyaman, justru karena mereka ingin memiliki masa depan yang menurut mereka lebih memungkinkan di tempat lain.3
#6 Harga tanah dan properti Kebumen yang masih masuk akal
Buat yang bermimpi punya rumah sendiri, Kebumen masih jadi tempat yang realistis. Harga tanah belum segila di kota besar yang per meter perseginya bisa bikin nangis. Ini bikin banyak perantau yang akhirnya berpikir kerja di kota lain dulu buat kumpulkan modal, tapi rumah dan masa tua tetap direncanakan di Kebumen.
Masalahnya, rencana ini juga menegaskan pola yang sama: Kebumen jadi tempat “pulang dan menetap di masa tua”, bukan tempat “mencari nafkah di usia produktif”. Properti murah jadi daya tarik buat hidup, tapi bukan daya tarik buat karier.
Jadi kalau ditanya, apakah Kebumen layak ditinggali? Jawabannya jelas iya. Tenang, murah, alamnya lengkap, komunitasnya solid. Tapi, kalau ditanya apakah Kebumen menjanjikan buat kariernya, jawabannya masih perlu banyak pekerjaan rumah.
Sampai ada perbaikan signifikan di sektor lapangan kerja dan pengelolaan potensi ekonomi, Kebumen kemungkinan besar akan terus jadi tempat yang dicintai untuk pulang, tapi ditinggalkan untuk mencari penghidupan.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 7 hal yang hanya dipahami warlok Kebumen, orang luar pasti bingung.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
