Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kartu Nama: Apakah Simbol Bangsawan Ini Masih Berguna?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
9 Desember 2022
A A
Kartu Nama Apakah Simbol Bangsawan Ini Masih Berguna Terminal Mojok

Kartu Nama Apakah Simbol Bangsawan Ini Masih Berguna (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jika Anda pernah bertukar kartu nama, kemungkinan ada dua: Anda seorang eksekutif dari perusahaan legendaris atau Anda sudah tua. Pada masanya, kartu nama tidak hanya mempermudah komunikasi, tapi juga jadi simbol prestise seseorang. Namun kini, ia tak lebih dari sekadar cerita dan sampah kertas. Maka tak ada salahnya jika kita bertanya, apakah kartu ini masih berguna?

Mari sedikit berkenalan dengan benda satu ini. Pertama kali muncul pada abad ke-17, kartu ini adalah simbol aristrokat. Ia digunakan sebagai tanda seorang bangsawan pernah datang ke sebuah kota atau rumah. Maklum, dulu belum ada percetakan yang murah, sedangkan seni tulis kaligrafi juga mahal. Makanya sebuah kartu nama menjadi sangat berharga.

Kartu satu ini bahkan pernah jadi simbol etika bertamu. Setelah bisa diakses kelas menengah, para perempuan biasa meninggalkan kartu nama di rak khusus sebuah rumah. Tujuannya sebagai alat perkenalan yang sopan, serta untuk menilai pribadi si tamu tadi. Biasanya kartu ini dibuat manual dengan seni kaligrafi.

Ketika mesin cetak lebih murah dan produktif, kartu nama makin luas dikenal. Selembar kertas yang biasanya cukup tebal ini menjadi alat promosi. Biasanya pedagang, terutama pedagang hal ndakik-ndakik seperti obat ajaib, akan memberikan kartu namanya. Dengan hadirnya telepon, kartu ini ikut berevolusi menjadi apa yang kita kenal.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal: apakah kartu nama masih berguna? Maka kita perlu melihatnya dari dua sisi. Dari fungsi praktis dan simbolis. Karena kartu satu ini, seperti banyak hal lain, punya fungsi di luar pemakaian.

Kalau bicara fungsi praktis, saya yakin Anda sepakat jika ia sudah tidak berguna. Semenjak alat komunikasi menjadi benda murah, kartu ini kehilangan perannya. Dengan hadirnya gawai seperti smartphone, untuk apa masih memakai kartu nama?

Fungsi praktis kartu satu ini adalah mempermudah berbagi informasi, mulai dari nama, gelar, alamat, sampai nomor telepon. Apalagi jika urusannya bisnis, Anda bisa menyimpan kartu nama seseorang dan menghubunginya lain waktu tanpa takut lupa. Maka kartu ini tidak hanya jadi alat berbagi, tapi penyimpanan informasi.

Tapi, bagaimana dengan kondisi sekarang? Butuh menyimpan nomor telepon dan alamat? Tinggal pakai gawai. Bahkan tanpa harus mencatat karena Anda bisa berbagi data digital. Bahkan gawai tidak hanya menyimpan alamat, tapi juga sampai petunjuk arah. Kartu nama jelas tidak berguna melawan kemajuan teknologi yang sekarang lumrah ini.

Baca Juga:

Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh karena Sering Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah”

5 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Saya Jadi Karyawan MR DIY

Meski begitu ia masih dipakai beberapa bisnis seperti toko. Biasanya ia akan dipajang di etalase, sehingga konsumen bisa menghubungi mereka di lain waktu. Tapi sekali lagi, fungsi ini tidak benar-benar diperhitungkan, kecuali Anda sedang sial ketika gawai Anda ketinggalan atau mati.

Sekarang bicara fungsi kedua, sebagai simbol. Kartu nama menjadi simbol profesional dan prestise. Berbagi ia dianggap lebih elegan daripada bertanya, “Pak, nomor hp njenengan berapa?” Bukankah lebih berkelas jika Anda menerima kartu nama seseorang? Terutama bagi eksekutif gaek yang—maaf—gagap teknologi. Kartu satu ini masih jadi alat berbagi informasi, sekaligus menunjukkan kelas sosial.

Bahkan ia beradaptasi dengan teknologi. Seringkali kartu satu ini mencantumkan QR code yang menyimpan nomor atau informasi lain. Jadi, meskipun terkesan jadul, kartu ini (berusaha) tetap relevan di masa kini.

Tapi namanya perkembangan teknologi, kartu nama konvensional ikut dilibas. Kini orang bisa saja berbagi kartu nama digital yang fungsinya tidak lebih dari keren-kerenan. Lha wong disimpan di gawai juga, ngapain harus berupa gambar digital? Lebih ringkas berbagi informasi langsung yang bisa langsung diakses seperti ID atau nomor telepon.

Kini tergantung Anda bagaimana memandang kartu nama. Jika Anda melihat dari fungsinya, jelas sudah tidak berguna. Kalau dilihat dari fungsi simbolis, ya agak kurang berfungsi juga. Ia menjadi berharga ketika orang yang berbagi sama-sama memandang penting benda itu.

Yah, kartu nama kini lebih mirip karya seni daripada alat berbagi. Menyimpan kartu ini hampir mirip kolektor prangko dan kartu pos. Sudah tidak relevan, tapi masih dipelihara sekelompok orang.

Tapi kalau melihat realita, masih banyak jasa cetak kartu nama. Kalau Anda tanya pegawai percetakan, masih saja ada yang mencetaknya. Jadi boleh dibilang kartu ini tidak kehilangan perannya dalam hidup manusia, kan?

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Punya Nama Lengkap Hanya Satu Kata Ternyata Merepotkan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2022 oleh

Tags: kartu namaKaryawannamaperusahaan
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

5 Pekerjaan Sampingan Karyawan yang Bisa Dikerjakan dari Kasur, Modalnya Receh tapi Hasilnya Bikin Senyum

5 Pekerjaan Sampingan Karyawan yang Bisa Dikerjakan dari Kasur, Modalnya Receh tapi Hasilnya Bikin Senyum

8 November 2025
Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker Mojok.co

Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker

8 Oktober 2025
resign

Bagi Para Karyawan, Semua Akan Resign Pada Waktunya

19 Juni 2019
5 Penderitaan Karyawan Toko Sepatu dan Baju (Unsplash)

5 Penderitaan Karyawan Toko Sepatu dan Baju

29 November 2022
Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit Mojok.co

Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit

21 Januari 2025

Mixed Feeling HRD Saat Mengetahui Ada Karyawan yang Ajukan Resign

2 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.