Kaza Mall Surabaya mungkin keluar sebagai pemenang kalau ada perlombaan mal paling diremehkan di Surabaya. Itu mengapa mengajukan Kaza Mall sebagai tempat nongkrong atau jalan-jalan cuma akan mendatangkan ejekan “Ngapain nak kunu? koyok gak onok Mall liyo ae”.
Tidak seperti Tunjungan Plaza yang selalu jadi top tier mal di Surabaya dan selalu jadi rujukan utama teman-temanku ketika mengajak jalan ke mall.
Kaza Mall menemaniku dari semasa SMP hingga sekarang sudah hampir menginjak kepala tiga. Dari dulu ya begitu saja sebenarnya, tidak jelek-jelek amat tapi juga tidak punya alasan kuat untuk dibanggakan. Dibilang sepi seperti kuburan, rasanya juga nggak, karena kehidupan masih terpampang di sana.
Akan tetapi, beberapa kali aku mengamati sambil menikmati sate pinggir jalan seberang Kaza Mall, aku mulai merasa ada yang keliru dari cara kita menilai Kaza Mall. Kaza Mall memang bukan Tunjungan Plaza. Namun, sejak kapan standar mal keren itu dinilai dari seberapa mewah dibangun daripada fungsinya.
Kaza Mall Surabaya memang tidak istimewa
Kaza Mall memang bukan mal yang bisa membuat orang terkagum-kagum sejak pertama masuk. Ada perasaan asing menyelimuti mata. Beberapa bagian sudutnya terlihat kurang terawat, tenant yang tutup atau berganti dan suasananya di waktu tertentu memang terasa sunyi. Cocok untuk orang introvert yang ingin mencari ketenangan saat negara tiap hari bikin pusing.
Dibandingkan dengan Tunjungan Plaza, Royal Plaza atau Galaxy Mall yang punya deretan brand besar dan kesan high class, Kaza Mall jelas kalah telak. Seperti motor supra bapak disandingkan mobil mewah para artis. Kaza Mall bukan tandingannya, karena memang bukan mal premium. Fasilitas dan pilihan tenan di Kaza Mall juga tidak selalu bisa memenuhi ekspektasi orang yang terbiasa mengunjungi mal kelas atas.
Akan tetapi, mengakui kekurangan Kaza Mall bukan berarti kita harus sepihak menyimpulkan bahwa mal ini jelek atau gagal. Mungkin sejak awal dibangun, Kaza Mall tidak dipaksa untuk menjadi seperti itu.
Tidak menjual kemewahan, tapi kenangan
Perihal interior, brand hingga fasilitas mewah, Kaza Mall akan selalu keok. Tapi, yang perlu diingat, Kaza Mall ini tipikal punya karakter dan pengunjungnya sendiri. Letaknya di kawasan Kapas Krampung yang padat penduduk, akan selalu jadi unggulan. Orang datang ke sana tidak selalu mencari pengalaman belanja mewah.
Ada yang sekadar ingin menonton bioskop terjangkau seperti Movimax, melihat event cosplay, menikmati makanan atau seperti diriku yang dulu sering ke sana, sekadar menonton pertandingan tamiya. Di kawasan bawah Kaza Mall juga terdapat aktivitas perdagangan dan pasar, selalu ramai dari pagi buta hingga malam menyapa. Karakter inilah yang membuatnya terasa lebih membumi.
Kaza Mall mungkin tidak menawarkan pengalaman “jalan-jalan ke mal” seperti yang dicari orang pada umumnya. Karena itu rasanya kurang adil jika keberadaan Kaza Mall dinilai dari seberapa banyak brand besar tersemat di dalamnya. Sebab, fungsi yang tumbuh lebih bermakna bagi setiap ingatan orang-orang yang kesana.
Mal tidak harus mewah untuk menjadi berarti
Mungkin yang perlu dipertanyakan sekarang bukan lagi kenapa Kaza Mall tidak seramai Tunjungan Plaza atau mal besar lainnya. Namun, kenapa sebuah mal harus ramai, mewah, penuh deretan brand ternama dan instagramable agar dianggap layak. Semacam standar tidak tertulis, padahal kebutuhan orang bisa saja sangat berbeda.
Bukankah, fungsi sebuah ruang seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang ingin upload story di mal, tetapi juga dari seberapa banyak kehidupan dan kenangan yang berlangsung di dalamnya? Apalagi saat Lebaran tiba, aku pernah benar-benar terharu karena Kaza Mall ramainya bukan main, banyak orang mencari baju lebaran dengan hati yang gembira.
Pada akhirnya, kita terlalu terbiasa menganggap ruang yang biasa-biasa saja sebagai ruang yang tidak berharga, cukup ironi. Kaza Mall mungkin tidak akan memenangkan kontes mal paling mewah di Surabaya. Namun, kalau ukuran sebuah tempat bukan sekadar kemewahan, melainkan seberapa jauh ia menjadi bagian dari kehidupan orang-orang di sekitarnya, mungkin Kaza Mall tidak seburuk yang selama ini kita kira.
Penulis: Aditya Ikhsan Pradipta
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














