Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Hewani

Kasus Pencurian Tanaman dan Ikan Hias Marak, Mending Perbanyak Sendiri daripada Mencuri

Handri Setiadi oleh Handri Setiadi
29 Januari 2021
A A
Kasus Pencurian Tanaman dan Ikan Hias Marak, Mending Perbanyak Sendiri daripada Mencuri
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini sedang ramai sekali kabar tentang kasus pencurian. Hal tersebut dibuktikan dengan apa yang telah saya baca di sebuah koran harian Jawa Barat. Masalahnya, kabar yang terbit tidak hanya tentang satu macam pencurian saja. Namun, dua macam pencurian sekaligus, Hyung.

Kasus pencurian yang terjadi bukanlah tentang sesuatu yang cukup besar. Bukan pula tentang pelakor yang selalu hangat untuk dibicarakan. Melainkan, mengenai hal-hal remeh-temeh seperti mencuri tanaman dan ikan hias.

Serius, deh. Sekadar tanaman dan ikan hias yang bahkan tidak pernah terbayangkan buat dicuri. Namun, hal ini ramai diperbincangkan, sampai-sampai masuk surat kabar harian. Yah, mungkin saja, efek pandemi hobi ini benar-benar membuat orang nekat melakukan tindak kejahatan satu ini.

Sebenarnya daripada mencuri tanaman atau ikan hias, jelas-jelas mengembangbiakkan sendiri itu lebih aman dan menyenangkan, lho. Tentu bisa menjadi solusi dari jahatnya perilaku mencuri. Hanya saja butuh sedikit bumbu kesabaran. Tapi, mau gimana lagi? Mata manusia-manusia ini telah silau oleh kepraktisan dari hasil mencuri.

Hmmm, jadi, tanaman dan ikan seperti apa yang mengharuskan manusia mengotori tangannya sendiri dengan tindakan mencuri yang jelas-jelas dilarang hukum dan agama? Walaupun cuma tanaman atau ikan hias, tetap saja hal tersebut tidak didapat hanya dengan mengadi-adi.

Kasus pencurian tanaman hias Aglonema

Dari jenis tanaman sendiri, korbannya bernama tanaman hias Aglonema, atau yang lebih dikenal dengan tanaman Sri Rejeki. Bagi kita, penghuni Asia, cenderung lebih suka kepada warna daunnya yang lebih cerah. Seperti kombinasi daun berwarna hijau, corak putih-putih dengan tambahan merah muda di tengah yang menggaris. Entah kenapa, tanaman ini imut sekali ketika kita tengok.

Dari tahun lalu hingga sekarang, penjualan tanaman hias yang telah lama ada di Indonesia itu meningkat pesat. Harga satuannya dibanderol mulai dari Rp50 ribu hingga puluhan juta. Makanya, tidak heran para pencuri tergiur dengan tanaman tersebut yang nganggur di luar rumah. Akibatnya, warga di Kabupaten Pangandaran jadi jengkel gara-gara pot-pot mereka mendadak kosong. Puluhan Aglonema lupa disimpan di dalam rumah, maka raiblah sudah~

Solusi ketimbang mencuri Aglonema

Sebenarnya membudidayakan atau memperbanyak tanaman ini pun terbilang cukup mudah. Dilansir dari Pupuklahan, cukup siapkan tanaman induk dan media tanam yang cocok. Proses lahiran tanaman ini bisa dilakukan dengan dua cara mudah. Pertama, pisahkan anakan (yang ada di sebelah tanaman induk) dengan induknya, lantas beri tempat tersendiri. Kedua, lakukan stek batang. Kalau butuh cara-cara detailnya, bisa dicari di Mbah Google, ya.

Baca Juga:

Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah

Maaf Polisi, Kami Lebih Percaya Lapor “Orang Pintar” kalau Kemalingan

Jikalau masih tetap mengeluh, “Gimana nih, kan tetap harus ada tanaman induknya.” Weleh weleh, gini, ya… Kita sebagai manusia diberi akal yang didominasi kebaikan. Saya yakin ketimbang mencuri, sebelumnya pasti sudah ada cara-cara dalam pikiran kita yang sebenarnya halal. Tinggal kitanya saja mau atau tidak~

Seperti tetangga saya kemarin. Daripada mencuri, blio lebih memilih meminta indukan tanaman untuk kemudian ia perbanyak sendiri. Hal tersebut lebih patut, walaupun minta-minta, ketimbang mencuri. Setidaknya, blio mengeluarkan usaha dengan niat dan keringat positif.

Kasus pencurian ikan hias cupang

Selain tanaman hias, yang tidak kalah menggegerkan adalah kasus pencurian ikan hias. Ikan laga yang sering membuat kagum mata. Ya, korban tersebut mempunyai nama lain ikan cupang.

Penggarongan ikan cupang ini sebenarnya sudah jadi tren sejak saya kecil, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Namun, karena saat ini zamannya media online, maka kabar pencurian tentangnya bisa diakses secara bebas, lantas viral.

Sama halnya dengan Aglonema, ikan cupang pun akhir-akhir ini sedang jadi artis ikan yang sedang naik daun. Terbukti dari harga (beberapa jenis ikannya) yang benar-benar melonjak, ramainya pencurian yang terlansir di media masa, dan penggarongan yang berkaitan dengan cupang pada surat kabar harian di daerah Bandung ini.

Sebenarnya, penggarong cupang (di koran) ini tidak secara langsung mengambil ikan pada penjual. Lebih buruk, ia malah merampas terlebih dahulu motor Satria FU milik orang lain dengan berbekal kunci motor palsu. Dikabarkan, blio mengaku bahwa motor tersebut akan dijual untuk membeli ikan cupang yang telah diidamkan. Haduh. Tepok jidat.

Solusi ketimbang mencuri cupang

Lagi-lagi daripada mengandalkan “si panjang tangan”, membudidayakan hewan satu ini terbilang lebih mengasyikkan dan menantang. Walaupun saya sendiri (saat mencobanya) kandas pada tahun lalu. Memang, menurut saya, cukup sulit untuk memperbanyak hewan ini. Mungkin karena faktor lingkungan dan motivasi yang kurang.

Akan tetapi, melihat kawan-kawan yang memilih dan berusaha untuk membudidayakan cupang dengan sungguh-sungguh ketimbang mencurinya, hal tersebut benar-benar harus diapresiasi.

Entah nanti hasil memperbanyak Aglonema dan cupang itu gagal atau berhasil. Lebih penting lagi, tangan mereka tidak kotor dari perilaku mencuri yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga pihak yang mereka curi.

BACA JUGA Bocoran 5 Tanaman Hias Paling Banyak Diburu Belakangan Ini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: ikan cupangpencuriantanaman hias
Handri Setiadi

Handri Setiadi

Kadang guru, kadang suka baca buku, anggap saja teman baikmu.

ArtikelTerkait

Taman Kota di Bandung Nggak Butuh Tanaman Hias Banyak-banyak

Taman Kota di Bandung Nggak Butuh Tanaman Hias Banyak-banyak

7 Februari 2023
Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

12 Agustus 2023
anak preman high&low crows zero gangster mojok

Privilese dan Ironi yang Saya Dapat sebagai Anak Preman

11 Januari 2021
Pengalaman Kebobolan Saldo Jenius, Pelakunya Laknat bin Licik Banget terminal mojok.co

Pengalaman Kebobolan Saldo Jenius, Pelakunya Laknat bin Licik

4 Oktober 2020
Kantin Kejujuran, Tempat Paling Nikmat bagi Orang Brengsek Beraksi dan Bikin Rugi

Kantin Kejujuran, Tempat Paling Nikmat bagi Orang Brengsek Beraksi dan Bikin Rugi

14 September 2023
pencurian musim maling pandemi wabah corona cerita mistis hantu horor mojok

Kisah Mistis Para Maling yang Pernah Dijumpai Peronda

7 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.