Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kebijakan Pembayaran Kantin UM Wajib Cashless Tidak Ramah Mahasiswa Kabupaten dan Penyandang Cashless Literal

Ahmad Fahrizal Ilham oleh Ahmad Fahrizal Ilham
1 Februari 2024
A A
Kebijakan Pembayaran Kantin UM Wajib Cashless Tidak Ramah Mahasiswa Kabupaten dan Penyandang Cashless Literal

Kebijakan Pembayaran Kantin UM Wajib Cashless Tidak Ramah Mahasiswa Kabupaten dan Penyandang Cashless Literal (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kebijakan pembayaran di kantin UM yang wajib cashless ini benar-benar tidak ramah mahasiswa kabupaten. Kemajuan tanpa kebijakan, buat apa? Malang nggak cuma kota doang lho

Sebagai maba pada umumnya, saya sering merasa heran dengan suasana perantauan. Banyak hal yang amat berbeda dengan tempat asal saya. Seperti istilah baru, tempat baru, juga kebiasaan baru. Salah satu yang bikin saya benar-benar terkejut adalah kebiasaan cashless orang kota.

Tentu saya terheran-heran dengan kebiasaan transaksi tersebut. Hanya tinggal scan QR code yang disediakan sama penjual, tiba-tiba seluruh tagihan jadi lunas seketika. Keren! Bocah kabupaten ini betulan terpukau dengan atraksi manusia-manusia modern.

Namun yang mengejutkan, terhitung dari 29 Januari lalu, kampus saya, UM, secara sepihak membuat kebijakan untuk seluruh kantin UM wajib melakukan transaksi cashless. Wah, ini

Sayangnya, saya bukan tim cashless

Sebetulnya, saya sendiri bingung apakah sudah cukup layak melabeli diri sebagai seorang perantau atau tidak. Melihat jarak dari rumah saya ke kampus “cuma” 20-30 kilo. Itu pun masih sama-sama Malang juga. Hanya bedanya, rumah saya di bagian kabupatennya.

Dan mau bagaimanapun, mau semaju apa pun peradaban di Kota Malang, akhirnya saya tetap pulangnya ya ke kabupaten juga. Dan di kabupaten, betul, seperti yang Anda tebak, cashless bukanlah norma yang umum. Tentu saja, kebijakan cashless kantin UM tersebut jadi masalah yang lumayan pelik bagi saya. Wong di kehidupan saya sehari-hari nggak pake jasa QRIS kok. Jadi ya, saya bukan tim cashless.

Saya seringnya sih cashless secara literal alias ra ndue duit.

Lagipula Bank Indonesia mencetak uang kertas ini bukan untuk dibuang-buang atau tidak digunakan dengan baik dong, harusnya. Jadi kenapa harus khawatir, ya kan?

Baca Juga:

Kota Malang Mirip Bandung: Sama-Sama Adem dan Sejuk, tapi Lebih Rapi dan Terawat

Yamaha Lexi Adalah Motor yang Terlalu Santai tapi Sebenarnya Tegas, Paling Cocok Dipakai oleh Orang Kota Malang

Kebijakan seluruh kantin UM wajib cashless, nasibku piye pak rektor?

Saya sendiri jujur nggak nyangka kalau pihak rektorat lumayan kejam kepada kami-kami ini, penduduk kabupaten yang masih tidak biasa bertransaksi cashless secara optimal.

Jangan langsung di-ulti begini dong, Pak Rektor. Saya sendiri sebenarnya tak bermasalah dengan kebijakan kantin UM ini. Bisa banget mah saya beralih ke cashless. Masalahnya adalah, kebijakannya nggak langsung diterapkan full gitu dong. Tetap kasih ruang untuk uang tunai, mengingat sebenarnya perkara kepraktisan, cashless atau tidak mah nggak jauh beda.

Saya heran, kenapa keputusan ini diterapkan secara mendadak. Saya juga belum mengerti apa kegentingan yang mendasari lahirnya keputusan tersebut. Terasa terlalu terburu-buru. Tidak ada sosialisasi jauh-jauh hari, saya juga tidak merasa ada penarikan aspirasi, terlalu banyak tanda tanya.

Aturan ini terkesan hanya ingin ikut-ikutan kampus-kampus gede serupa bergelar PTN-BH tanpa memperhatikan aspek kesiapan warga UM secara menyeluruh. Yang lain kantinnya cashless, kantin UM ikut-ikutan. Lha kalau memang nggak urgent, buat apa coba?

Oke, mari berhusnuzan kalau niatnya baik, tapi apakah tujuan mulianya akan bisa tercapai kalau aturannya disahkan dengan cepat-cepat? Bukannya bakal bikin banyak pihak keteteran dan belum beradaptasi, ya?

Apalagi, kalau dilihat lebih jauh, kebijakan kantin UM cashless ini kemudian memberikan dampak nyata, yaitu mulai naiknya harga-harga di kantin meskipun secara nominal tidak cukup signifikan.

Kebijakan kantin UM memang tidak ramah kaum cashless literal

Cukup disayangkan, kantin kampus yang dulunya muncul sebagai pahlawan bagi mahasiswa miskin dan rela memasang harga murah, kini beragam menu makanan yang dijual harus ditebus dengan harga yang setara dengan warung-warung di luar sana. Atau bahkan—yang menyedihkan—malah bisa jadi lebih tinggi.

Saya kasihan tiap-tiap tahu ada ibu-ibu kantin UM yang terpaksa menjalankan aturan ini dengan berat hati. Mereka tahu betul, target pasarnya tidak bersedia dan bisa menerima regulasi baru ini begitu saja.

Mungkin jika dilihat, perbedaan harga akibat kebijakan ini hanya dalam rentang 1000-3000 rupiah saja dibandingkan sebelumnya. Tapi mohon diingat, wabil husus bagi pemangku kebijakan, kalau UM ini M-nya Malang. Kota yang kalau kita neduh pas hujan di lahan kosong aja ada biaya parkirnya. Selisih harga segitu, sudah jauh lebih dari cukup untuk membungkam mulut-mulut para tukang parkir zalim di luar sana.

Belum lagi kondisi perekonomian mahasiswa yang juga berbeda-beda. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada satu-dua mahasiswa yang akan keberatan jika harga-harga mulai naik. Jadi tolong lah, jangan sampai kenaikan harga ini dinormalisasi.

Penjelasan singkat 

Posisi saya di sini clear, saya bukan menolak atau menentang secara penuh. Jangan juga karena tulisan ini saya dituding bahwa menolak perubahan yang baik.

Apakah ada kemungkinan kalau kebijakan kantin UM cashless ini akan berdampak baik? Bisa jadi. Tapi sejauh pengamatan saya, masih banyak pihak yang keberatan dan belum siap jika harus sampai pembayaran cashless ini diwajibkan.

Alangkah lebih baik apabila kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan semua suara dari seluruh elemen yang ada di kampus. Sehingga, perasaan saling memiliki jadi bisa tumbuh dengan lebih baik.

Tidak hanya satu-dua pihak dari kantin yang menjerit karena kebijakan yang memaksa secara mendadak ini. Pajak 15% yang dikenakan juga dinilai cukup besar jika diambil dari pendapatan mereka yang bisa dibilang tidak seberapa. Mengingat pelanggan utamanya adalah mahasiswa kalangan menengah ke bawah. Atau sebetulnya dari kalangan menengah, yang jadi terpaksa jadi turun sedikit ke bawah karena makin mahalnya biaya kuliah.

Di sini, saya hanya mengkritisi bahwa tidak semua mahasiswa siap dan mampu menyesuaikan diri dengan kebijakan ini. Perlu adanya masa transisi, uji coba, atau apapun lah istilahnya. Karena selain diskriminatif, kebijakan ini juga berpeluang merugikan beberapa pihak termasuk mahasiswa yang hanya mampu untuk melangsungkan semua transaksi secara tunai saja.

Sosialisasinya mana?

Mungkin, akan jauh lebih pas, apabila pihak kampus memberikan penjelasan tentang mengapa kebijakan kantin UM cashless ini diambil dan tidak ujug-ujug berubah begitu saja. Namanya juga universitas, tetap harus memberikan ruang diskusi yang kritis untuk mahasiswanya, ya kan?

Selain itu, sosialisasi secara meluas juga akan menjadi kunci penting atas kesuksesan dari sebuah kebijakan. Mungkin bisa jadi bahan evaluasi nih, untuk pihak kampus, siapa tahu ada yang iseng dan nggak sengaja membaca tulisan ini, yaa bisa dipikir-pikir ulang untuk kebijakannya.

Semoga, apa pun nanti keputusannya, tetap bisa menguntungkan seluruh pihak di UM. Kalaupun tidak, harapannya—dari sudut pandang mahasiswa—harga-harga makanan di kantin tidak sampai naik lagi, ya. Cukup UKT yang membebani kami sekeluarga, biaya makan jangan.

Penulis: Ahmad Fahrizal Ilham
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Keluh Kesah Mahasiswa UM terhadap Trotoar Kota Malang: Trotoar kalau Nggak Rusak, ya Jadi Tempat Jualan, Pejalan Kaki Nasibnya Gimana, Bolo?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2024 oleh

Tags: cashlesskantinkebijakan kampusMalangUM
Ahmad Fahrizal Ilham

Ahmad Fahrizal Ilham

Berasal dari Malang, dengan ketertarikan mendalam pada narasi kemanusiaan. Ia meyakini bahwa cerita terbaik sering kali tidak ditulis, melainkan dirasakan dari detak jantung pemiliknya

ArtikelTerkait

5 Alasan yang Membuat Saya Nggak Menyesal Kuliah di Malang  Mojok.co wisata di malang surabaya

Malang Memang “Surga” bagi Warga Surabaya, tapi Jangan Kaget dengan Lalu Lintasnya

2 Desember 2024
Menghitung Pendapatan Tukang Parkir di Malang, Jauh Melebihi UMR Malang, Gaji Pekerja Kantoran Jadi Sepele!

Tukang Parkir di Malang Gajinya Bisa Sampai 9 Juta, Pekerja Kantoran Keliatan Sepele!

25 Mei 2025
Destinasi Wisata di Jember yang Sebaiknya Jangan Dikunjungi Saat Bulan Suro Mojok.co malang

Nyatanya, Jember Itu Lebih Menenangkan, Hidup di Sini Jauh Lebih Masuk Akal ketimbang Tinggal di Malang

14 Agustus 2025
5 Rekomendasi Makanan di Kantin Budaya UI Terminal Mojok

5 Rekomendasi Makanan di Kantin Budaya UI

6 September 2022
4 Pertanyaan yang Sebaiknya Nggak Ditanyakan kepada Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) karena Bikin Emosi alumni UM

Jadi Alumni UM Itu Enak: Kebanggaannya Tanpa Beban, Biasa Saja, dan Sak Madyane  

12 Juni 2025
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang

4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang

29 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.